“Mindset Petani”

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (20/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Mindset Petani”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Banyak literatur memaknai mindset adalah sekumpulan kepercayaan atau pemikiran yang membentuk cara seseorang melihat dunia dan dirinya sendiri. Mindset juga dapat diartikan sebagai kebiasaan berpikir. Mindset dapat memengaruhi perilaku (sikap, tindakan dan wawasan) seseorang dalam hidupnya, baik secara positif maupun negatif.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Beberapa contoh mindset adalah:
– Fixed mindset, artinya keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan seseorang bersifat tetap dan tidak dapat diubah secara signifikan. Orang dengan mindset ini cenderung menghindari tantangan, melihat usaha sebagai sesuatu yang sia-sia, dan mudah menyerah.
– Growth mindset, artinya percaya bahwa usaha dan ketekunan dapat mengubah diri dan kemampuan.

Petani adalah orang yang memiliki lahan pertanian sekaligus juga mengusahakan lahan yang dimiliki nya. Kalau ada orang yang memiliki lahan pertanian namun tidak mengusahakan nya, maka orang itu disebut sebagai Petani Berdasi.

Lalu, bila ada orang yang tidak memiliki lahan pertanian tapi orang tersebut mengusahakan lahan pertanian, maka orang itu disebut sebagai petani penggarap, petani penyakap, petani buruh dan sebutan lain yang sering kita dengar di dunia pertanian.

Selanjut nya, kalau ada orang yang tidak memiliki lahan pertanian dan diri nya tidak mengusahakan lahan pertanian, maka orang itu disebut bukan petani. Bisa guru. Atau pegawai negeri dan lain sebagai nya.

Di negeri ini, petani khusus nya yang gurem dan buruh, memang masih belum pantas disebut selaku penikmat pembangunan. Petani belum mampu pula merasakan hebat nya teknologi informasi yang paling mutakhir. Kondisi kehidupan petani tampak masih memprihatinkan. Petani masih terjebak dalam suasana hidup miskin.

Jeratan kesengsaraan, masih mewarnai kehidupan nya. Lebih sedih nya lagi, harapan untuk merubah nasib, seperti orang mengejar bayangan nya sendiri. Petani bangkit mengubah nasib, seperti nya masih mengedepan menjadi jargon politik.

Jangankan untuk mengubah nasib, sekedar untuk menyambung nyawa kehidupan saja, masih dibutuhkan perjuangan yang cukup panjang. Petani gurem dan buruh tani, dari dulu hingga sekarang, masih menempati golongan masyarakat yang belum diuntungkan dengan ada nya pembangunan.

Hal ini sungguh berbeda dengan mereka yang beratributkan sebagai konglomerat atau Aparat Sipil Negara. Arti nya, kalau kaum tani pantas disebut sebagai “korban kebijakan”, maka para konglomerat pantas disebut sebagai “penikmat pembangunan”.

Suasana hidup kaum tani yang sekarang masih memprihatinkan, tentu harus segera dicarikan solusi nya. Sebagai anak bangsa, kaum tani memiliki hak untuk disejahterakan. Kita menjadi salah besar, bila membiarkan nasib dan kehidupan mereka terbelenggu oleh rantai kesengsaraan.

Tugas kita saat ini adalah memutus rantai tersebut dan sesegera mungkin mencari terobosan cerdas guna mensejahterakan kehidupan nya. Satu langkah nyata yang sudah puluhan tahun kita tempuh dalam upaya meningkatkan taraf hidup petani adalah melalui kegiatan penyuluhan pertanian.

Sebagai sistem pendidikan non formal, penyuluhan pertanian memiliki tugas pokok untuk merubah perilaku petani ke arah yang lebih baik. Penyuluh berkewajiban untuk membangun mind-set petani terhadap perkembangan pembangunan pertanian yang kini tengah memasuki Pertanian 4.0.

Pertanian tidak lagi dikelola secara tradisional dengan bertumpu kepada nilai-nilai lama, namun seiring dengan perubahan yang sangat cepat di bidang ilmu dan teknologi, maka pengenalan dan pemahaman teknologi informasi kepada petani, menjadi sebuah kebutuhan yang tidak boleh ditunda-tunda lagi.

Pendekatan penyuluhan pertanian kini harus menyesuaikan dengan dinamika perubahan yang begitu cepat berlangsung. Programa dan metode tidak bisa lagi menggunakan cara-cara tahun 1970-an. Kini di era milenial, kita akan berhadapan dengan para petani milenial yang memiliki sikap dan orientasi yang berbeda dengan petani di masa lalu.

Petani milenial adalah generasi baru yang masuk dalam kancah pembangunan pertanian di negeri ini. Mereka memandang, sektor pertanian yang dikelola dengan baik, ditengarai bakal mampu memberi nilai tambah ekonomi dan nilai tambah kehidupan.

Mereka cenderung mengedepankan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi dan profesionalisme.

Mereka memandang pertanian, bukan hanya upaya meningkatkan produksi semata, namun yang tak kalah menarik untuk dicermati adalah sikap petani milenial yang memandang pertanian sebagai kegiatan bisnis guna meningkatkan kualitas kehidupan nya. Menjadikan sektor pertanian sebagai potensi bisnis yang menggiurkan merupskan obsesi dambaan petani milenial.

Kekuatan teknologi informasi dan pengelolaan yang profesional merupakan ciri penting dari kiprah petani di era milenial. Menghadapi hal yang demikian, para penyuluh di lapangan, juga harus mampu menyiapkan diri sesuai dengan apa yang dituntut oleh petani milenial.

Arti nya, mulai hari ini dan ke depan, kita harus dapat menyiapkan juga para Penyuluh Milenial. Bila Petani Milenial mampu berdampingan dengan Penyuluh Milenial, maka wajah baru pembangunan pertanian akan segera muncul di tanah merdeka ini. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: “Mindset Petani”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *