MajmusSunda News, Minggu (24/05/2026) – Artikel berjudul “Mengapa Indonesia Sulit Maju?” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, sistem tidak pernah melampaui kualitas manusia yang menggerakkannya. Adapun kualitas manusia Indonesia sendiri masih bermasalah dalam disiplin, integritas dan kapasitas kerja bersama.

Sementara itu, sistem bernegara kita ibarat orkestra tua yang kehilangan konduktor batinnya. Setiap alat musik masih berbunyi—kadang terlalu keras—namun tak lagi mendengar irama keseluruhan.
Kementerian bernyanyi tentang capaian, lembaga menari di atas laporan tahunan, rapat berubah menjadi seremoni angka, sementara komitmen ikatan kerja bersama mengendur.
Pembangunan bergeser menjadi kompetisi antar-logo. Partai-partai politik lebih sibuk mengamankan kepentingan masing-masing, melupakan agenda besar perjuangan bangsa. Setiap institusi menjaga pagar kewenangan, seolah republik hanya gugusan kantor yang dipisahkan sekat administrasi.
Di sela itu, kebijakan negara kerap tak sepenuhnya bertumpu pada visi sendiri, melainkan mudah terimbas arus kepentingan dan kekuatan eksternal yang bekerja senyap.
Hukum tak lagi menjadi tuntunan, melainkan jerat labirin. Kepastian berubah menjadi tafsir yang bisa dinegosiasikan. Negara tampak bergerak, tetapi seperti roda di lumpur: bising, ramai, tanpa sungguh maju.
Lalu datang mimpi-mimpi raksasa: Danantara, hilirisasi, MBG, lompatan digital, swasembada, poros Dunia. Semua itu terkesan bahasa masa depan, namun pelaksanaannya kerap menunjukkan distorsi antara cita dan realita.
Ide besar dipidatokan dengan semangat langit, tetapi dijalankan oleh mesin birokrasi yang tambun tapi lamban, dengan pejabat yang miskin kompetensi dan integritas. Visi lebih cepat lahir daripada kapasitas; ambisi melampaui disiplin.
Padahal bangsa runtuh bukan karena kekurangan ide, melainkan karena kehilangan keterhubungan: ketika negara tak lagi merasa satu tubuh, pejabat lebih sibuk menjaga citra daripada kerja, pelayanan publik berubah dari panggilan moral menjadi beban.
Dalam bernegara, kita kehilangan sifat dasar gotong-royong. Negara bak kapal besar disesaki nahkoda kecil: masing-masing memegang peta sendiri, merasa paling penting, dan berbicara tentang tujuan—tanpa pernah bergerak ke arah yang sama.
***
Judul: Mengapa Indonesia Sulit Maju?
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












