Mana Yang Layak Untuk KDM Saat Ini, Bapak Aing atau Gubernur Kumaha Aing?

Catatan Kritis Terhadap Gaya Kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi

bapak aing
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Foto: Istimewa)

MajmusSunda News, Rubrik OPINI, Rabu (30/07/2025) – Tulisan berjudul “Mana Yang Layak Untuk KDM Saat Ini, Bapak Aing atau Gubernur Kumaha Aing?” ini ditulis oleh: Rd. H. Holil Aksan Umarzen,  Dewan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA).

bapak aing
Rd. H. Holil Aksan Umarzen, Dewan Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (Foto: Redaksi)

Dalam tradisi Sunda, gelar “Bapa Aing (Bapak Aing)” bukan sekadar sapaan akrab atau gimmick politik. Ia adalah gelar kehormatan dari rakyat kepada seorang pemimpin yang dianggap sebagai “gunung pananggeuhan” yaitu tempat bersandar, panutan, dan pelindung bagi masyarakat. Sosok ini diharapkan hadir dengan kehangatan, ketegasan, dan kebijakan yang menyejukkan kehidupan rakyat.

Namun, di tengah populernya figur Kang Dedi Mulyadi (KDM), muncul ironi dalam penghayatan makna gelar ini. Gaya kepemimpinan Dedi, meskipun mengangkat simbol budaya dan menyentuh emosi publik, justru memperlihatkan pola-pola yang bertentangan dengan esensi “Bapa Aing” itu sendiri.

Sebaliknya, muncul karakter lain yang tak diucapkan namun terasa dalam gaya kepemimpinan beliau—yakni gaya “Kumaha Aing”, sebuah metafora kepemimpinan yang ego-sentris, tidak empatik, dan berjalan sendiri tanpa menyerap denyut rasa dan kebutuhan rakyat.

1. “Bapa Aing”: Harapan Rakyat, Bukan Sekadar Citra

Rakyat Jawa Barat memiliki harapan besar terhadap figur pemimpin yang dapat menjadi panutan sejati. Dalam konteks ini, gelar “Bapa Aing” adalah doa kolektif: pemimpin yang mendengar bukan sekadar mendengarkan, yang hadir bukan sekadar muncul di layar, yang bekerja bukan untuk like dan share, tetapi untuk keadilan dan kemaslahatan.

Sayangnya, gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi hari ini lebih menampilkan sisi dramatis ketimbang strategis. Konten-konten sosial media tentang menyuapi tukang becak, menemani anak jalanan, atau mengantar jenazah memang menyentuh, tapi apakah itu menjawab akar masalah? Apakah ada kebijakan sistemik yang mengikuti aksi-aksi tersebut?

Rakyat tak bisa terus-menerus dijejali dengan romantisme panggung. Mereka menuntut arah, bukan adegan. Mereka menanti sistem, bukan sinetron.

2. “Kumaha Aing”: Simbol Kepemimpinan yang Terputus dari Rasa

Gaya “Kumaha Aing” menggambarkan karakter pemimpin yang mengambil keputusan sepihak, tanpa konsultasi mendalam atau evaluasi kebutuhan rakyat. Ini bukan hanya tentang sikap, tapi juga tercermin dalam beberapa kebijakan kontroversial:

Perubahan nama RSUD Al-Ihsan menjadi Welas Asih: dipertanyakan substansinya karena tak diiringi peningkatan kualitas layanan.

Wacana barak militer untuk remaja: pendekatan yang lebih mencerminkan represi moral daripada pendidikan berbasis nilai.

Ekspansi sekolah negeri tanpa keseimbangan terhadap eksistensi sekolah swasta: menunjukkan kecerobohan tanpa visi sistem pendidikan yang berkelanjutan.

Semua ini menggambarkan sikap pemimpin yang merasa cukup dengan keyakinannya sendiri, tanpa menyelami perasaan dan penderitaan rakyat. Itulah esensi dari “Kumaha Aing”.

3. Pemimpin Sejati Tak Butuh Panggung, Tapi Landasan Sistem

Pemimpin yang layak disebut “Bapa Aing” seharusnya hadir sebagai arsitek sistem, bukan aktor panggung. Ia membangun bukan hanya narasi, tapi ekosistem yang melindungi dan memperkuat rakyat. Ia bukan sekadar simbol budaya, tapi pelaksana nilai budaya itu sendiri: welas asih, keadilan, dan tanggung jawab.

Jika Dedi Mulyadi ingin betul-betul meraih makna “Bapa Aing”, maka ia perlu melepaskan ego populisme dan mulai membangun sistem yang menyelesaikan masalah secara struktural. Tanpa itu, rakyat hanya akan disuguhi tontonan, bukan solusi.

Antara Penghormatan dan Penggiringan Emosi

Saat ini, publik harus jernih membedakan antara pemimpin yang layak dihormati karena kerja dan nilainya, dengan pemimpin yang hanya menggiring emosi melalui pencitraan. Gelar “Bapa Aing” tidak boleh jatuh menjadi kemasan politik kosong, sementara gaya “Kumaha Aing” justru menjadi praktik sehari-hari.

Rakyat Jawa Barat butuh pemimpin yang merasakan penderitaan mereka, berpikir dengan mereka, dan bekerja bersama mereka. Bukan yang berjalan sendiri dengan ego besar dan sorotan kamera.

Pilihan kini di tangan rakyat: Apakah kita akan terus menepuk bahu sang aktor, atau mulai mencari arsitek sejati masa depan?

***

Judul: Mana Yang Layak Untuk KDM Saat Ini, Bapak Aing atau Gubernur Kumaha Aing?
Penulis: Rd. H. Holil Aksan Umarzen
Editor: Asep Ruslan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *