Negeri Bencana

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Rabu (14/10/2026) – Artikel berjudul “Negeri Bencana” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Indonesia adalah negeri yang terlalu sering berduka, tetapi terlalu cepat melupakan dukanya. Kemarau meretakkan tanah, banjir menelan permukiman, api melahap hutan, gunung memuntahkan isi perut bumi. Bencana seolah menjadi kalender kesengsaraan rakyat.

Di antara segala bencana itu, ada yang paling licin menyamar: korupsi. Berbalut jas dan pidato pembangunan, ia menggerogoti negeri melalui transaksi gelap dan angka-angka manipulatif.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Banjir merendam rumah rakyat, korupsi merendam akal sehat. Alam punya hukumnya sendiri, tetapi kerusakan lingkungan, tata ruang yang diabaikan, dan mitigasi yang dikalahkan kepentingan memperparah malapetaka.

Mereka yang paling sedikit menikmati keuntungan justru kerap menjadi korban pertama. Rumah hanyut, sawah mengering, penghidupan musnah. Sementara itu, penderitaan menjadi panggung pencitraan.

Apa arti pembangunan jika gedung meninggi sementara keselamatan warga terabaikan? Apa arti kemajuan jika keuntungan dinikmati segelintir orang, sedangkan kerusakan diwariskan kepada generasi mendatang?

Indonesia tidak kekurangan sumber daya, melainkan nurani dalam mengelolanya. Kita membutuhkan “pertobatan nasional”: kekuasaan yang amanah, hukum yang adil, serta pembangunan yang menghormati manusia dan alam. Semakin besar kuasa, semakin besar tanggung jawab.

Jangan memuji ketangguhan rakyat tanpa mempertanyakan mengapa mereka terus menanggung penderitaan yang semestinya dapat dicegah. Ketangguhan rakyat tak boleh menjadi dalih bagi kegagalan negara.

Cinta tanah air bukan kewajiban untuk selalu memujinya. Kadang-kadang, cinta berarti mengakui bahwa rumah ini terbakar, fondasinya keropos, bahkan ada tangan-tangan yang diam-diam mencuri batu batanya. Diam demi menjaga citra bukan kesetiaan, melainkan pembiaran.

Bencana alam mungkin tak seluruhnya dapat dicegah. Namun, korupsi, keserakahan, dan kelalaian bukanlah takdir. Sebagian air mata negeri ini jatuh bukan karena kehendak alam, melainkan keputusan manusia.

Negeri yang terus berduka masih mungkin bangkit. Tetapi negeri yang kehilangan rasa bersalah atas penderitaan yang diciptakannya akan kehilangan kompas moralnya dan alasan untuk bisa bertahan.

***

Judul: Negeri Bencana
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *