Optimisnya Dirut PT Pupuk Indonesia

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (18/09/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Optimisnya Dirut PT Pupuk Indonesia” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Dalam salah satu kesempatan, Dirut PT Pupuk Indonesia sempat menyatakan rasa optimis atas semakin banyaknya kaum muda yang berkiprah di dunia pertanian dalam arti luas. Ya, pernyataan tersebut benar, terutama dalam konteks pergeseran minat baru yang dipicu oleh teknologi dan program pemberdayaan pertanian modern.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, secara konsisten menekankan optimisme terhadap keterlibatan generasi muda. Kehadiran anak-anak muda ini terlihat jelas dalam berbagai ajang penghargaan sektor pangan nasional. Sebagai contoh, pada ajang Svarna Bhumi Award 2026, para finalis pahlawan pangan nasional didominasi oleh anak muda yang berani memilih jalur karier di dunia pertanian.

Berikut adalah fakta mengenai kondisi keterlibatan generasi muda di dunia pertanian saat ini:
1. Pertanian Berbasis Digital (“Mainan” Anak Muda). Dahulu, anak muda enggan bertani karena dianggap kotor dan tidak menjanjikan secara finansial. Namun, kehadiran teknologi pertanian modern mengubah pandangan tersebut. Penggunaan drone untuk penyemprotan pupuk, sensor tanah berbasis IoT, serta pemasaran digital bertindak sebagai daya tarik utama bagi generasi milenial dan Gen Z.

2. Kesejahteraan yang Terjamin melalui Program Khusus. Pupuk Indonesia secara aktif menjalankan Program Makmur dan ajang seperti Jambore Makmur. Program ini memberikan jaminan pendanaan, asuransi, hingga kepastian pembeli hasil panen (offtaker). Melalui skema terintegrasi ini, produktivitas pertanian meningkat 13–18% dan pendapatan petani naik hingga lebih dari 30%. Kesejahteraan yang meningkat ini sukses menarik minat banyak petani muda baru untuk bergabung.

3. Dukungan Masif dari Pemerintah. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian juga membuka pendaftaran Program Petani Milenial secara masif. Ribuan anak muda difasilitasi dengan pelatihan manajemen agrobisnis modern agar pertanian tidak lagi dipandang sebagai kerja fisik yang berat, melainkan sektor industri yang strategis dan menguntungkan.

Meskipun tantangan regenerasi petani secara nasional masih cukup besar, optimisme dari pihak regulator maupun BUMN didasarkan pada pergeseran nyata di lapangan: pertanian kini mulai dikuasai oleh anak muda yang membawa inovasi dan digitalisasi.

Yang jadi persoalan berikutnya adalah bagaimana dengan nasib kaum muda yang besar dan dibesarkan dalam keluarga petani gurem dan buruh tani ?Nasib kaum muda dari keluarga petani gurem (petani dengan lahan kurang dari 0,5 hektar) dan buruh tani (pekerja tani tanpa lahan) saat ini berada di persimpangan jalan yang penuh tantangan sekaligus peluang baru.

Di satu sisi, mereka menghadapi keterbatasan ekonomi keluarga yang berat. Namun di sisi lain, intervensi teknologi dan program pemerintah mulai membuka jalan keluar agar mereka tidak terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama.

Berikut adalah potret nasib dan realitas yang dihadapi kaum muda dari kelompok ini:
1. Urbanisasi dan Alih Profesi. (Meninggalkan Sektor Pertanian). Bagi banyak anak muda dari keluarga buruh tani, upah harian orang tua mereka yang sangat rendah membuat sektor ini terlihat tidak menjanjikan. Akibatnya, mayoritas memilih untuk merantau ke kota besar guna bekerja di sektor informal, manufaktur, atau menjadi pekerja kerah biru lainnya. Langkah ini diambil demi memutus rantai kemiskinan keluarga secara cepat.

2. Hambatan Adopsi Teknologi Modern. Meskipun teknologi seperti drone atau mekanisasi pertanian sedang tren, kaum muda dari keluarga gurem dan buruh tani sering kali kesulitan mengaksesnya secara mandiri. Mereka terkendala modal untuk membeli alat modern dan tidak memiliki lahan sendiri untuk menerapkan ilmu pertanian digital tersebut.

3. Peluang Lewat “Korporatisasi Petani” dan Kelompok Tani. Untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan, pemerintah dan BUMN (termasuk melalui Program Makmur Pupuk Indonesia) mendorong konsep konsolidasi lahan. Melalui kelompok tani atau koperasi , anak muda dari keluarga petani gurem dapat menggabungkan lahan kecil mereka agar bisa dikelola secara skala industri.Mereka bisa mendapatkan akses modal, pupuk bersubsidi, dan teknologi yang sebelumnya mustahil dijangkau secara individu.

4. Peluang Kerja Baru sebagai Tenaga Ahli (Operator Teknologi). Modernisasi pertanian membuka profesi baru yang tidak membutuhkan kepemilikan lahan luas. Kaum muda dari keluarga buruh tani kini mulai dilatih menjadi operator transplanter (mesin penanam padi), pilot drone penyemprot pupuk, atau teknisi mesin pemanen (combine harvester). Dengan keahlian ini, status mereka bergeser dari buruh kasar menjadi tenaga kerja ahli dengan penghasilan yang jauh lebih baik.

5. Akses Beasiswa dan Pelatihan Khusus. Kementerian Pertanian kini memprioritaskan anak kandung petani dan buruh tani untuk mendapatkan beasiswa penuh di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan). Tujuannya adalah mencetak mereka menjadi agripreneur (pengusaha pertanian) baru, sehingga saat lulus mereka tidak lagi menjadi buruh, melainkan motor penggerak pertanian di daerahnya.

Secara keseluruhan, nasib mereka sangat bergantung pada seberapa cepat dan meratanya akses bantuan serta pelatihan mendarat di desa-desa terpencil. Tanpa intervensi yang kuat, mereka berisiko tinggi meninggalkan desa dan memicu krisis tenaga kerja pertanian di masa depan

Lalu apa solusi cerdadnya ?Semangat sinergi dan kolaborasi adalah kunci utama (atau missing link) yang menentukan apakah kaum muda dari keluarga petani gurem dan buruh tani bisa naik kelas atau justru tersisih. Tanpa kolaborasi lintas sektor, modernisasi pertanian hanya akan dinikmati oleh korporasi besar atau petani bermodal kuat.

Saat ini, model kolaborasi di Indonesia bergeser dari sekadar bantuan sosial menjadi kemitraan produktif yang melibatkan konsep Hexa-Helix (pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, media, dan lembaga keuangan).

Berikut adalah implementasi nyata dari semangat sinergi dan kolaborasi tersebut di lapangan:
1. Sinergi Hulu-Hilir (Model Pembiayaan dan Kepastian Pasar) Petani gurem sering kali terjebak utang tengkulak karena kesulitan modal. Melalui kolaborasi, hambatan ini mulai dipangkas:

BUMN dan Perbankan (KUR Tani). Bank menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah, sementara BUMN seperti Pupuk Indonesia menjamin pasokan pupuk dan pendampingan agronomi melalui Program Makmur.Perusahaan Swasta/Startup (Offtaker): Startup agritech (seperti TaniHub, Eden Farm, atau Sayurbox) berperan sebagai pembeli siaga. Mereka memotong rantai pasok panjang, sehingga hasil panen petani gurem dibeli dengan harga adil langsung di lahan.

2. Konsolidasi Lahan Lewat Korporatisasi Petani. Sinergi ini dilakukan untuk mengatasi masalah lahan sempit (<0,5 hektar). Pemerintah memfasilitasi pembentukan Koperasi Pertanian Modern. Lahan-lahan milik ratusan petani gurem digabungkan secara pengelolaan (tanpa mengubah status kepemilikan tanah).Dengan lahan gabungan yang luas, mereka memiliki daya tawar tinggi, bisa mengajukan bantuan mesin skala besar, dan mengelola pertanian layaknya sebuah perusahaan korporasi.

3. Kolaborasi Teknologi. Menghubungkan Pemilik Modal dan Buruh Tani Muda. Kaum muda dari keluarga buruh tani tidak punya lahan, tetapi mereka punya tenaga dan kecepatan belajar. Kolaborasi modern mewadahi hal ini. Penyedia teknologi. Perusahaan swasta atau dinas pertanian menyediakan alat mekanisasi (seperti drone atau mesin pemanen). Pemuda Desa: Dilatih menjadi operator tersertifikasi. Mereka kemudian dibayar oleh kelompok tani atau koperasi untuk menggarap lahan terintegrasi. Ini menciptakan lapangan kerja baru berbasis jasa teknologi di perdesaan.

4. Akademisi dan Komunitas (Transfer Pengetahuan). Dosen dan mahasiswa dari kampus pertanian (seperti IPB, Polbangtan, atau Universitas lokal) masuk ke desa-desa melalui program pengabdian masyarakat atau Merdeka Belajar. Mereka berkolaborasi dengan pemuda setempat untuk mengajukan riset tanah, mengajari teknik hidroponik, hingga pembuatan pupuk organik mandiri untuk menekan biaya produksi petani gurem.

Akhirnya penting disampaikan, membangun sinergi ini tidak mudah. Tantangan terbesarnya adalah membangun kepercayaan (trust) di tingkat akar rumput dan menurunkan ego sektoral antarlembaga. Jika kolaborasi ini berjalan konsisten, kaum muda dari keluarga petani gurem tidak perlu lagi urbanisasi ke kota untuk mencari kesejahteraan.

Inilah “pe-er” penting untuk Dirut PT Pupuk Indonesia ke depan. Bicaralah dengan kaum muda dari keluarga petani gurem dan buruh tani. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Optimisnya Dirut PT Pupuk Indonesia
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *