MajmusSunda News, Minggu (09/08/2026) – Artikel berjudul “Mulia Papua” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Indonesia tanpa spirit Papua
ibarat tungku tanpa api.
Papua bukan sekadar tanah di ujung peta,
melainkan tanah batin
tempat Indonesia ditempa.

Di Boven Digul,
jauh di jantung rimba yang belum bernama,
kolonialisme membuang manusia
yang dianggap terlalu berani untuk tunduk.
Mereka dikurung bukan hanya oleh kawat,
tetapi oleh demam, nyamuk, buaya,
rimba tak bertepi,
dan kesunyian yang menggerogoti ingatan.
Di sana, kesepian menjadi senjata.
Yang hendak dibunuh bukan sekadar tubuh,
melainkan keyakinan.
Namun sejarah bekerja diam-diam:
apa yang hendak dipadamkan penjajah
justru menjadi bara.
Di Digul, perjuangan tak lagi berupa pidato.
Ia menjadi keberanian untuk tetap percaya
ketika dunia seakan melupakan
mereka yang dibuang.
Hatta, Sjahrir, dan para interniran
membawa keyakinan sederhana sekaligus dahsyat:
manusia dilahirkan bukan untuk tunduk pada ketakutan.
Maka ketika para pendiri bangsa membicarakan
batas Indonesia merdeka,
Papua bukan sekadar garis di peta.
Ia adalah soal utang.
Utang darah.
Utang penderitaan.
Utang ingatan.
Bagaimana mungkin
tanah tempat para pejuang dibuang dan menderita
kelak dipisahkan dari negeri
yang mereka perjuangkan?
Papua adalah tanah pembuangan
yang berubah menjadi tanah persemaian.
Di sanalah, dalam gelap,
api republik impian dijaga.
Memuliakan Papua
bukan belas kasihan,
bukan kemurahan hati pusat pada pinggiran.
Ia adalah penghormatan
kepada akar yang membuat Indonesia berdiri.
Bangsa yang melupakan akarnya
mungkin masih memiliki bendera,
lagu kebangsaan,
dan batas wilayah
tetapi perlahan kehilangan jiwa.
Maka jangan pernah melihat Papua
hanya sebagai tanah yang jauh.
Dekaplah ia sebagai bagian
dari ingatan kita.
Sebab di sana bukan hanya
para pejuang yang meninggalkan jejak,
tetapi Papua pun
meninggalkan jejaknya bagi Indonesia.
Selama ingin tetap menjadi Indonesia,
kita harus terus mengingat:
Papua adalah tanah spiritual revolusi kemerdekaan
tanah sunyi yang menyimpan pengorbanan
dan ikut menyalakan api republik.
***
Judul: Mulia Papua
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












