“Nyingcet”

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (12/09/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Nyingcet”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Secara umum, “nyingcet” dalam bahasa Sunda dapat berarti “menghindar” atau “menjauhkan diri”. Namun, arti kata ini dapat berbeda-beda tergantung pada konteks dan situasi. Dalam banyak kasus, “nyingcet” digunakan untuk menggambarkan tindakan seseorang yang menghindari atau menjauhkan diri dari sesuatu atau seseorang.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Dalam konteks kehidupan politik, “nyingcet” dalam bahasa Sunda dapat berarti “menghindar” atau “mengelak” dari tanggung jawab, pertanyaan, atau isu yang sensitif. Dalam hal ini, seseorang yang “nyingcet” mungkin berusaha untuk menghindari konfrontasi atau pertanyaan yang tidak diinginkan, atau menghindari untuk memberikan jawaban yang jelas dan tegas.

Berikut beberapa faktor yang mungkin menyebabkan politisi sering “nyingcet” atau menghindari pertanyaan atau isu yang sensitif:
– Menghindari kontroversi. Politisi mungkin berusaha untuk menghindari kontroversi atau perdebatan yang dapat merusak reputasi mereka atau partai politik mereka.

– Melindungi kepentingan. Politisi mungkin berusaha untuk melindungi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dengan menghindari pertanyaan atau isu yang dapat merugikan mereka.
– Tidak memiliki jawaban yang jelas. Politisi mungkin tidak memiliki jawaban yang jelas atau pasti tentang suatu isu, sehingga mereka memilih untuk menghindari pertanyaan tersebut.

– Menghindari tekanan publik. Politisi mungkin berusaha untuk menghindari tekanan publik atau kritik yang dapat timbul jika mereka memberikan jawaban yang tidak populer.
– Strategi komunikasi. Politisi mungkin menggunakan strategi komunikasi yang menghindari pertanyaan atau isu yang sensitif sebagai bagian dari kampanye atau strategi politik mereka.

Hanya, perlu diingat bahwa “nyingcet” atau menghindari pertanyaan atau isu yang sensitif dapat juga dianggap sebagai tanda kurangnya transparansi atau akuntabilitas dalam politik. Ironis memang. Tapi bagi beberapa politisi, yang namanya “politik nyingcet”, dianggap sebagai solusi terbaik untuk menjaga citra diri.

“Politik nyingcet” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku politik yang licik, manipulatif, dan tidak etis. Istilah “nyingcet” sendiri memiliki konotasi negatif, yang berarti licik, curang, atau tidak jujur.

Dalam konteks politik, politik nyingcet dapat mencakup berbagai tindakan, seperti:
– Menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok
– Melakukan manipulasi informasi atau propaganda untuk mempengaruhi opini publik
– Menggunakan uang atau sumber daya lainnya untuk mempengaruhi keputusan politik
– Melakukan tindakan yang tidak transparan atau tidak akuntabel

Politik nyingcet dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik dan dapat menghambat proses demokrasi yang sehat. Hal ini terjadi, karena beberapa alasan pertama, kurangnya transparansi. Politik nyingcet seringkali melibatkan tindakan yang tidak transparan, sehingga masyarakat tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

Kedua, manipulasi informasi. Politik nyingcet dapat melibatkan manipulasi informasi, sehingga masyarakat tidak mendapatkan informasi yang akurat dan objektif. Ketiga, kepentingan pribadi. Politik nyingcet seringkali didorong oleh kepentingan pribadi atau kelompok, sehingga mengabaikan kepentingan masyarakat luas.

Keempat, kurangnya akuntabilitas. Politik nyingcet dapat membuat pejabat atau politisi tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka, sehingga masyarakat merasa tidak memiliki kontrol atas proses politik. Kelima, kerusak kepercayaan. Ketika masyarakat merasa bahwa politik nyingcet terjadi, mereka dapat kehilangan kepercayaan terhadap institusi politik dan proses demokrasi.

Atas gambaran demikian, politik nyingcet dapat merusak kepercayaan rakyat dan menghambat proses demokrasi yang sehat. Itu sebabnya, kita berharap agar para politisi di negeri ini, jangan sampai menjebakan diri pada praktek-praktek politik nyingcet.

Setidaknya ada delapan kiat agar para politisi tidak terjebak dalam politik nyingcet. Ke delapan kiat itu adalah :
1. Integritas yang kuat. Politisi harus memiliki integritas yang kuat dan berkomitmen untuk melakukan apa yang benar, bukan hanya apa yang menguntungkan diri sendiri.

2. Transparansi. Politisi harus transparan dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil, sehingga masyarakat dapat memantau dan menilai kinerja mereka.
3. Akuntabilitas. Politisi harus bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan yang diambil, dan bersedia menerima konsekuensi jika melakukan kesalahan.

4. Komitmen pada kepentingan publik. Politisi harus memprioritaskan kepentingan publik daripada kepentingan pribadi atau kelompok.
5. Pendidikan dan pelatihan. Politisi harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka melalui pendidikan dan pelatihan, sehingga dapat membuat keputusan yang lebih baik.

6. Mekanisme pengawasan. Politisi harus tunduk pada mekanisme pengawasan yang efektif, seperti pengawasan internal dan eksternal, untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
7. Etika politik. Politisi harus mematuhi etika politik yang jelas dan konsisten, sehingga dapat membangun kepercayaan masyarakat.

8. Komunikasi yang efektif. Politisi harus memiliki komunikasi yang efektif dengan masyarakat, sehingga dapat memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Diharapkan dengan menerapkan kiat-kiat tersebut, politisi dapat terhindar dari politik nyingcet dan membangun kepercayaan masyarakat.

***

Judul: “Nyingcet”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *