MajmusSunda News – Bandung, Selasa (03/02/2026) – Milangkala STI 58 pagelaran ini akan berlangsung pada tanggal 14 Februari 2026, pukul 15.30–17.30 WIB, di Gedung De Majestic, Jalan Braga No. 1, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung.
Milangkala STI 58 di De Majestic Braga
Dalam pagelaran ini dipastikan hadir Dr. Atalia Praratya (Bu Cinta), Bey Machmudin, Kadisbudpar Kota Bandung, Prof. Keri Lestari (Guru Besar Farmasi Unpad), Suryadisastra (bersama komunitas Tionghoa Bandung), seniman-budayawan, pelajar, mahasiswa, serta 200–300 undangan lainnya. Bagi masyarakat yang kebetulan sedang berjalan-jalan di kawasan Braga dan ingin menonton, dipersilakan.
Bagi Studio Tari Indra (STI), memang sudah menjadi semacam kewajiban setiap tahun untuk rutin menyuguhkan pagelaran besar yang didukung oleh anak didik, generasi muda, dan para penari profesional. Hal ini terus berlangsung sejak STI berdiri pada tahun 1968 hingga sekarang, dengan harapan mendapat apresiasi lebih dari masyarakat.

Karena hingga saat ini apresiasi masyarakat Jawa Barat terhadap tari tradisional masih tergolong kurang, maka untuk menggugah dan membuat orang menyukai tari tradisional, STI berusaha setiap tahun menampilkan tarian-tarian. Walau berbasis tari klasik, STI selalu menghadirkan kreasi baru yang diharapkan mampu menarik minat generasi muda.
“Hanya tahun 2005 tertunda. Pertunjukan ini sebetulnya harus berlangsung pada Desember 2025. Namun almarhum suami saya, Ir. Winarya Lukman Machdar, meninggal dunia pada Juni 2025. Otomatis sejak Juni saya tidak bisa melakukan apa-apa, benar-benar blank, sehingga pagelarannya mundur. Yang seharusnya tahun lalu, jadi dilaksanakan sekarang,” demikian dikatakan Indrawati Lukman kepada wartawan belum lama ini di Kopi Toko Jawa, Jalan Buah Batu No. 209 (depan Kampus ISBI), Kota Bandung.
Pertunjukan bertajuk “Karsa Rekacipta Indrawati Lukman” ini akan menyuguhkan ragam tari kreasi khas STI, hasil garapan Indrawati bersama para penata tari berpengalaman, yakni Fier, Daeng, Rachel, Datam, Dedev, Edo, dan Deri.
Tarian yang melibatkan mahasiswa ISBI Bandung dan siswa SMA ini akan menampilkan tarian kreasi baru karya Indrawati Lukman sejak tahun 1969, 1970, dan seterusnya. Seluruhnya digarap dalam kemasan pendek, singkat, berbentuk medley, namun tetap berkualitas, enak ditonton, dan tidak membosankan. Satu bagian terdiri dari enam tarian yang rata-rata ditampilkan selama 20 menit, kecuali tarian anak-anak yang berdurasi sekitar 10 menit. Dengan format dua babak ditambah sempalan drama tari, pagelaran ini akan berlangsung sekitar satu setengah jam, dan total keseluruhan sekitar dua jam termasuk sambutan-sambutan.
Selain tarian lepas, dalam pagelaran kali ini STI juga menyelipkan Fragmen Tari (Sendratari) “Senjakala Cinta Jayengrana”. Menurut Prof. Arthur S. Nalan (Guru Besar Sosiologi Seni ISBI Bandung), fragmen ini merupakan sempalan cerita dari Serat Menak Cina, gubahan Raden Ngabehi Yasadipura, pujangga ternama Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada abad ke-18 (1729–1803). Cerita ini mengisahkan tragedi cinta antara Jayengrana dan Dewi Adaninggar, seorang putri dari negeri Tirai Bambu.
Kebetulan waktu pementasannya bertepatan dengan perayaan Imlek (hari ke-15) dalam budaya Tionghoa, sehingga sendratari ini sekaligus menjadi bagian dari penyambutan Imlek. Untuk menggarap sendratari ini, pihak STI mempercayakannya kepada Irwan Jamal, Dosen Teater ISBI Bandung, sebagai sutradara.
“Kami membuat acara yang tidak hanya sekadar fragmen drama tari, tetapi juga menghadirkan tarian kreasi dan tarian-tarian baru. Bu Indra selalu gelisah untuk menciptakan ide-ide kreatif dari berbagai gaya, ragam tarian, dan genre. Karena itu, dalam acara ini Bu Indra mengajak anak-anak muda generasi Gen Z, mahasiswa dan mahasiswi Jurusan Tari ISBI Bandung. Selain itu, ada pula kreasi musik yang diciptakan Mang Rodexz yang sudah malang melintang di dunia musik,” kata Irwan.

Dalam pagelaran ini, lanjut Irwan, unsur visual juga akan digarap kuat. Selain penataan cahaya yang ekspresif, akan ditampilkan multimedia yang mendukung suasana pertunjukan. Narasi akan dibawakan oleh seorang dalang (narator) bernama Gilang.
“Sehingga nanti akan tampak seperti drama tari Wayang Wong. Ada campuran wayang golek, tarian, unsur visual teatrikal, cahaya, dan multimedia, serta penggalan kisah dari Serat Menak Cina berdurasi sekitar 20 menit,” terangnya.
Cerita sempalan “Senjakala Cinta Jayengrana” ini, kata Irwan, hanya sebagai pemanasan. Ke depannya akan dibuat pagelaran khusus dengan durasi yang lebih panjang.
Hal lain yang patut disimak para orang tua dalam pagelaran ini adalah diselipkannya tarian khusus anak-anak, seperti permainan bambu, Tari Ayam, dan Moyeg. Hal ini lahir dari keprihatinan sang maestro terhadap hilangnya tarian yang dikhususkan untuk anak-anak. “Saya prihatin jika anak-anak justru disuruh menari jaipong. Karena itu saya mencoba membuat Tari Ayam, permainan bambu, dan Moyeg (igel-igelan) yang selaras dengan dunia anak-anak,” ujar Indrawati.
Selain itu, Indrawati yang kini berusia 82 tahun juga akan menarikan “Sekar Malela”, tarian baru ciptaannya yang menggambarkan kegagahan perempuan dalam kisah Panji Malela. Hal ini dilakukan untuk memenuhi permintaan murid-muridnya, terutama yang datang dari luar Bandung, yang ingin menyaksikan sang guru menari.
Ini merupakan ungkapan rasa syukur yang tak terhingga atas karunia Tuhan YME, karena perjalanan panjang STI mampu bertahan selama 58 tahun dalam upaya ngamumule seni Sunda. Alhamdulillah, hingga saat ini eksistensinya tetap terjaga dan setidaknya mampu memberi setitik warna dalam khazanah tari Sunda di Jawa Barat tercinta.
“Semoga pagelaran tari yang akan ditampilkan pada 14 Februari 2026 ini dapat menjadi ikon bahwa di Bandung, Tari Sunda sangat kaya dan beragam,” harapnya.

Jarang ada wadah kesenian seperti Studio Tari Indra di bawah pimpinan Indrawati Lukman yang mampu bertahan melestarikan Tari Sunda selama 58 tahun tanpa dukungan berarti dari pemerintah. Beruntung masih ada satu-dua sponsor, donatur, serta suami tercinta, Ir. Winarya Lukman Machdar, yang selalu mendorongnya untuk terus berkarya dan ngamumule seni-budaya Sunda.
“Namun saya akan terus berkarya agar anak-anak bisa ikut menari dan menjadi generasi penerus tari tradisi. Sayang sekali jika kesenian dan kebudayaan warisan leluhur yang adiluhung ini punah. Jika seni-budaya hilang, maka hilang pula bangsanya,” pungkas sang maestro, Penari Istana, murid tokoh Tari Sunda Raden Tjetje Somantri.
Studio Tari Indra juga akan kembali membuka kelas di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK/YPK) Jalan Naripan setelah Lebaran, sebagai upaya pewarisan kepada generasi muda.
Pagelaran ini sekaligus menegaskan Milangkala STI 58 sebagai momentum penting dalam pelestarian Tari Sunda di Kota Bandung.
Judul: Milangkala STI 58 Gelar “Karsa Rekacipta Indrawati Lukman” di De Majestic Braga
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah












