MajmusSunda News, Jawa Barat, Kamis (08/10/2026) โ ๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐๐ฎ๐ช๐ฃ merupakan ungkapan yang sangat populer di kalangan urang Sunda. Ungkapan ini begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari, mencerminkan kesantunan, keramahan, dan kebiasaan mendahulukan orang lain. Namun, di balik keluhuran maknanya, ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐๐ฎ๐ช๐ฃ belakangan justru kerap menjadi tertuduh atas ketertinggalan urang Sunda. Sikap yang dianggap terlalu sering mengalah, terlalu banyak memberikan kesempatan kepada orang lain, dan enggan tampil di depan dituding telah membuat urang Sunda kehilangan banyak peluang.
Akibatnya, demikian tudingan itu, orang lain yang tampil memimpin, orang lain yang menguasai kesempatan, orang lain pula yang menikmati keuntungan. Sementara urang Sunda cukup menjadi penonton di tanahnya sendiri. Kesantunan yang selama ini dibanggakan bahkan dianggap telah berubah menjadi kelemahan dalam menghadapi persaingan kehidupan yang semakin keras.
Tetapi, benarkah ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐๐ฎ๐ช๐ฃ mengajarkan urang Sunda untuk selalu mengalah? Ataukah kita yang selama ini keliru memahami dan menempatkan falsafah tersebut?
๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐๐ฎ๐ช๐ฃ bukanlah ungkapan yang mengajarkan urang Sunda untuk menyerahkan kesempatan, menghindari persaingan, atau membiarkan orang lain mengambil alih kepemimpinan. Ungkapan ini mengandung nilai pengendalian diri, terutama ketika seseorang berhadapan dengan hak, kepentingan, dan keuntungan pribadi. Ketika ada sesuatu yang hendak dinikmati bersama, ia mempersilakan orang lain terlebih dahulu. Bukan karena tidak mampu mengambilnya, melainkan karena tidak ingin menjadi orang yang serakah.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai tersebut tercermin dalam kebiasaan mempersilakan orang lain mengambil makanan terlebih dahulu, memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan, atau tidak berebut memperoleh bagian paling menguntungkan. Sikap demikian mencerminkan penghormatan kepada sesama tanpa harus mengorbankan harga diri.
Namun, falsafah ini tidak sepatutnya diterapkan secara membabi buta. Dalam memperjuangkan hak yang sah, mempertahankan martabat, atau mengambil kesempatan untuk berkarya dan memimpin, urang Sunda tidak harus selalu mempersilakan orang lain. Kesempatan yang menuntut kemampuan dan keberanian justru harus disambut dengan kesiapan untuk tampil.
Dalam kehidupan urang Sunda, kita juga mengenal ungkapan lain yang tidak kalah penting, yakni ๐ฌ๐๐ค๐จ ๐ ๐ช ๐๐๐๐.
Ungkapan ๐ฌ๐๐ค๐จ ๐ ๐ช ๐๐๐๐ menggambarkan karakter sonagar, yakni pribadi yang memiliki inisiatif, sigap bertindak, dan berani mengambil peran. Ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan atau persoalan yang membutuhkan jalan keluar, ia tidak menunggu orang lain bergerak. Kesediaannya tampil bukan didorong keinginan memperoleh pujian, melainkan kesadaran untuk memberikan manfaat.
Karakter seperti ini sangat penting dalam membangun kehidupan bersama. Sebuah keluarga, organisasi, masyarakat, bahkan bangsa, tidak akan maju apabila setiap orang hanya pandai mempersilakan orang lain bertindak. Kemajuan membutuhkan manusia yang mampu mengambil keputusan, bersedia bekerja, dan tidak menghindar ketika menghadapi kesulitan.
๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐๐ฎ๐ช๐ฃ dan ๐ฌ๐๐ค๐จ ๐ ๐ช ๐๐๐๐ bukanlah dua sikap yang bertentangan. Keduanya merupakan satu kesatuan karakter yang saling melengkapi. Yang pertama mengajarkan kebesaran hati ketika berhadapan dengan hak dan keuntungan, sedangkan yang kedua menumbuhkan keberanian ketika berhadapan dengan kewajiban dan tanggung jawab.
Dari perpaduan keduanya lahir pribadi yang santun tetapi tangguh, rendah hati tetapi percaya diri, tidak serakah tetapi memiliki daya juang. Ia tidak sibuk berebut hasil, tetapi tidak pernah menghindari proses. Ia tidak selalu ingin tampil ketika penghargaan dibagikan, tetapi bersedia berada di barisan depan ketika pekerjaan harus dilaksanakan.
Persoalannya, jangan-jangan dalam kehidupan sosial urang Sunda hari ini justru terjadi pembalikan nilai. Ketika ada pekerjaan berat, persoalan bersama, atau tanggung jawab yang membutuhkan pengorbanan, yang terdengar adalah ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐๐ฎ๐ช๐ฃ. Semua saling mempersilakan, berharap orang lain yang mengambil peran. Sebaliknya, ketika ada jabatan, kedudukan, fasilitas, atau keuntungan yang hendak dibagikan, semangat ๐ฌ๐๐ค๐จ ๐ ๐ช ๐๐๐๐ tiba-tiba muncul. Semua ingin mendapat kesempatan pertama.
Jika keadaan seperti ini berkembang menjadi kebiasaan sosial, tentu yang perlu dipersoalkan bukanlah falsafah leluhur, melainkan cara kita memahami dan mengamalkannya. Kesantunan justru dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab, sedangkan keberanian mengambil inisiatif lebih sering muncul ketika ada keuntungan yang dapat dinikmati.
Membicarakan kembali kedua ungkapan tersebut bukan sekadar bernostalgia terhadap kebijaksanaan masa lalu. Keduanya dapat menjadi landasan untuk membangun kembali karakter dan habitus sosial urang Sunda. Nilai tersebut perlu ditanamkan sejak lingkungan keluarga, dibiasakan dalam pendidikan, dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat, dan diteladankan oleh mereka yang memperoleh amanah kepemimpinan.
Anak-anak perlu belajar untuk tidak berebut sesuatu yang menjadi hak bersama, sekaligus didorong menjadi yang pertama menawarkan bantuan. Generasi muda perlu dibiasakan berani mengambil peran tanpa selalu mengharapkan imbalan. Para pemimpin pun semestinya tampil paling depan ketika menghadapi persoalan, tetapi mampu menahan diri ketika berhadapan dengan hak istimewa dan fasilitas.
Merawat kasundaan tidak cukup hanya dengan melestarikan bahasa, kesenian, pakaian adat, atau berbagai simbol kebudayaan. Ada warisan yang lebih mendasar untuk dipelihara, yakni nilai-nilai yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Urang Sunda tidak perlu kehilangan kesantunannya untuk menjadi maju, ataupun meninggalkan kerendahan hatinya untuk menjadi pemimpin. Justru dari keseimbangan antara kesantunan dan keberanian itulah karakter luhur yang diwariskan para karuhun menemukan maknanya dalam kehidupan masa kini.
Menghidupkan kembali karakter luhur urang Sunda dapat dimulai dengan menempatkan kedua ungkapan sederhana ini pada tempat yang semestinya.
๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ฉ๐๐ฅ๐๐ฎ๐ช๐ฃ ๐๐๐ฃ๐ ๐ฃ๐๐ง๐๐ข๐ ๐๐๐ , ๐ฌ๐๐ค๐จ ๐ ๐ช ๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ๐ ๐ฃ๐๐๐ก๐๐ ๐จ๐๐ฃ๐๐ ๐๐ช๐ฃ ๐ ๐๐ฌ๐๐๐๐๐๐ฃ.
Jangan sampai justru sebaliknya.
๐ฆ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ, ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฝ
***
Judul: Mangga Tipayun, Wios Ku Abdi
Penulis:ย Kang Eep
Editor:ย Raka Alvaro Triputra












