Masagi

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (14/06/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Masagi ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

“Masagi” secara harfiah = segi empat/balok yang utuh, tidak ada yang “somplak” atau kurang. Kalau untuk orang, maksudnya sosok yang lengkap luar-dalam. Dalam budaya Sunda, “pemimpin yang masagi” artinya pemimpin yang utuh, sempurna, dan serba bisa.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Ciri pemimpin yang masagi:
1. Cageur. Sehat jasmani dan rohani
Pemimpin harus waras, kuat, dan punya energi. Kalau pemimpinnya sakit-sakitan atau pikirannya kusut, susah ngurus rakyat.

2. Bageur. Baik hati dan berbudi luhur
Punya welas asih, rendah hati, someah ka semah. Tidak adigung-adiguna. Prinsipnya silih asah, silih asih, silih asuh.

3. Bener. Jujur dan adil
Ucapan dan perbuatan lurus. Tidak korupsi, tidak ngamungpangkeun jabatan Berani karena benar, takut karena salah.

4. Pinter. Cerdas dan berwawasan luas
Pinter di sini bukan cuma IQ tinggi, tapi juga pinter baca situasi, pinter nyari solusi, pinter ngarangkul semua golongan. Harus nyantri, nyunda, nyakola, paham agama, budaya, dan ilmu pengetahuan.

5. Singer. Mawas diri dan waspada
Peka, teliti, tidak ceroboh. Bisa ngaji diri instropeksi. Tahu kapan harus maju, kapan harus ngerem.

6. Penger. Tegas dan berani bertindak
Kalau sudah bener, harus penger menegakkan aturan. Tidak plin-plan atau takut sama tekanan. Tapi tegasnya tetap pakai budi dan rasa bukan asal galak.

Konsep masagi ini lahir dari falsafah Sunda lama. Pemimpin dianggap “pancer” atau pusat. Kalau pancer-nya goyang, semua ikut goyang. Jadi pemimpin harus sampurna lahir batin, supaya bisa ngayom bukan ngagebot.

Di naskah-naskah Sunda buhun seperti Sewaka Darma dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian, pemimpin ideal disebut tohaan di negara yang harus punya wastu, wisesa, waskita, wibawa, wirahma. Jadi kalau ada yang bilang “pemimpin kudu masagi”, artinya: jangan cuma pinter doang tapi korupsi, jangan cuma baik tapi lemah, jangan cuma tegas tapi belegug. Harus komplit.

“Masagi” dalam bahasa Sunda artinya lengkap, serba bisa, matang lahir-batin. Kalau ditanya “apakah sekarang adakah saat ini pemimpin bangsa yang masagi ? Jawabannya tergantung ukuran apa yang dipakai, karena ini penilaian yang sifatnya subjektif.

Hanya, bila menggunakan kriteria “masagi” secara umum, biasanya orang-orang akan melihat 4 hal yang strategis yakni utamanya kapabilitas teknis. Dirinya, memahami betul soal birokrasi, ekonomi, hukum, sampai teknis lapangan.

Selanjurnya, integritas dan moral, artinya jujur, amanah, rekam jejak bersih. Kemudian, kepemimpinan sosial, bisa merangkul semua golongan, komunikasi bagus, dekat dengan rakyat. Lalu, visi kebangsaan. Dalam hal ini memiliki konsep jelas buat bawa Indonesia maju, bukan cuma populer.

Pertanyaan yang sering diungkap bagaimana realitanya sekarang ? Jujur diakui sulit bilang ada yang 100% “masagi” di mata semua orang. Politik itu dinamis. Fakta kehidupan sering menunjukkan, pemimpin yang dinilai hebat di satu sisi, bisa dikritik di sisi lain.

Contoh nyatanya :
– Di eksekutif pusat. Ada yang dipuji karena pembangunan infrastruktur & hilirisasi, tapi dikritik soal demokrasi atau lingkungan.
– Di daerah. Banyak kepala daerah yang inovasinya diakui nasional, tapi belum tentu kuat di panggung nasional.
– Tokoh non-pemerintahan misal akademisi, ulama, aktivis, atau pengusaha ada yang dianggap “masagi” karena ilmu, akhlak dan kontribusi nyata, tapi nggak pegang jabatan politik.

Mengapa susah menemukan Pemimpin bangsa yang “masagi sempurna ? Pertama, ekspektasi publik makin tinggi dan cepat berubah karena medsos. Kedua, masalah bangsa kompleks ekonomi, geopolitik, iklim, teknologi. Tidak ada satu orang yang jago semua bidang. Ketiga, sistem sekarang lebih butuh kerja tim/kabinet “masagi”, bukan 1 orang superman.

Jadi, kalau pertanyaannya “ada tidak pemimpin yang “masagi” ? Jawabannya: ada banyak pemimpin yang punya sebagian unsur masagi, tapi yang sempurna di semua aspek dan diakui semua pihak itu langka. Justru itu kenapa regenerasi dan kerja kolektif menjadi penting. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Masagi
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *