Milangkala Wahegar ke-4 Hadirkan “Talk Show Dasa Daya Waluya sebagai Rumus Perempuan Hebat Menjaga Bangsa”

Oleh: Ambu Rita Laraswati

Milangkala Wahegar ke-4

MajmusSunda News – Garut, Minggu (07/06/2026) – Milangkala Wahegar ke-4, bertempat di Pendopo Jalan Kiansantang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. Komunitas Wahegar (Wanita Hebat Garut) melaksanakan milad ke-4 dengan menggelar lomba fashion show pakaian kebaya mojang Wahegar dengan slogan “Wahegar Berkebaya untuk Dunia”, sebagai bentuk kegiatan untuk melestarikan dan mensosialisasikan kembali pakaian tradisional masyarakat Jawa Barat. Dengan semangat memperebutkan Trofi Lasminingrat dengan membawa roh perempuan Garut yang memiliki jasa besar dalam perjuangan perempuan di bidang pendidikan dan perjuangan perempuan, kesetaraan gender. Ketua Komunitas Wahegar, Susi Sabion, dalam sambutannya menyampaikan bahwa rangkaian acara yang dihadirkan dalam milad ke-4 lebih bertujuan untuk memberi semangat pada perempuan agar lebih aktif dan berdaya dalam segala bidang. Ketua pelaksana, Ani Suhartini, menyampaikan bahwa milad ke-4 Wahegar menampilkan lomba kebaya agar perempuan dapat melestarikan pakaian tradisional, bahwa pakaian kebaya adalah jati diri perempuan bangsa Indonesia. Lomba kebaya diikuti oleh peserta perempuan tidak hanya dari Garut, tetapi juga dari Bandung dan kota lain yang hadir untuk memeriahkan acara.

Milangkala Wahegar ke-4

Dalam rangkaian acara milad Wahegar ke-4 menggelar talk show yang bertema “Perempuan Menjaga Bangsa” dengan mengangkat nilai budi pekerti “Dasa Daya Waluya” yang menghadirkan narasumber Bunda Dr. Dra. Eni Sumarni, S.T., M.Kes. sebagai Ketua Umum Pasundan Istri (PASI) dan Ambu Rita Laraswati, budayawati Jawa Barat, pendiri dan Ketua Yayasan Sunda Tigabelas Buhun.

Milangkala Wahegar ke-4

Bunda Eni (Ketua Umum PASI) menerangkan arti dari Dasa Daya Waluya. Beliau menyampaikan bahwa Dasa Daya Waluya adalah sepuluh nilai budi pekerti untuk membawa manusia sehat lahir batin. Sepuluh Dasa Daya Waluya yaitu Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer, Junun, Akur, Jujur, Ludeung, dan Tuneung. Dasa Daya Waluya merupakan warisan dari Emma Poeradirdja, sosok perempuan pejuang yang memiliki banyak kiprah untuk perempuan. Harapan ke depan, Dasa Daya Waluya dapat dijadikan kunci membentuk perempuan yang dapat menjadi penjaga bangsa. Dengan berdasar pada agama dan moral yang baik, maka perempuan akan mencetak anak-anak yang memiliki karakter Dasa Daya Waluya.

Budayawati Ambu Rita Laraswati menjelaskan bahwa kondisi zaman saat ini dengan semakin majunya teknologi dan media membuat mudahnya budaya bangsa lain masuk ke kehidupan anak-anak kita, sehingga budaya tanah air kita berupa nilai-nilai budi pekerti dan tradisi yang pernah diajarkan oleh nenek moyang kita semakin langka diperdengarkan dan dilaksanakan. Dengan Dasa Daya Waluya, warisan dari seorang tokoh perempuan yang kiprahnya berskala nasional dan internasional dalam pergerakan perempuan melalui organisasi Pasundan Istri, dapat menjadi ilmu bagi para perempuan dalam mendidik anak-anak generasi saat ini dan generasi ke depan. Ambu Laras juga menegaskan bahwa Dasa Daya Waluya dari warisan Pasundan Istri berasal dari nilai-nilai kearifan lokal tanah Sunda yang terdapat dalam Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang ditulis pada tahun 1518 Masehi dan berasal dari Kabuyutan Ciburuy, Garut, sebagai pedoman hidup untuk mencapai kemuliaan dan kesejahteraan yang terdapat dalam ajaran “Dasa Pasanta”, yaitu Bijaksana, Ramah, Sayang, Memikat Hati, Penuh Kasih, Iba Membujuk, Memuji, Membesarkan Hati, Mengambil Hati, dan Gembira. Dalam naskah kuno Amanat Galunggung disebut, “Mungku kahaja urang miprangkeun si tepet bener, si duga, si tuarasi, Sida drung kulakadang, mulai mulah munuh tanpa dewasa, mulah”. (Janganlah dengan sengaja kita merebutkan yang lurus, yang benar, yang jujur, dan murah hati). Sebagai penutup acara talk show, Budayawati Ambu Laraswati melantunkan “Kidung Dasa Daya Waluya” sebagai persembahan untuk mengingatkan bahwa ajaran dan nilai budaya sarat dengan makna dan filosofi hidup. Kidung berisikan sepuluh kekuatan untuk mencapai kemuliaan hidup sebagai “Pepeling nu keudah di reugeupkeun ka sadayana manusa” (nasihat yang harus dihayati oleh semua manusia).

Milangkala Wahegar ke-4

Dasa Daya Waluya sangat relevan dihidupkan dan dijadikan ilmu moral pada zaman ini, sebagai benteng untuk menjaga anak bangsa dan kita semua tetap berada dalam nilai-nilai budi pekerti leluhur tanah air sendiri yang lebih alami berdasarkan jiwa-jiwa luhur Sunda. Bukti nyata bahwa perempuan memiliki tugas sebagai penjaga bangsa yaitu adanya tokoh Emma Poeradirdja yang mendirikan organisasi perempuan, yaitu PASI (Pasundan Istri), yang lahir pada tahun 1930 dan dilandasi oleh pemikiran serta kesadaran Emma Poeradirdja akan perlunya perempuan berpartisipasi dan aktif dalam perjuangan kemerdekaan saat itu. Artinya, Emma Poeradirdja sudah bergerak untuk menjadi perempuan penjaga bangsa.

Harapan Organisasi Wahegar yang anggotanya adalah perempuan dapat terinspirasi oleh tokoh-tokoh perempuan masa lampau untuk dijadikan semangat oleh perempuan masa kini agar bersemangat menjadi perempuan penjaga bangsanya dengan kekuatan budaya bangsanya, dengan menjadikan kembali Dasa Daya Waluya sebagai pegangan dalam membentuk pribadi wanita hebat dan terhebat.

YAYASAN Sunda13Buhun

Budaya Sunda Buhun

Ambu Rita Laraswati (Penulis)

Judul: Milangkala Wahegar ke-4 Hadirkan “Talk Show Dasa Daya Waluya sebagai Rumus Perempuan Hebat Menjaga Bangsa”

Penulis: Penulis: Ambu Rita Laraswati (Ketua Yayasan Sunda13 Buhun, Budayawati, Seniman, Spiritualis, Redaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News)

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *