MajmusSunda News, Bandung, 24/12/2025 – Pada zaman ini nilai-nilai kehidupan seperti hilang di telan bumi. Zaman ini banyak pergeseran nilai-nilai kehidupan yang membawa akhlak dan budi baik semakin asing di kehidupan, terutama nilai-nilai kearifan lokal daerah kita sendiri. Terjadinya pergeseran nilai tidak dapat di hindari karena perkembangan tekhnologi yang terus berkembang sebagai gerak berubahnya tatanan budaya. Akan tetapi jika kita kuat dan tetap berpegang pada kekuatan yang kita miliki yang bersumber pada kebudayaan daerah yang bernilai luhur menjadi pedoman dalam tingkah laku dan pergaulan hidup maka tidak akan goyah nilai-nilai milik daerah bangsa kita.
Persegeseran nilai-nilai sudah banyak menimbulkan konflik sosial dalam masyarakat kita sehingga membuat lingkungan kita tidak aman, tidak harmonis dan tidak selaras. Pergeseran nilai-nilai itu sudah merubah pola pikir, karakter, gaya hidup bebas bahkan tujuan hidup, akibatnya kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara kita tidak lagi pada nilai- nilai kearifan lokal yang berasal dari kearifan lokal daerah kita.
Bagaimana agar nilai daerah tetap menjadi pedoman hidup kita dan agar nilai-nilai itu tidak bergeser, ada beberapa nilai-nilai yang dapat kita tumbuhkaln dan kembangkan kembali yaitu berupa uangkapan tradisional yang dapat berlaku secara universal dan nilai petuah yang terdapat pada naskah kuno yang ada di Nusantara. Kebenaran nilai-nilai ungkapan tradisional dan nilai naskah kuno perlu mendapat perhatian di zaman ini dan dapat di jadikan pokok utama untuk pemajuan kebudayaan dan sebagai nilai yang harus di kembangkan lagi terutama pada generasi ke depan sebagai suatu sistem pendidikan yang bersifat Nasional. Perlu kita pahami zaman ini adalah zaman kemunduran dari segala bidang di akibatkan kita tidak lagi menggunakan tatanan, hukum, dan nilai keluhuran leluhur kita yang sudah lebih maju dalam peradaban di bumi ini
Pemerintah harus hadir terutama bagi kementrian kebudayaan untuk menjadikan uangkapan tradisional di jadikan kurikulum yang berdampingan pada nilai-nilai Pancasila dan berdampingan pada pelajaran bahasa daerah untuk dapat di jadikan kurikulum pendidikan Nasional.
Masyarakat sudah banyak meninggalkan tata cara menjalani kehidupan dari anak yang sudah tidak hormat pada orang tua, berkehidupan bertetangga dan kehidupan bersosial lainnya sudah banyak tidak bernafaskan pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Keserakahan dan egois lebih dominan bersemayam dalam pikiran dan hati manusia, jelas membawa kemunduran pada rasa kemanusian di abad ini. Para pejabat banyak yang korupsi, penegak hukum yang tidak tidak adil menunjukan kemunduran terhadap nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kebijaksanaan yang tidak adil pada pekerja, Agamawan yang korupsi dan lebih mementingkan dunia, perusakan tambang yang merusak lingkungan akibat memusatkan dalam ekonomi dn penguasaan lahan produksi dan lainnya.
Dalam adat budaya Sunda dan ajaran Sunda banyak kita temukan nilai-nilai uangkapan tradisional yang dapat di jadikan pedoman untuk menjalani kehidupan. Dalam naskah Keropak 423 yang berjudul ” DARMAJATI” (Caritaya Purnawijaya) yang berupa karangan naskah berbentuk puisi pantun yang perbaris tiap baris terdiri dari 8 sukukata. Naskah Keropak 423 tulisan berupa nasehat tentang pedoman hidup kepada seorang anak bernama Purnawijaya yang merupakan tokoh utama. Dalam naskah Keropak 423 banyak terdapat uangkapan-ungkapan yang memiliki makna alam goib, kesucian, keabadian dan intisari yaitu basa di jati Ning lenyep, buwana jati na sabda jati, utama di jati rasa, ja anggeus nepi ka jati. Sehingga Darmajati mengandung makna penyerahan diri dan persembahan kepada Yang Abadi. Isi nasehat yang begitu halus dari seorang Maha Pandita berupa pokok-pokok pedoman hidup manusia agar selamat dan bahagia dalam menempuh kehidupan di dunia dan di alam akhirat.
Pedoman hidup terdiri atas larangan dan perintah yang lebih berdasarkan pada ajaran agama. Seorang hendak menghindari perbuatan yang di larang seperti jangan iri dengki terhadap orang lain, jangan berburuk sangka, jangan suka mencuri, menipu, berbohong, tidak jujur, membunuh,
mabuk-mabukan, menghisap madat, menodong, mengejek orang-orang, menikam, mengancam, berhutang tak mau di bayar, berbohong, bicara kasar dan kotor, melanggar janji, menganiaya kaum agama, melanggar tabu, main perempuan, melakukan tipu muslihat, hidup seperti orang berada, bermewah-mewahan, mempermalukan orang lain, menfitnah dengan keji, memutuskan tali persaudaraan. Sedangkan perintah suruhan berbentuk ibadah, bertobat, melakukan persembahan pada sang hyang. Dalam naskah DARMAJATI di sebutkan dan di gambarkan hidup dengan melaksanakan perintah balasan adalah surga dan perbuatan jahat balasan adalah neraka, yaitu suatu keadaan yang menyenangkan dan yang menyedihkan. Gambaran surga ibarat cemelang bagaikan permata, menjadi semerbak wangi, berukir bermotif naga dan buah-buahan. Adapun gambaran neraka yaitu berapa sakitnya badan di cincang, di bakar, di gantung, di jilat api, kepala di pecahkan, otak di hisap, perut meletus. Naskah DARMAJATI terdiri dari 485 bait/ayat.
Contoh Suntingan teks naskah Keropak 423 yakni:
Baris ke 25:
Anaking Purnawijaya eboh ta Angling magahan,
Sugan siya hamo nyaho,
reungeukeun ra carek anging, mulah deka wosange ngaku,
Baris ke 30:
na raga kasangsra.
Langin ku tuwah sakalih, mo ngala Waya, mo hanteu heroheunana,
Artinya:
Baris ke 25:
Anaku, Purnawijaya,
marilah kunasehari,
jangan sampai anda tak tahu, dengarkan perkataanku, hendaklah jangan ragu untuk mengajukan,
Baris ke 30:
meskipun badan menderita, bulan karena yang lain, sekalipun menakutkan dan semrawut, tak mungkin menjemput derita, jangan- jangan di iincarnya.
Baris ke 35:
Diibamoh”.
Hiri dengki ka sakalih,
Makeyan na kngira-kngira, nitip bati marwakala, ngutak ngutik, nipu, maling,
Artinya:
Baris ke 35
Tentang kesesatan,
Iri dan dengki kepada orang lain, membiasakan buruk sangka, mengurus keuntungan hal keduniawian, mencopet menipu mencuri.
Baris ke 40:
Papanjinan makeyan na curi, weureu dadeu dingindeung pada jalma, nyotrakan deungeun nyapahan, mo koyo ngaduk ngarahe, ngahutang hanteu dek mayarna,
Artinya:
menyelinap mengikuti pencuri, mabuk madat bersama orang lain, menyoraki dan mengejek, tak segan-segan menikam mengancam, berhutang tak mau membayar,
Baris ke 125:
Anaking Purnawijaya,
Samangsara teuing Siya,
na polah na kabawa ku Nana wisaya, nya manah papa kalehsa, sanyorang Tegal si jawablah yobana,
Artinya;
Anakku, Purnawijaya,
Begitu berat penderitaanmu, mengapa perlakuamu terseret nafsu,.sehingga jiwa mendapat nista,
masuk ke tegalan gersang yang maha luas,
Selain terdapat di Naskah Sunda, nilai-nilai uangkapan yang terdapat di kebudayaan Sunda dapat kita pelajari dari uangkapan tradisional berbahasa Sunda diantaranya:
1. Batok bulu eusi madu (Tempurung kelapa berbulu berisi madu) artinya: “Di luarnya buruk, di dalamnya bagus, tampaknya miskin dan bodoh, padahal kaya atau pintar”. Makna yang terkandung dalam ungkapan di atas adalah memberikan nasehat atau anjuran agar orang jangan suka menghina yang buruk rupanya atau yang kelihatan miskin dan bodoh, padahal hati baik hati, pintar dan kata.
2. Bisi aya ti geusan mandi (Kalau-kalau ada dari air dari tempat mandi). Artinya: “Segala sesuatu harus di pertimbangkan agar pihak lain tidak tersinggung”. Makna uangkapan tersebut adalah memberikan nasehat atau anjuran agar orang senantiasa mempertimbangkan segala sesuatu yang akan dilakukan. Hal itu di lakukan untuk menghindari perpecahan dan permusuhan.
3. Jawadah Tutung biritna, secarana-secarana (Sebangsa dodol hangus pinggulnya secaranya-secaranya), artinya ” Setiap bangsa memiliki suatu cara dan kebiasaan masing- masing”. Makna ungkapan tersebut adalah memberikan nasehat dan anjuran agar orang harus mengetahui bahwa setiap bangsa memiliki cara dan kebiasaan masing-masing dan harus di hargai dan dihormati, walaupun cara dan kebiasaan itu berbeda dengan bangsa kita. Ungkapan ini untuk mendidik anak- anak agar memiliki teloransi.
4. Kawas gula Jeung peueut (Seperti gula dengan nira yang digodok hampir menjadi gula) artinya ” Sayang menyayangi dan kasih-mengasihi, tak pernah berselisih”. Makna uangkapan tersebut adalah memberikan nasehat atau anjuran agar orang senantiasa hidup seia sekata, saling menyayangi dan saling mengasihi. Uangkapan ini agar hidup rukun dan damai jauh dari perselisihan.
5. Kudu rubuh-rubuh gedang (Harus rubuh-rubuh pepaya) artinya: “Harus hidup bersatu dan bergotong royong dalam kekeluargaan”. Makna ungkapan tersebut adalah memberikan nasihat atau anjuran agar orang senantiasa hidup dalam kesatuan, kegotong-royongan dan kekeluargaan. Tujuan uangkapan ini agar tidak mengutamakan kepentingan sendiri dalam hidup. Ungkapan di atas sesuai dengan cerminan Pancasila.
6. Meber-meber totopong heureut (Melebar- lebarkan ikat kepala sempit) artinya: ” Manfaatkan rejeki yang sedikit sehingga mencukupi kebutuhan”. Makna yang terkandung ungkapan tersebut adalah memberi nasehat dan anjuran agar orang bisa mamanfaatkan rejeki sesuai kebutuhan pokoknya tidak menghambur-hamburkan dan bergaya hidup mewah. Tujuan uangkapan tersebut agar menghemat rezeki.
7. Muncang labuh ka puhu, kebo mulih pakandangan (Kemiri jatuh ke pangkal pohon, kerbau pulang kumpul di kandang), artinya ” Pulang ke kampung halaman sendiri dari pengembaraan”. Makna ungkapan tersebut adalah memberikan nasehat agar orang tidak lupa, selalu ingat ke tanah air dan kembali.Tujuan ungkapan tersebut untuk agar lebih mencintai tanah air dan bangsa sendiri.
8. Titip diri sangsang badan (Titip diri sangkut badan) artinya:” Harus bisa menitipkan diri”. Makna ungkapan tersebut memberi nasehat agar orang bisa menitipkan diri atau menyesuaikan diri di mana saja berada. Tujuan agar selalu menghargai dan menghormati lingkungan yang di tempati.
9. Ulah gindi pikir belang Bayah (Jangan buruk pikiran belang alat dalam dada yang berfungsi membersihkan darah) artinya: ” Jangan buruk hati, jangan punya pikiran buruk kepada sesama”. Makna ungkapan tersebut adalah memberikan nasehat agar jangan buruk hati, jangan bertindak zalim terhadap orang lain. Tujuan ungkapan tersebut agar harus mengembangkan sikap tengang rasa dan tidak berminat dan menyakiti orang lain.
10. Ulah ninggakeun Hayam dudutaneun (Jangan meninggalkan ayam yang belum dicabuti bulunya), artinya: ” Jangan meninggalkan pekerjaan yang belum selesai”. Makna uangkapan tersebut merupakan nasehat agar orang senantiasa mengerjakan sesuatu yang berharga hingga selesai. Pekerjaan yang belum selesai jangan di berikan pada orang lain yang tidak ahlinya. Tujuan agar memiliki rasa tanggung jawab dan menjalankan tugas sampai tuntas.
11. Den hormat Maring pusaka, leluhur, wong atau Karo guru kan ratu (Harus hormat kepada pusaka,leluhur, orang tua kedua, guru dan ratu. Artinya ” Pengabdian yang sangat sesuai dengan fitrah manusia sendiri, kedisiplinan, dan ketaatan. Makna ungkapan memberikan nasehat dan anjuran agar orang taat, patuh, disiplin dan penuh pengabdian yang sesuai dengan fitrah manusia. Uangkapan ini untuk mendidik bahwa keluhuran manusia di tentukan oleh kemampuan mengendalikan akal budi dan naluri secara seimbang dan selaras.
12. Ulah pupulur memeh mantu (Jangan minta upah sebelum berpantun). Artinya ” Jangan minta upah sebelum berkerja”. Makna ungkapan memberi nasehat dan anjuran agar orang tidak mengutamakan kepentingan pribadi dan tahu akan hak dan kewajiban.
13. Ulah neundeun piheuleut, ulah nunda picela (Jangan menunda jarak jangan menunda cela). Artinya ” Jangan mengajak orang lain untuk melakukan kejelekan dan permusuhan”. Makna ungkapan memberikan nasehat dan anjuran agar orang senantiasa hidup rukun dan damai, memiliki tenggan rasa dengan menghargai dan menghormati orang lain.
14. Napsu kadlurung raga katempuhan (Napsu terlanjur badan karena rugi). Artinya ” Jika mengumbar nafsu, suatu ketika akan menerima celaka yang patal”. Makna yang terkandung dari uangkapan adalah memberi nasehat agar orang yang menuruti nafsunya saja sebab nanti dirinya akan binasa. Jika nafsu birahi di curhkan tapa aturan hukum maka akan terkena celaka nantinya, akan rugi diri kita. Nafsu amarah dan lauwamah harus di kendalikan.
15. Yen ana angin bolang-baling, aja gandulan wit ini kiara tapi gandulan suket sadagori ( Jika ada angin ribut jangan berpegang pada kiara tetapi peganglah rumput sadagori), Artinya ” Jika terjadi kekacauan masalah, janganlah berpegang pada yang besar atau yang berkuasa, tetapi berpeganglah pada sesuatu yang sering di lupakan orang, yaitu kebenaran”. Makna ungkapan merupakan nasehat agar tidak gelisah jika terjadi kekacauan, berpeganglah kepada kebenaran.
Para pembaca yang budiman masih banyak ungkapan-ungkapan berbahasa tradisional bahasa daerah Sunda. Uangkapan di atas berasal dari Jawa Barat, dari daerah Jawa Barat bagian tengah dan Jawa Barat bagian timur (Cerbon). Kalau kita sususun dan tuliskan mungkin 130 ungkapan yang memiliki nilai dan makna yang dapat menjadi pelajaran untuk kebaikan untuk kehidupan kita.

Harapan tulisan dapat bermanfaat oleh orang tua terutama sosok ibu yang lebih intens bersama anak-anaknya untuk kembali memahami uangkapan tradisional untuk mendidik anak- anaknya agar mencetak anak-anak yang memiliki nilai budi pengerti yang luhur. Sosok ibu merupakan guru sejati yang sangat mendasar dan merupakan sumber pengajaran dari sedini mungkin. Begitu kayanya kearipan lokal kebudayaan Sunda berupa uangkapan tradisional, ini baru kita pahami dari suatu dua daerah, belum dari daerah yang lain yang ada di Nusantara dengan 27 Propinsi dengan berbagai suku, mungkin akan banyak kita memahami ungkapan tradisional yang dapat membangun kesadaran pribadi setiap manusia. Ungkapan tradisional dan petuah yang ada pada naskah kuno itu dapat menjadi sumber untuk ketahanan nasional dalam mencapai tujuan berbangsa dan bernegara.
“Hana Nguni Hana Mangke Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke”.
(Ada dahulu ada sekarang, tidak ada dahulu tidak ada sekarang).
“Sudah waktunya nilai BUDI hidup kembali dalam jiwa anak cucu Nusatara”
Dinten Buda pahing,12k, manis, Sasih Weseka, 1962 Caka Sunda.
Sabtu 24 Desember 2025
YAYASAN SUNDA13BUHUN
*****
Judul: NILAI-NILAI KEARIFAN BERUPA “UNGKAPAN TRADISIONAL SUNDA” MEMBENTUK NILAI BUDI
Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati, Spiritualis,seniman lukis)












