MajmusSunda News, Sabtu (08/08/2026) – Artikel berjudul “Masa Merah Muda” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Dulu, markas organisasi mahasiswa lebih pantas disebut rumah
daripada kamar kos yang kami bayar tiap bulan.
Di sana ada tikar yang hafal bentuk punggung kami,
kopi yang tak pernah benar-benar habis,
gorengan yang lenyap sebelum rapat usai,
dan mi instan yang naik pangkat
menjadi menu perjuangan.

Malam adalah universitas yang sesungguhnya.
Kami berdebat sampai dini hari
tentang revolusi, demokrasi, kelas, kebebasan;
tentang Marx, Gramsci, Ali Shariati,
buku-buku kiri baru dan sosial kritis
yang berpindah tangan
lebih sering daripada kembali ke sang pemilik.
Tak semua kami pahami.
Sering kami mengangguk penuh keyakinan,
padahal maknanya baru tiba
bertahun-tahun kemudian.
Begitulah masa muda:
keberanian berlari lebih cepat
daripada pemahaman.
Pagi datang bersama lembaran poster.
Kami mencampur cat dan gagasan,
menulis kemarahan dan harapan
dengan huruf-huruf besar,
seolah dunia bisa berubah
hanya dengan satu spanduk.
Jalanan menjadi ruang kuliah.
Kami memimpin barisan, berorasi dan baca puisi di tengah massa,
menjadikan kata-kata
sebagai pengeras suara
bagi mereka yang dibungkam.
Ada masa ketika tank berdiri di depan kami.
Kami takut tentu saja.
Lutut gemetar, dada berdebar.
Namun langkah tetap maju.
Sebab keberanian bukan ketiadaan takut,
melainkan kesediaan berjalan
bersama rasa takut.
Kuliah?
Ah, jangan ditanya.
Kami lebih hafal jadwal konsolidasi
daripada jadwal mata kuliah.
Ujian diselamatkan oleh ritual keramat
belajar sistem kebut semalam.
Ajaibnya, IPK masih cukup
untuk menenangkan orang tua.
Kini poster-poster itu telah lenyap,
markas telah berganti penghuni,
dan wajah-wajah kami berubah oleh waktu.
Namun aroma kopi, diskusi hingga fajar,
dan puisi yang pernah menggema di jalan,
selalu membawa kami pulang
pada masa ketika kami percaya
sejarah masih bisa diajak bicara.
Kepulangan yang bukan sekadar kenangan,
melainkan pantulan harapan bagi generasi mendatang:
rawatlah keberanian berpikir,
jaga api tradisi kritis,
dan pastikan republik tetap berjalan
dengan nurani yang berpihak
pada keadilan dan kemanusiaan.
Sebab mahasiswa bukan sekadar penghuni kampus,
melainkan penjaga nurani zaman.
***
Judul: Masa Merah Muda
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












