MajmusSunda News, Minggu (30/08/2026) – Artikel berjudul “Kongres Kemandirian” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Di pengujung bulan kemerdekaan, Dompet Dhuafa menggelar Kongres Kemandirian (29/08/26). Momentum ini terasa simbolik: kemerdekaan Indonesia ibarat cangkang yang kurang berisi karena tidak ditopang urat nadi kemandirian.
Kita telah merdeka dari penjajahan, tetapi belum sepenuhnya merdeka dari ketergantungan.

Secara mental-kultural, bangsa ini masih terperangkap dalam kompleks rendah diri: tak kenal diri, tak percaya diri, tak punya pendirian. Kita mudah silau pada yang datang dari luar, gemar mencangkok gagasan dan model asing, seolah modernitas harus berwajah asing. Pendidikan lebih banyak menyiapkan peserta didik menjadi pegawai ketimbang menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan keberanian mencipta.
Secara politik, kita belum sepenuhnya berdaulat karena belum mandiri mengaktualisasikan sistem politik sendiri. Model demokrasi kerap dicomot dari luar tanpa memperhitungkan konteks sosial-budaya dan kesejarahan Indonesia. Demokrasi berhenti pada prosedur, sementara kolonialisme terhadap rakyat sendiri berlanjut melalui kuasa oligarkis dan birokrasi patronase yang lebih melayani elite daripada rakyat.
Secara ekonomi, ciri ekonomi terjajah masih terasa: menjual semurah-murahnya, membeli semahal-mahalnya. Kita terperangkap dalam Dutch disease syndrome ekonomi ekstraktif yang miskin nilai tambah dan sempit rantai nilai. Kekayaan alam keluar sebagai bahan mentah, sementara nilai terbesar tercipta di tempat lain.
Ekonomi dualistik pun bertahan: sektor modern dan rantai nilai strategis banyak dikuasai asing, sementara ekonomi kecil dan tradisional menjadi ruang bertahan bumiputera. Kita kaya sumber daya, tetapi belum berdaulat atas nilai yang lahir darinya.
Maka, tantangan kemerdekaan hari ini bukan sekadar mempertahankannya, melainkan memerdekakan diri dari ketergantungan—dalam pikiran, politik, dan ekonomi.
Sebab penjajahan paling sempurna bukan ketika bangsa lain menguasai tanah kita, melainkan ketika kita merasa merdeka sementara cara berpikir, sistem politik, dan struktur ekonomi masih terbelenggu.
Kita telah mengusir penjajah dari negeri ini. Kini, kapan kita mampu mengusir ketergantungan dari dalam diri sendiri?
***
Judul: Kongres Kemandirian
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












