Kuldesak

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Kamis (20/08/2026)  Artikel berjudul “Kuldesak” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Kita hidup di sebuah negeri
yang peta jalannya mulai kusut.
Sepanjang lintasan, papan penunjuk arah patah,
lampu-lampu berkedip seperti ragu,
dan orang-orang berjalan
sambil bertanya dalam hati:
masihkah ada tempat
yang bisa disebut masa depan?

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Dalam menempuh rute tak menentu itu,
harga dan pungutan melambung,
jurang ekonomi kian menganga,
hukum kehilangan neraca,
keadilan tinggal bayang-bayang.

Tak heran bila langkah-langkah
mulai goyah.
Kita berjalan dalam ragu,
sementara masa depan
kian kabur dari pandangan.

Yang paling mencekam
bukan ketika jalan buntu,
melainkan ketika kita tak lagi tahu
ke mana harus membawa langkah.

Di titik seperti itu,
kita menatap tanah di depan kaki
dan mulai mengerti:
mungkin jalan memang tak selalu ada
untuk ditemukan.
Kadang ia menunggu
untuk dibuat.

Seperti benih
yang tak pernah diberi peta
ke mana akar harus tumbuh.
Ia masuk ke gelap,
menembus tanah,
dan justru dari sana
menemukan arah menuju cahaya.

Barangkali kita pun demikian.
Tak selalu harus tahu
di mana ujung perjalanan.
Kadang cukup tahu
apa yang masih bisa dibangun:

memulihkan yang retak,
menegakkan yang miring,
menanam sesuatu
yang kelak menaungi
mereka yang belum lahir.

Mungkin itu tampak kecil
di hadapan luasnya negeri.
Namun jalan pun mula-mula
hanya sebuah garis
di atas tanah.

Begitu pula harapan.
Ia tak selalu datang
sebagai cahaya yang membelah langit.
Kadang ia hanya bara kecil
yang dijaga seseorang
agar tidak padam.

Seperti orang yang tetap menanam
meski tahu pohonnya
mungkin baru rindang
setelah ia tiada.

Sebab masa depan sebuah negeri
barangkali tidak ditentukan
oleh seberapa panjang jalannya,
melainkan oleh masih adakah
orang-orang yang bersedia
membuka jalan saat kuldesak.

Dan jika suatu hari
kita benar-benar sampai
di ujung jalan,
mungkin itu bukan akhir.

Bisajadi di bawah telapak kaki
yang tetap memilih melangkah
sedang muncul jalan yang belum bernama.

Kelak, ketika anak-anak kita bertanya
mengapa kita dulu
tidak menyerah,

kita tak perlu menunjuk
pada negeri yang sempurna.

Cukup tunjukkan jejak:

bahwa ketika hampir semua pintu
tertutup oleh tabir penghalang,
kita masih menyisakan
satu jendela
bagi cahaya.

***

Judul: Kuldesak
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *