MajmusSunda News, Sabtu (11/07/2026) – Artikel berjudul “Pagi, Aku tak Berarti?” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Wahai pagi, mengapa aku merasa tak berarti?
“Karena kau mengukur arti dari seberapa banyak dunia berubah oleh tanganmu. Kau mengira hidup baru layak disebut bermakna bila luka-luka yang kau pahami berhasil kau sembuhkan. Ketika kenyataan tetap membatu, kau pun mengira dirimu gagal.
Padahal tidak semua kebekuan kenyataan adalah cermin ketidakberdayaanmu. Ada luka yang telah mengendap begitu lama sehingga bertahan bukan karena tak seorang pun mengenali sakitnya, melainkan karena manusia masih mencari jalan untuk mengobatinya. Kau mungkin telah melihat pangkal deritanya, tetapi mengetahui akar persoalan belum berarti memiliki kuasa untuk menyelesaikannya seorang diri.
Karena itu, arti bukan diukur dari seberapa banyak dunia berubah oleh tanganmu, melainkan dari keteguhanmu untuk tidak membiarkan kebenaran ikut tenggelam bersama keputusasaan. Sebab tak semua cahaya ditakdirkan menjadi matahari; ada yang cukup menjadi fajar—datang lebih dulu, tampak lemah, namun diam-diam menyiapkan langit agar akhirnya sanggup menerima terang.”
***
Judul: Pagi, Aku tak Berarti?
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












