MajmusSunda News, Minggu (02/08/2026) – Artikel berjudul “Menanam Harapan” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Jumat lalu (31/07/26), saya memberi pembekalan Wawasan Kebangsaan kepada para penerima Beasiswa LPDP PK-279 Arunantara. Kepada mereka saya sampaikan satu pengingat yang mendasar: Indonesia adalah cita-cita pembebasan.

Yang sesungguhnya dijajah oleh kolonialisme adalah kerajaan-kerajaan dan masyarakat di kepulauan Nusantara. Indonesia sendiri lahir sebagai ikhtiar politik untuk menyatukan keragaman itu ke dalam satu cita-cita: membebaskan manusia dari penjajahan dan membangun bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Karena itu, Indonesia bukanlah kenyataan yang telah selesai, melainkan janji yang harus terus diperjuangkan; bukan state of being, melainkan state of becoming.
Maka, kita tak perlu tenggelam dalam pesimisme karena cita-cita itu belum sepenuhnya tercapai. Namun kita juga tak boleh terlena oleh optimisme yang buta. Kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila setelah kolonialisme berlalu, yang tumbuh justru politik penjajahan oleh bangsa sendiri—ketika kekuasaan menjauh dari keadilan dan negara lupa kepada rakyatnya.
Jalan menuju cita-cita itu selalu bermula dari kualitas manusia. Pengalaman banyak bangsa menunjukkan bahwa pendidikan adalah paspor menuju kemajuan, karena ia melahirkan bukan hanya pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga watak, etika, daya cipta, serta kemampuan mengubah gagasan menjadi kemaslahatan.
Karena itulah, menjadi penerima beasiswa LPDP adalah sebuah privilege. Hanya sebagian kecil anak bangsa memperoleh kehormatan belajar dengan dukungan dana publik. Setiap privilege selalu mengandung tanggung jawab noblesse oblige. Ilmu yang diperoleh bukan sekadar untuk meninggikan diri, melainkan untuk mengangkat martabat bangsa.
Di bawah langit Indonesia yang masih muram oleh ketimpangan, korupsi, dan pudarnya kepercayaan, tunaikanlah amanah itu. Jadikan ilmu sebagai pengabdian, integritas sebagai pegangan, dan kepemimpinan sebagai pelayanan. Sebab cita-cita pembebasan tidak berhenti pada merdeka dari penjajahan; ia menemukan maknanya ketika kita menggunakan kemerdekaan itu untuk merdeka bagi keadilan, kemajuan, dan memuliakan kemanusiaan.
***
Judul: Lentera Sadar
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












