Mendadak Tua

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Sabtu (18/07/2026)  Artikel berjudul “Mendadak Tua” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Tak ada bunyi menandai
kapan pagi berubah jadi petang.
Tak ada daun meranggas
mengisyaratkan masa muda
memasuki musim gugur.

Suatu hari aku terjaga
dengan lutut terasa berkarat, punggung memikul endapan musim, napas mulai lupa irama.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Cermin tak pernah bohong, hanya menunjukkan
bahwa keriput adalah kalender
yang ditulis waktu
dengan tinta tak kasat.

Kukira setiap langkah mengejar masa depan, padahal setiap berpijak meniti jalan pulang.

Bertahun-tahun aku sibuk
memindahkan hari dari satu kotak ke kotak lain, menyusun daftar, mengejar angka, memenuhi kewajiban.

Kupikir sedang membangun kehidupan. Ternyata hanya membangun kesibukan.

Ketika menoleh,
jalan di belakang tak banyak jejak, kecuali debu yang segera dihempas angin.

Ke mana perginya
pagi yang tergesa,
malam yang kutukar dengan cemas,
dan mimpi yang lamat kehilangan pemiliknya?

Umur bukan soal hitungan tahun,
melainkan jarak antara hati dan kesadaran
bahwa segala sesuatu sedang berlalu.

Tua adalah saat seseorang sadar
tak ada satu pun hari
yang dapat dipanggil kembali.

Lalu apa arti hidup,
jika akhirnya
rumah berpindah tangan,
nama menghilang,
dan tubuh kembali ke tanah?

Mungkin hidup
bukan tentang lamanya tinggal,
melainkan dalamnya hadir.

Yang paling mahal
bukanlah usia, melainkan perhatian:
memandang wajah yang kita kasihi seolah itulah wajah terakhir yang ditampakkan semesta.

Tuhan mungkin bersembunyi
dalam hal-hal biasa
yang lupa kita syukuri.

Jika masih ada sisa musim,
aku tak ingin lagi berlomba dengan jam.

Aku ingin menjadi tempat pulang bagi hati yang letih.

Meninggalkan jejak bukan di batu, melainkan di ingatan seseorang yang kelak berkata,

“Aku pernah dicintai.”

Kepada tunas muda yang baru menyongsong matahari, jangan terburu-buru
mengejar segala yang berkilau.

Dunia akan mengajarkan
cara menjadi cepat. Tetapi manusia harus belajar menjadi utuh.

Kelak kalian pun akan terbangun dengan tubuh ringkih.

Saat itu
yang menemani
bukanlah kuasa atau pujian.
Melainkan satu pertanyaan:

“Apakah aku sungguh telah hidup, atau hanya sibuk menunda kehidupan?”

Hidup bukan perkara berapa lama kita tinggal, namun berapa limpah cahaya kita pancarkan sebelum pulang.

***

Judul: Mendadak Tua
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *