Letusan Krakatau (?), Acoustic Shadow Zone, dan Suara Dentuman di Jawa Bagian Barat

Krakatau

MajmusSunda News – Bandung, Minggu (06/09/2026) – Semalam, Jawa bagian barat seperti “mendengar sapaan” berupa dentuman yang muncul dan hilang selama beberapa jam.

Berdasarkan laporan PVMBG, pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Hingga 5 September 2026 pukul 04.40 WIB, erupsi masih berlangsung dan suara gemuruh masih terdengar dari Pos PGA Krakatau Pasauran.

Menariknya, pada waktu yang hampir bersamaan, suara dentuman dilaporkan terdengar di berbagai wilayah Jawa bagian barat.

Apakah dentuman tersebut berasal dari erupsi Anak Krakatau? Belum tentu. Perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan sumbernya. Namun, ada satu fenomena atmosfer yang menarik untuk kita lihat: acoustic shadow zone atau “zona bayangan suara”.

Mengapa suara bisa terdengar jauh, tetapi tidak terdengar di tempat yang lebih dekat?

Model yang dibuat oleh Chervet dkk. (1996) menjelaskan:

Secara sederhana, suara tidak selalu merambat lurus dari sumber ke segala arah.

Kondisi atmosfer—terutama perubahan temperatur dan arah/kecepatan angin terhadap ketinggian—dapat mengubah kecepatan rambat suara. Akibatnya, gelombang suara dapat dibelokkan ke atas (upward refraction).

Di dekat permukaan kemudian dapat terbentuk suatu wilayah yang disebut shadow zone. Di wilayah ini, meskipun secara geografis relatif dekat dengan sumber suara, gelombang suara langsung justru tidak sampai. Hasilnya: suara bisa terdengar sangat lemah, bahkan sama sekali tidak terdengar.

Lalu muncul fenomena yang lebih menarik.

Semakin jauh dari sumber, suara tidak selalu semakin hilang. Sebagian energi suara yang merambat di atas shadow zone dapat mengalami scattering akibat turbulensi atmosfer dan, dalam kondisi tertentu, difraksi. Energi tersebut kemudian dapat “tersebar” kembali ke wilayah bayangan suara.

Akibatnya, suara yang tidak terdengar di suatu tempat justru bisa kembali terdengar di lokasi yang lebih jauh dari sumber.

Jadi, secara sederhana, bukan berarti suara dari Krakatau (?) atau sumber lainnya berhenti merambat. Atmosfer dapat mengubah jalur rambatnya. Ada wilayah yang menjadi “bayangan suara”, sementara di tempat yang lebih jauh sebagian energi suara dapat kembali masuk melalui proses scattering dan difraksi atmosfer.

Dan malam tadi, salah satu tempat yang “mendapat kiriman suara” itu adalah rumah saya di Bandung.

Apakah ini cara Krakatau (?) menyapa saya dan kita semua semalam?

Bisa jadi menarik untuk dipertimbangkan sebagai salah satu hipotesis, tetapi tentu belum bisa disimpulkan demikian.

Untuk menjawabnya dengan lebih meyakinkan, diperlukan kajian lebih mendalam: korelasi waktu erupsi dengan waktu kedatangan suara, kondisi atmosfer saat kejadian, karakteristik sinyal suara, serta data dari berbagai lokasi di Jawa bagian barat.

Jadi, dentuman semalam masih menjadi sebuah pertanyaan menarik—bukan sebuah kesimpulan.

Kajian lebih mendalam tentu perlu kita lakukan.

Judul: Letusan Krakatau (?), Acoustic Shadow Zone, dan Suara Dentuman di Jawa Bagian Barat
Penulis: Mirzam Abdurrachman
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *