Misteri Toge Goreng Bogor

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (11/10/2026) – Bogor punya banyak cara untuk membuat orang datang, lalu ingin kembali. Hujan, udara yang sejuk, Kebun Raya, dan tentu saja kekayaan kulinernya. Salah satu kuliner khas yang sudah lama melekat dengan kota ini adalah toge goreng. Namanya sederhana, rasanya khas, tetapi bagi saya, sejak lama tersimpan sebuah misteri kecil. Mengapa disebut toge goreng, padahal togenya tidak digoreng?

Di Bogor, kita mengenal banyak penjual toge goreng. Salah satu yang cukup dikenal adalah Toge Goreng Pak Gebrok. Sepiring toge goreng biasanya berisi toge, tahu, dan mi, yang diolah dengan cara direbus atau ditumis, kemudian disiram dengan bumbu tauco yang memberikan cita rasa khas. Ketika melihat proses pembuatannya, saya justru tidak menemukan kegiatan menggoreng sebagaimana yang lazim kita pahami. Tidak ada toge yang dimasukkan ke dalam minyak panas hingga matang. Lantas, dari mana datangnya kata goreng dalam nama kuliner ini?

Pertanyaan itu cukup lama mengendap dalam pikiran saya. Rasa penasaran tersebut baru menemukan jawabannya pada 2018. Ketika sedang menikmati sepiring toge goreng, saya memutuskan bertanya langsung kepada mamang penjualnya. Tentu saja, karena berada di Bogor, pertanyaan itu saya sampaikan dalam bahasa Sunda. “ _Mang, kunaon disebut toge goreng? Pan togena teu digoreng, nu sejenna oge eweuh nu digoreng?_” Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih begini, “Pak, mengapa disebut toge goreng? Togenya tidak digoreng, bahan lainnya juga tidak ada yang digoreng?”

Si mamang tersenyum. Ia tidak menjawab dengan teori kuliner atau penjelasan sejarah yang panjang. Dengan santai, ia menunjuk toge di hadapannya, lalu berkata, “ _Tah tingali, togena goreng kabeh, bararengkok, eweuh nu lempeng!_” sambil tertawa.

Artinya, “Tuh, lihat! Togenya jelek semua, bengkok-bengkok, tidak ada yang lurus!”

Saya ikut tertawa. Rupanya, jawaban yang saya cari selama bertahun-tahun justru tersembunyi dalam permainan bahasa Sunda yang sederhana. Kata goreng dalam bahasa Sunda memang memiliki arti lain, yakni jelek. Jadi, dalam jenakaan si mamang, sebutan toge goreng bukan menunjuk pada proses memasaknya, melainkan pada penampilan toge yang pendek, merungkel, bengkok-bengkok, dan tidak ada yang benar-benar lurus. Sebuah jawaban jenaka yang sederhana, tetapi cerdas. Misteri itu pun menemukan jawabannya, setidaknya bagi saya, pada sebuah percakapan singkat di warung toge goreng.

Sejak saat itu, setiap kali mendengar nama toge goreng, ingatan saya kembali kepada si mamang, senyumnya, dan cara ia menjawab rasa penasaran seorang pembeli. Saya belajar bahwa nama sebuah makanan tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan melihat cara memasaknya. Ada bahasa, kebiasaan, humor, dan kekayaan budaya lokal yang ikut membentuknya. Kata yang sama bisa menyimpan makna berbeda, bergantung pada bahasa dan konteks yang melingkupinya.

Begitulah Bogor. Di balik sepiring kuliner khasnya, tersimpan cerita kecil yang dapat membuat kita tersenyum sekaligus berpikir. Kadang-kadang, untuk memahami sesuatu, kita memang perlu bertanya langsung kepada orang yang paling dekat dengan kesehariannya. Jawabannya bisa jadi tidak ditemukan dalam buku, tetapi hadir dalam percakapan sederhana, di antara aroma tauco dan sepiring toge yang tersaji di atas meja. Ternyata, yang goreng bukan cara memasaknya. Setidaknya menurut si mamang, togenya yang goreng!

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Misteri Toge Goreng Bogor
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *