Kutukan Goliath

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Sabtu (16/05/2026)  Artikel berjudul “Kutukan Goliath” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, Amerika Serikat berdiri seperti menara kaca di tengah angin sejarah tinggi, berkilau, dan tampak tak tergoyahkan. Kota-kotanya tak pernah tidur, teknologi dan algoritmanya mengatur arus informasi dunia, sementara kekuatan ekonomi dan militernya menjulur ke hampir seluruh penjuru bumi.

Namun di balik permukaan yang memantulkan kejayaan itu, retakan perlahan muncul: ketimpangan sosial melebar, kepercayaan publik menurun, dan polarisasi politik semakin mengeras.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Dalam buku Goliath’s Curse, Luke Kemp menggambarkan peradaban besar sebagai “Goliath”: raksasa yang tumbuh dari kekuatan, tetapi sekaligus membawa benih keruntuhan di dalam dirinya sendiri. Ia runtuh bukan karena lemah, melainkan karena terlalu berat oleh ketimpangan dan tekanan yang diciptakannya sendiri.

Gambaran demikian terasa relevan untuk membaca Amerika Serikat hari ini. Di negeri itu, kekayaan semakin terkonsentrasi di puncak piramida, sementara sebagian besar warga merasa tertinggal dari janji kemajuan. Kota-kota digital berkembang cepat, tetapi banyak warga justru kehilangan kepercayaan pada institusi politik. Polarisasi sosial membelah rakyat ke dalam narasi yang kian sulit saling mendengar. Dalam situasi seperti ini, ancaman terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari ketegangan yang tumbuh di dalam tubuh peradaban itu sendiri.

Kemp menunjukkan bahwa banyak “Goliath” dalam sejarah jatuh melalui pola serupa: ketimpangan yang melebar, elite yang terpisah dari realitas rakyat, serta tekanan sosial dan ekologis yang tak lagi mampu ditampung sistem.

Namun analisis itu bukan ramalan deterministik. Ia lebih merupakan peringatan bahwa stabilitas tidak pernah bertahan hanya dengan kekuatan, melainkan dengan kemampuan menjaga keseimbangan dan keadilan.

Maka Amerika kini berada di persimpangan sejarah: menjadi Goliath yang semakin berat oleh kejayaannya sendiri, atau menata ulang kekuatannya agar lebih tersebar, adil, dan berkelanjutan. Retakan yang tampak hari ini bukan sekadar tanda bahaya, tetapi juga kesempatan untuk membaca ulang arah sejarah sebelum menara besar itu kehilangan keseimbangannya.

***

Judul: Kutukan Goliath
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *