MajmusSunda News, Jum’at (17/07/2026) – Artikel berjudul “Merindu Muda” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Masa muda tak pernah benar-benar enyah;
hanya beralih rupa
menjadi bayang
yang sesekali kembali mengetuk pintu kenangan.

Dulu kami berlari
seolah cakrawala dapat dilipat
di saku koyak.
Langit terasa rendah,
cukup dijinjit sedikit
untuk menggapai mimpi.
Kami meminum pagi
dari gelas yang belum mengenal retak,
menanam harapan
di tanah yang belum merasakan tandus.
Setiap luka adalah jendela,
setiap gagal adalah angin
yang mengajari layang-layang
cara mencintai ketinggian.
Kini jalan-jalan itu
telah ditumbuhi bayang-bayang perkembangan diri.
Pohon-pohon mungkin lupa nama,
bangku-bangku mungkin tak lagi mengenali tawa,
tetapi waktu diam-diam
masih menyimpan sidik jari musim
di setiap kenangan.
Aku mengerti,
masa muda bukan taman
yang harus terus dihuni.
Ia adalah sungai
yang mengajari air
bahwa laut tak pernah lahir dari diam.
Maka bila suatu senja
aku menoleh ke belakang,
bukan untuk tinggal,
melainkan untuk mengucapkan salam syukur.
Sebab aku tahu,
orang yang berdiri hari ini
dibangun oleh anak muda
yang pernah jatuh,
pernah tersesat,
namun tetap percaya
bahwa matahari selalu hafal
jalan kembali menuju pagi.
***
Judul: Merindu Muda
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












