“Nyungseb”

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (07/06/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Nyungseb”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

“Nyungseb” dalam bahasa Sunda artinya ‘menyelam, membenamkan diri, atau masuk ke dalam sesuatu sampai tertutup’. Contoh pemakaian kalimatnya:
1. Fisik : Barudak nyungseb ka walungan = Anak-anak menyelam ke sungai.
2. Kiasan : Anjeunna nyungseb kana pagawean = Dia membenamkan diri/larut dalam pekerjaan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Jadi intinya ada nuansa “masuk penuh” dan “tenggelam di dalamnya”, bukan cuma sekadar masuk sebentar.
*Nyungseb* itu kata dari bahasa Jawa. Artinya secara harfiah “terjun bebas” atau “jatuh terperosok ke bawah”.

Dalam konteks politik di Indonesia, *nyungseb* dipake buat nyebut situasi ketika:
1. Kalah telak / gagal total. Biasanya digunakan kalau politisi, partai, atau calon gagal dalam pemilu, pilkada, atau perebutan posisi. Lebih kasar dan dramatis daripada sekadar “kalah”.
Contoh: “Dulu dia jumawa, pas pemilu nyungseb cuma dapet 2% suara.”

2. Kehilangan muka / dipermalukan.
Bukan cuma kalah, tapi caranya memalukan. Bisa karena skandal, blunder, atau dijegal sekutu sendiri.
Contoh: “Rencana koalisinya bocor duluan, jadi nyungseb di depan publik.”

3. Turun drastis posisinya. Dari yang tadinya dianggap kuat, tiba-tiba anjlok popularitas dan pengaruhnya. Kesan katanya emang ngejek dan dramatis. Media dan orang politik sering pake buat bikin narasi “jatuhnya tokoh besar” biar lebih nendang.

“Nyungseb” dalam politik biasanya berarti jatuh, gagal, atau kehilangan pengaruh secara tiba-tiba. Alasannya jarang cuma satu, tapi biasanya gabungan beberapa hal ini:

1. Kehilangan legitimasi di mata konstituen. Politisi hidup dari kepercayaan publik. Sekali ketahuan bohong, ingkar janji, atau ketangkap korupsi, modal kepercayaan itu runtuh. Di era medsos, 1 video lama bisa ngebongkar kontradiksi yang bikin basis pemilih pindah haluan.

2. Salah baca perubahan zaman.
Politik itu tentang aliansi dan narasi. Politisi yang nyungseb sering gagal lihat pergeseran nilai publik: isu yang dulu laku sekarang basi, kelompok yang dulu diam sekarang bersuara. Contoh klasik: ngotot pakai gaya kampanye lama pas pemilih udah pindah ke TikTok/YouTube.

3. Kalah dalam perebutan elit. Di atas panggung ada publik, di belakang layar ada perebutan dana, mesin partai, dan dukungan oligarki. Kalau seseorang kehilangan sponsor, kehilangan akses ke ketua partai, atau disikut sesama elit, politisi bisa dikubur secara sistematis meski populer di bawah.

4. Overconfidence & skandal pribadi.
Merasa kebal hukum atau kebal kritik bikin lengah. Skandal pribadi – perselingkuhan, gaya hidup hedon, ucapan kasar – yang dulu bisa ditutup media mainstream, sekarang langsung viral. Sekali citra “merakyat” rusak, susah membalikannya.

5. Salah kalkulasi koalisi. Politik itu matematika kekuasaan. Gabung koalisi yang salah, belot di waktu yang salah, atau tidak punya tawar menawar yang kuat bikin dirinya jadi korban kompromi. Banyak politisi yang tadinya kuat tiba-tiba hilang kursi karena “ditumbalkan” buat jaga stabilitas koalisi besar.

6. Gagal mengelola ekspektasi. Janji terlalu tinggi saat kampanye, realita di pemerintahan nggak nyampe. Ketika ekspektasi vs realita terlalu jauh, publik tidak peduli alasannya. Mereka cuma lihat: “politisi gagal ngasih apa yang dijanjikan.”

Yang pasti, politik itu brutal karena menggabungkan moralitas publik dengan kekuasaan privat. Nyungseb biasanya terjadi pas politisi kuat di satu sisi tapi rapuh di sisi lain.

Secara bahasa “nyungseb” cuma artinya jatuh. Tapi kalau ditarik ke ranah filosofi, terutama dari kacamata Jawa dan pemikiran politik, maknanya jadi lebih dalam. Jadi “nyungseb” dalam politik itu bukan cuma kekalahan. Dia jadi cermin: buat ngukur seberapa besar ego, seberapa kuat fondasi, dan seberapa siap orang itu buat hidup tanpa kekuasaan.

Berikut ini disampaikan 3 nilai filosofis yang biasanya nyangkut di kata “nyungseb”:
1. Konsep “Wayahé Mundur dan Siklus Kekuasaan”. Filosofi Jawa ngeliat hidup itu siklus, bukan garis lurus naik terus. Ada munggah naik, dan ada mudhun turun. “Nyungseb” itu penanda bahwa wayahé mundhur sudah tiba. Kekuasaan nggak permanen. Orang yang nyungseb dipaksa ngerti batas dirinya.
Nilai filosofisnya kerendahan hati. Kalau seseorang tidak mau turun dengan terhormat, hidup yang bakal nurunin dirinya dengan cara nyungseb.

2. Kritik terhadap “Aja Dumeh”.
“Aja dumeh” artinya jangan sok, jangan merasa paling kuat, paling benar, paling aman. Dalam politik, orang yang nyungseb biasanya karena terjebak dumeh seperti dumeh punya kuasa, dumeh punya massa, dumeh kebal kritik. Jadi “nyungseb” berfungsi sebagai *mekanisme koreksi sosial*. Dia jadi cerita peringatan buat yang lain biar nggak kebablasan. Ada unsur keadilan imanen di situ.

3. Ujian Laku dan Eling. Dalam tradisi kejawen, jatuh itu bukan akhir. Dia ujian buat ngukur laku, perilaku, dan eling kesadaran diri. Orang yang abis nyungseb tapi masih eling biasanya bangkit dengan cara yang beda. Yang tidak eling, bakal nyungseb lagi.
Nilai filosofisnya: “jatuh itu guru paling jujur”. Dia nyopot topeng, status, dan pujian palsu. Yang ketinggalan cuma diri nya yang asli.

Semoga jadi bahan permenungan bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: “Nyungseb”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *