MajmusSunda News, Senin (17/08/2026) – Artikel berjudul “Merah Putih” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Di seluruh pelosok negeri,
merah dan putih masih berkibar.
Kainnya menua,
warnanya memudar.
Bersama usia bendera,
maknanya pun perlahan luntur.

Merah, kata orang,
adalah keberanian.
Tapi keberanian macam apa
yang tersisa,
ketika kepala terlalu lama belajar menunduk
dan mata mulai lupa
bagaimana rasanya menatap lurus?
Putih, kata orang,
adalah kesucian
tetap utuh
ketika diberi amanah,
ketika diberi kuasa,
ketika tak seorang pun menyaksikan.
Namun di negeri ini,
putih itu perlahan ternoda
oleh amanah yang diperjualbelikan,
oleh kuasa yang melampaui batas,
oleh tangan-tangan di atas
yang tak lagi menghiraukan
arus bawah.
Mula-mula kita terkejut.
Lalu terbiasa.
Sampai pada suatu hari,
noda tak lagi tampak
sebagai noda.
Mungkin begitulah sebuah warna memudar.
Bukan karena kainnya tua,
melainkan karena maknanya
terlalu lama dibiarkan
tinggal sebagai kata.
Setiap tahun
merah dan putih kembali dinaikkan.
Kita berdiri di bawahnya,
mengulang dua kata
yang telah kita hafal sejak kecil:
berani. suci.
Lalu bendera diturunkan,
dan hari kembali berjalan.
Tinggal pertanyaan
yang tak ikut diturunkan:
ketika merah berkibar,
apakah kita masih berani
berdiri,
ketika berdiri ada harganya?
Ketika putih berkibar,
masihkah kita mampu tetap utuh
ketika amanah, kuasa,
dan kesempatan
diletakkan dalam genggaman kita?
***
Judul: Merah Putih
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












