MajmusSunda News, Minggu (20/09/2026) – Artikel berjudul “Mendidik Manusia Era AI” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Jika suatu hari mesin mampu melakukan hampir semua pekerjaan yang kini kita anggap sebagai keahlian manusia, apa yang seharusnya kita ajarkan kepada anak?

Pertanyaan itu membawa kita pada What Should My Children Do? How to Flourish in the Age of AI, karya Daniel Susskind (2026).
Susskind mengingatkan: jangan mendidik manusia sekadar untuk mendapatkan pekerjaan. Dunia kerja berubah cepat. Mesin semakin mampu menulis, menghitung, menerjemahkan, menganalisis, membuat gambar, menulis kode, menemukan pola, hingga membantu mengambil keputusan. Keterampilan yang hari ini istimewa, esok bisa menjadi kemampuan biasa bagi mesin.
Karena itu, jangan sibuk mencari “pekerjaan yang aman dari AI”. Yang lebih penting adalah membentuk manusia yang mampu hidup baik di tengah perubahan.
Pendidikan tak cukup mengajarkan keterampilan teknis. Kita perlu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, terus belajar, menjaga perhatian, memahami orang lain, mengambil tanggung jawab, dan menentukan apa yang bernilai.
Di zaman ketika AI semakin pandai memberi jawaban, manusia harus makin pandai memilih pertanyaan. Ketika informasi mengalir tanpa henti, kemampuan menjaga perhatian menjadi kian berharga.
Dan ketika mesin mampu mengerjakan semakin banyak hal, kita perlu bertanya: Apa yang layak dikerjakan? Untuk siapa? Mengapa? Kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun?
AI bukan semata pesaing manusia. Ia juga dapat memperluas kemampuan kita: membantu belajar, menemukan pengetahuan, memecahkan masalah, dan melakukan hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan.
Namun ada satu hal yang tak boleh diserahkan kepada mesin: menentukan tujuan hidup kita.
Jangan mendidik anak agar sekadar sulit digantikan AI. Didik mereka agar tahu apa yang tidak seharusnya diserahkan pada AI.
Sebab masa depan bukan hanya soal pekerjaan, melainkan apakah di tengah mesin yang makin cerdas kita masih tahu untuk apa kita hidup, apa yang kita cintai, dan apa yang layak diperjuangkan.
Pada akhirnya, “Apa yang akan dilakukan anak-anak kita?” bukan terutama pertanyaan tentang karier, melainkan:
“Ketika mesin mampu melakukan banyak hal, manusia ingin menjadi siapa?” (Edulatif, No. 57).
***
Judul: Mendidik Manusia Era AI
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












