Memaknai Renik

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif, penulis - (Sumber: Koleksi pribadi)

MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Rabu (16/07/2025) Esai berjudul “Memaknai Renik” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, di bawah langit malam yang bening, aku berdiri kecil di antara gemuruh diam galaksi. Triliunan bentang cahaya melayang dalam kehampaan, bintang-bintang menari dengan planet di sekelilingnya dan satelit-satelit berputar dalam kesetiaan yang sunyi.

Bumi, tempatku berpijak, hanyalah debu di antara debu; dan aku? Hanya sekelumit partikel—renik quark dalam tarian semesta—tak terlihat, tak terdengar. Namun, menyimpan gelisah yang tak henti bertanya: untuk apa semua ini?

Duduk di bawah sinar bintang
Ilustrasi: Seorang pria sedang duduk di bawah sinar bintang pada malam hari – (Sumber: Arie)

Jika kehidupan hanya berdenyut di satu titik mungil di tengah jagat raya yang tak bertepi, mengapa semesta mesti sebegitu luas dan megah? Ataukah ada jiwa-jiwa lain, entah di sudut mana yang juga memandang langit dan bertanya hal serupa?

Mungkin semesta bukan semata ruang bagi kehidupan, melainkan cermin dari kesadaran—kesadaran bahwa kita kecil. Namun, mampu menyadari keterkecilan itu, dan dari sanalah makna lahir.

Di tengah keluasan yang menelan logika, hidup bukan lagi soal besar atau kecilnya wujud, melainkan soal kedalaman batin dalam meresapi keberadaan. Kita hadir bukan untuk menguasai, melainkan untuk menyimak; bukan untuk menaklukkan semesta, tapi untuk tunduk pada keindahan yang melampaui akal.

Kita bukan pusat dari segalanya, tetapi serpih yang diberi hak istimewa untuk memahami bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari diri.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa luas semesta yang menjadikan kita berarti, melainkan seberapa dalam kita meresapi kehadiran kita di dalamnya.

Jadilah lentera kecil yang menyala dalam gelapnya tak terhingga sebab sekalipun nyala itu mungil, ia mengandung nyawa semesta: kesadaran, cinta, dan kerinduan untuk pulang kepada Yang Maha Luas.

***

Judul: Memaknai Renik
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Memaknai Renik
Prof. Yudi Latif, penulis – (Sumber: Instagram)

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *