Pameran “Setanah, Tak Diam: Merawat dan Membentuk Masa Depan di Tanah Bergerak” di SSAS, Bandung

Pameran
Animasi audio-visual kebencanaan, diiringi suara gemuruh yang membuat bumi terasa bergetar seolah dilanda gempa. (Foto: Asep GP)

MajmusSunda News – Bandung, Senin (7/9/2026) – Setanah, Tak Diam adalah pameran publik seni dan sains yang mengeksplorasi bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan lanskap dinamis yang dibentuk oleh gempa bumi, gunung berapi, dan berbagai kekuatan alam lainnya. Pameran ini didasarkan pada penelitian ilmiah dari dua proyek utama. Proyek pertama merupakan kolaborasi antara British Geological Survey, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Teknologi Bandung (ITB), University of Leeds, dan Resilience Development Initiative (RDI), yang didanai oleh International Science Partnership Fund (ISPF) dari British Council serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Kemitraan kedua melibatkan ITB, Kyoto University, dan Institute of Himalayan Risk Reduction (IHRR), yang didanai oleh Toyota Foundation. Pameran ini terbuka untuk umum mulai 28 Agustus hingga 31 Oktober 2026 di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS).

Pameran
Rumah panggung anti gempa, warisan leluhur yang kini tinggal cerita. (Foto: Asep GP)

Pameran ini memadukan sains kebencanaan, seni, dan pengalaman warga untuk menerjemahkan kompleksitas potensi risiko geologi di Kawasan Metropolitan Bandung, termasuk ancaman Sesar Lembang dan gunung api aktif di sekitarnya—menjadi ruang dialog publik yang imersif dan inklusif.

Pameran ini juga tidak bertujuan menyebarkan ketakutan kepada masyarakat. Tapi “Setanah, Tak Diam” mengajak masyarakat memandang pengetahuan sains sebagai landasan penting bagi budaya kesiapsiagaan.

Pameran
(Foto: Asep GP)

Dalam pembukaan hadir sejumlah tokoh, di antaranya Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey, Country Director British Council Indonesia Summer Xia, Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, Plt. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN Dr. Luki Subehi, serta perwakilan Kemendiktisaintek RI Prof. I Ketut Adnyana, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si., Dr. Rahma Hanifa (BRIN), Dr. Ekbal Hussain (British Geological Survey), Summer Xia (Country Director of British Council Indonesia and Director South East Asia), Dr. Prananda Luffiansyah Malasan (ITB dan Kurator di Selasar Sunaryo), seniman, budayawan, pelajar, mahasiswa, dan publik Bandung.

Pameran ini mengeksplorasi hubungan antara manusia, pengetahuan, dan lanskap yang terus berubah dalam konteks kebencanaan, sekaligus mengajak publik melihat bagaimana masyarakat memahami, merespons, dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dari masa ke masa.

Pameran
Mendengarkan cerita masyarakat tentang bencana (Foto: Asep GP)

Setanah, Tak Diam juga menjadi ruang diseminasi bagi hasil penelitian Seismic Synergy: Learning from Traditional Wisdom to Build a Resilient Future, sebuah proyek riset internasional yang didukung oleh Toyota Foundation. Penelitian ini mempertemukan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), The University of Tokyo, Kyoto University, NED University of Engineering and Technology (Pakistan), dan Institute of Himalayan Risk Reduction (Nepal), bersama berbagai mitra penelitian, termasuk BRIN, British Geological Survey (BGS), dan Resilience Development Initiative (RDI).

Dengan dukungan program International Science Partnership Fund (ISPF) dari British Council, penelitian tersebut mengeksplorasi dampak kebencanaan sekaligus mendokumentasikan dan mengkaji pengetahuan konstruksi tradisional di kawasan rawan gempa sebagai sumber pembelajaran untuk membangun masa depan yang lebih tangguh.

Pameran
Pembicara saat briefing sebelum press tour: [dari kiri ke kanan] Dr. Rahma Hanifa (BRIN), Dr. Ekbal Hussain (British Geological Survey), Summer Xia (Country Director British Council Indonesia sekaligus Director South East Asia), dan Dr. Prananda Luffiansyah Malasan (ITB, kurator di Selasar Sunaryo). (Foto: Asep GP)

Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space. Berangkat dari penelitian tersebut, Setanah, Tak Diam mempertemukan sains, seni, budaya, dan pengalaman masyarakat dalam sebuah pengalaman publik yang mengajak pengunjung memahami perubahan lingkungan, risiko kebencanaan, kondisi danau dan bentang alam, serta hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Pengetahuan yang berasal dari penelitian dan pengalaman lapangan diterjemahkan melalui berbagai bentuk narasi dan pengalaman visual, sehingga dapat diakses dan dipahami melalui pendekatan yang lebih dekat dengan publik.

(Foto: Asep GP)

Dalam mewujudkan pengalaman kunjungan tersebut, Setanah, Tak Diam turut berkolaborasi dengan Matra sebagai konsultan & perancang pameran, serta turut didukung oleh Arafura Media Design, sebuah studio desain multimedia, untuk mengembangkan pengalaman pameran yang lebih mendalam dan imersif. Kolaborasi ini memperluas cara pengetahuan penelitian diterjemahkan dan dihadirkan kepada pengunjung, tidak hanya melalui objek dan informasi, tetapi juga melalui pengalaman ruang dan berbagai bentuk interaksi.

Inisiatif Setanah, Tak Diam juga tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran. Rangkaian program publik berupa lokakarya dan diskusi turut dihadirkan sebagai kanal diseminasi pengetahuan yang mempertemukan peneliti, praktisi, dan masyarakat. Melalui program-program tersebut, temuan penelitian dan pengetahuan mengenai kondisi lingkungan diterjemahkan ke dalam medium dan percakapan yang lebih dekat dengan keseharian publik, sekaligus membuka ruang untuk bertukar pengalaman, memperluas pemahaman, dan membayangkan cara-cara baru dalam merawat serta membentuk masa depan di tengah lanskap yang terus bergerak. Demikian disampaikan panitia.

Pameran
Dubes Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey. (Foto: Asep GP)

Duta Besar Inggris, Dominic Jermey, saat pembukaan di Amphitheater, terlihat sangat mengapresiasi pameran seni-sains yang menerjemahkan hasil penelitian geosains yang kompleks mengenai Sesar Lembang, menjadi pengalaman publik yang menarik dan imersif.

“Pameran ‘Setanah, Tak Diam’ mengingatkan kita bahwa riset menjadi sangat berdaya guna ketika berhasil membantu warga memahami lingkungan di sekitarnya dan mengambil keputusan yang lebih baik demi masa depan,” kata Domonic.

Pameran
Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara. (Foto: Asep GP)

Pameran ini juga, menurut Summer Xia dari British Council, membuktikan bahwa sains, seni, dan suara komunitas dapat bertemu untuk mengubah data akademis menjadi dialog dan aksi nyata.

Sementara itu, Kadisparbud Jabar, Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si., mengatakan pada awak media, sangat setuju dengan sosialisasi kebencanaan melalui seni seperti ini, smooth, elegan—tidak menakut-nakuti. Dengan cara seperti ini, kita juga bisa lebih bisa memahami, mudah diserap, dibanding dengan membaca informasi.

Pameran
Kadisparbud Jabar Iendra Sofyan: “Urang Jabar harus hidup harmonis dengan alam.” (Foto: Asep GP)

“Jadi hal seperti ini harus diinformasikan betul kepada masyarakat, jangan dibohongi, tapi tidak mengagetkan, caranya harus dengan metode yang tepat, dengan cara-cara seni ini akan lebih pas, lebih smooth, lebih mudah dipahami, dan akhirnya masyarakat akan lebih siap dengan cara-cara seperti ini,” tandasnya.

Dia juga berpesan terkait Jawa Barat yang memang berada di zona merah, segala potensi bencana ada, mulai dari gempa, banjir, longsor, tsunami, dsb.

Kolaborasi Dunia untuk Menanggulangi Bencana (Foto: Asep GP)

“Oleh karenanya, intinya Jabar harus hidup harmonis dengan bencana. Bukan kita membiarkan, tapi hidup harmonis itu harus baik-baik, ramah dengan alam, sekaligus memelihara dan menjaganya. Mengurangi dan meminimalisir bencana walau kita sudah ditakdirkan hidup di zona merah. Tapi kita coba untuk mengurangi itu dengan mencoba hidup dengan alam secara harmonis,” demikian kata Iendra.

Sampai berita ini diturunkan, Lampung, Jakarta, Banten, hingga Bengkulu serta sebagian kecil daerah Jawa Barat sudah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang dimuntahkan hari Sabtu (5/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026). Termasuk Kota Bandung, dan Bandara Husein Sastranegara pun sempat ditutup sementara mulai Pk. 12.07 WIB hingga Pk. 16.00 WIB, pada Minggu (6/9/2026), karena disinyalir debu halus sudah sampai ke sana.

Judul: Pameran “Setanah, Tak Diam: Merawat dan Membentuk Masa Depan di Tanah Bergerak” di SSAS, Bandung
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *