Merebut Pola Pikir

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (06/08/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Merebut Pola Pikir ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Pola pikir (atau mindset) adalah sekumpulan keyakinan, asumsi, dan cara pandang yang membentuk bagaimana seseorang memahami diri sendiri serta dunia sekitar. Hal ini berfungsi sebagai “lensa” mental yang mengontrol emosi, memengaruhi pengambilan keputusan, dan menentukan respons seseorang terhadap berbagai situasi.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Berdasarkan konsep psikologi populer dari Dr. Carol Dweck, pola pikir umumnya dibagi menjadi dua jenis utama yaitu :
1. Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset).
Keyakinan bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan adalah bawaan lahir yang tidak bisa diubah atau dikembangkan lagi.Reaksi terhadap Tantangan: Cenderung mudah menyerah, menghindari tantangan karena takut gagal, dan menganggap kritik sebagai serangan pribadi.

2. Pola Pikir Berkembang (Growth Mindset).
Keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat terus tumbuh dan ditingkatkan melalui usaha, kerja keras, dan pembelajaran.Reaksi terhadap Tantangan: Melihat kegagalan sebagai batu loncatan untuk belajar, menyukai tantangan baru, dan menganggap kritik sebagai masukan yang membangun.mengendalikan realitas hidu

9 Mengapa Pola Pikir Itu Penting ?
Pola pikir seseorang menentukan bagaimana dirinya beraksi saat menghadapi masalah atau kegagalan. Memiliki pola pikir yang tepat tidak hanya mendorong motivasi, tetapi juga membantu seseorang beradaptasi dengan perubahan, seperti yang dijelaskan dalam berbagai konsep pengembangan diri.

Merebut atau memengaruhi pola pikir seseorang secara mendalam berarti mengubah keyakinan dasar mereka (core beliefs). Dalam psikologi persuasif dan komunikasi, proses ini tidak bisa dilakukan dengan paksaan, melainkan melalui pendekatan taktis yang sistematis.

Berikut adalah langkah-langkah untuk memengaruhi dan mengarahkan pola pikir seseorang:
1. Bangun Kepercayaan (Rapport).
Simak pandangan mereka tanpa memotong atau menghakimi. Buat mereka merasa dipahami dan dihargai terlebih dahulu. Temukan titik temu atau nilai-nilai yang Anda berdua sepakati.
2. Pahami Akar Pola Pikir Mereka.
Cari tahu alasan atau trauma di balik cara berpikir mereka saat ini. Pahami apa yang mereka dapatkan dari pola pikir lama tersebut. Temukan apa yang paling mereka takuti jika harus mengubah sudut pandang.
3. Tanamkan Keraguan Secara Halus (Cognitive Dissonance) Gunakan metode Socrates untuk membuat mereka mempertanyakan keyakinan sendiri. Perlihatkan celah atau ketidaksesuaian dalam pola pikir lama mereka secara sopan. Sampaikan fakta atau perspektif alternatif tanpa terkesan menggurui.
4. Tawarkan Solusi atau Alternatif Baru
Jelaskan manfaat nyata jika mereka mengadopsi pola pikir yang baru. Sampaikan analogi atau kisah sukses orang lain agar lebih mudah diterima secara emosional. Pastikan pola pikir baru ini tidak mengancam identitas atau harga diri mereka.
5. Lakukan Penguatan Berulang (Reinforcement). Berikan pujian atau validasi setiap kali mereka menunjukkan keterbukaan. Sampaikan nilai-nilai baru tersebut secara berulang dalam berbagai situasi. Biarkan mereka memproses dan merasa bahwa perubahan tersebut adalah keputusan mereka sendiri.

Bila dicermati kondisi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat selama ini, memang tampak ada perbedaan pola pikir antara pengambil kebijakan negara dengan masyarakat. Salah satu contoh nyata yang sekarang tengah menjadi bahan perbincangan menarik adalah soal Program Makan Bergizi Grstis (MBG).

Perlawanan berbagai elemen masyarakat ini memuncak, ketiks para petinggi Badan Gizi Nasional (penanggung-jawah program MBG), ternyata tidak amanah dalam melaksanakan programnya di lapangan. Ditetapkannya para pejabat BGN oleh Kejaksaan Agung menunjukan bahwa program MBG yang semangatnya sangat mulia ini, ternyata telah disalah-gunaksn oleh oknum-oknum pejabat yang tidak bertanggungjawab.

Akibatnya, menjadi cukup rasional, jika banyak komponen bangsa yang meminta kepada Pemerintah untuk menghentikan pelaksanaan program MBG. Masyarakat khawatir kalau tidak ada pembenahan dalam tata mrlola program MBG, maka kejahatan kerah putih yang dilakukan para pengelola program ini bakal semakin menjadi-jadi.

Dihadapkan pada suasana seperti ini, sangat masuk akal bila kemudian muncul pertanyaan, apakah Pemerintah bakal menyetop program MBG sebagaimana yang diaspirasikan berbagai elemen bangsa ? Atau tidak, dimana Pemerintahan Presiden Prabowo, tetap akan meneruskan program MBG ?

Sekiranya kita dalami pertanyaan diatas, boleh jadi telah terjadi perbedaan pola pikir antara Pemerintah dengan sebagian warga masyarakatnya. Mana yang akan dipilih untuk dijadikan jawabannya ? Program MBG jalsn terus dengan berbagai pembenahan menuju pelaksanaan yang ldbih baik ? Atau bakal dihentikan secara permanen ?

Contoh carut marutnya program MBG, hanyalah sekedar pembuktian bahwa kemauan politik Pemerintah dengan aspirasi sebagian masyarakat, belum tertata dalam sebuah pola pikir yang sama. Masing-masing memiliki persepsi dan alasan. Tergantung dari sisi mana memandangnya. Justru yzng menjadi “pe-er” ke depan adalah bagaimana kemampuan kita untuk menyamakan kedua pola pikir itu.

Mari kita amati perkembangan selanjutnya ! (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Merebut Pola Pikir
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *