Korupsi untuk Apa

Oleh: Ganjar Kurnia

Korupsi

MajmusSunda News – Bandung, Senin (13/07/2026) – Korupsi satu juta rupiah masih bisa dipahami oleh akal. Mungkin untuk membayar utang warung, nyicil motor, atau membeli beras, sambil berjanji dalam hati bahwa bulan depan akan bertobat. Korupsi satu miliar mulai membuat kepala agak bingung. Uang sebesar itu dapat membeli rumah, kendaraan, kebun kecil, dan ketenangan sementara sebelum penyidik mengetuk pintu. Namun, korupsi ratusan miliar, bahkan triliunan rupiah, membuat akal sehat melepas sandal, berjalan keluar rumah, lalu menghilang di kegelapan.

Pertanyaannya sederhana: uang sebanyak itu hendak dipakai untuk apa? Apakah untuk membeli rumah? Berapa rumah yang diperlukan seseorang untuk berteduh? Secara biologis, manusia hanya memerlukan tempat sepanjang tubuhnya. Orang sekaya apa pun tidak mungkin tidur serentak di dua puluh kamar. Apakah untuk membeli mobil? Satu orang paling banyak dapat mengendarai satu mobil dalam satu waktu. Apakah untuk makan mewah setiap malam? Mustahil. Bahkan jika makanannya daging impor kelas wahid sekalipun, masih akan tersisa sangat banyak untuk memberi makan seluruh tikus di kantor pemerintahan.

Mungkin uang itu disiapkan untuk anak, cucu, cicit, canggah, janggawareng, udeg-udeg, gantung siwur, dan keturunan lain yang belum memiliki nama karena baru diperkirakan lahir pada tahun 2115. Secara psikologis, kasih sayang kepada keturunan memang bagus, tetapi ada batasnya. Orang tua boleh menyiapkan pendidikan anak, rumah, modal usaha, dan jaminan hidup. Namun, bila warisan sudah cukup untuk membiayai tujuh turunan tanpa perlu bekerja, mereka mungkin akan lahir dengan kondisi bingung. Ia tidak tahu fungsi pagi hari, tidak mengerti mengapa manusia harus bangun. Ia hanya tahu bahwa setiap bulan rekeningnya bertambah, meskipun satu-satunya pekerjaannya adalah bermewah-mewah dan mengganti foto profil.

Dengan alasan itulah, korupsi besar tidak semata-mata dapat dijelaskan sebagai kerakusan pribadi. Kerakusan pribadi memang tidak mengenal kata cukup, tetapi tubuh manusia tetap memiliki keterbatasan. Perut hanya dapat menampung beberapa piring. Punggung hanya dapat mengenakan satu jas. Leher hanya dapat memakai satu kalung pada satu waktu (kecuali ingin terlihat seperti etalase toko emas dan kalau tidak mau disebut aneh). Tangan hanya pantas memakai satu jam.

Salah satu kesimpulan dari buku Psikologi Korupsi, yang ditulis oleh dua orang dosen Unpad, Dr. Zainal Abidin dan Dr. P. Gimmy Prathama, menyatakan bahwa korupsi dilakukan tidak secara soliter, melainkan berjemaah di dalam institusi yang sama, lintas lembaga, melibatkan perantara, serta ditambah dengan keterlibatan korporasi. Karena itu, dalam dunia politik berbiaya mahal, uang dapat berubah menjadi pupuk. Bukan untuk menanam tumbuhan, tetapi untuk menanam pengaruh. Korupsi besar bukan lagi kejahatan seorang individu, melainkan pesta bersama. Ada yang memasak anggaran, ada yang menghidangkan proyek, ada yang membagikan piring, ada yang menjaga pintu, dan ada yang bertugas mengatakan bahwa pesta itu sesungguhnya rapat koordinasi.

Di balik uang yang mengalir seperti sungai kehilangan bendungan tersebut, terdapat kepentingan lain yang ikut berenang. Uang korupsi tidak hanya menuju lemari pribadi, tetapi masuk juga ke lorong-lorong lain. Sebagian mungkin digunakan untuk membeli loyalitas. Sebagian untuk membiayai pencitraan. Sebagian untuk membangun pagar politik. Sebagian lagi mungkin disumbangkan kepada partai, calon pemimpin, tim kampanye, buzzer, relawan, konsultan, baliho, kaus, sembako, survei, saksi, panggung hiburan, dan pengeras suara yang volumenya cukup keras untuk menutupi suara hati.

Dalam pesta seperti itu, koruptor bukan semata-mata orang yang mengambil uang. Ia bisa menjadi kasir dari sebuah ekosistem. Ia mengumpulkan dana dari proyek, perizinan, pengadaan, konsesi, dan komisi. Setelah itu, uang dibagi kepada banyak saluran: untuk dirinya, untuk keluarga, untuk atasan, bawahan, pengamanan, biaya politik, biaya persahabatan, untuk umrah dan naik haji sekeluarga, serta persiapan apabila ditangkap. Anehnya, setelah dibagi-bagi dan digunakan, sisanya masih ratusan miliar atau berkilo-kilo emas batangan.

Secara psikologis, korupsi dengan jumlah sangat besar dapat terjadi karena adanya perasaan bahwa pelakunya bukan sedang mencuri, melainkan sedang memanfaatkan kesempatan. Tidak merasa serakah, hanya sedang mengamankan masa depan. Tidak merasa menyalahgunakan jabatan, hanya sedang mengoptimalkan jaringan. Puncak dari itu semua adalah ilusi kekebalan: karena sebagian orang penting juga kecipratan dan adanya keyakinan bahwa hukum dapat dibeli serta dimainkan, maka korupsi pun terasa aman.

libur

Judul: Korupsi untuk Apa

Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *