MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jum’at (23/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Ketika Saraf Mulai Memberi Ruang” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN Tahun 2023-2026.
BAGIAN I
MALAM, PIKIRAN, DAN ENERGI
CERPEN TESTIMONI BEKATUL #6
Ada rasa sakit yang datang dengan jelas.
Ada pula rasa sakit yang justru terasa melalui sesuatu yang tidak terasa.
Kebas.
Kesemutan.

Rasa seperti ditusuk-tusuk jarum.
Atau sensasi aneh pada tangan dan kaki yang sulit dijelaskan.
Bagi Pak Arman, gangguan pada saraf tepi bukan sesuatu yang baru.
Sudah cukup lama ia merasakan berbagai gangguan pada bagian tubuh tertentu.
Kadang terasa kebas.
Kadang kesemutan.
Kadang seperti ada aliran listrik kecil yang bergerak di ujung tangan atau kaki.
Ia sudah terbiasa dengan keadaan itu.
Tetapi terbiasa bukan berarti nyaman.
Ada saat-saat ketika ia harus berhenti melakukan sesuatu hanya karena sensasi tersebut muncul.
Ia pernah berpikir:
“Apakah ini akan terus seperti ini?”
Hari berganti hari.
Keluhan datang dan pergi.
Kadang terasa lebih ringan.
Kadang kembali mengganggu.
Kemudian ia mulai mengonsumsi Fermented Rice Bran Cap 3Ikan (FRB 3Ikan).
Ia tidak menganggap FRB sebagai obat.
Ia juga tidak mempunyai kepastian bahwa apa yang dirasakannya akan berubah.
Ia hanya mencoba menjadikannya bagian dari konsumsi sehari-hari.
Beberapa waktu kemudian, ia mulai memperhatikan sesuatu.
Sensasi yang selama ini mengganggunya terasa berbeda.
Tidak langsung hilang.
Tetapi menurut pengalamannya, efek kerusakan saraf tepi berkurang jauh.
Ia mulai bisa melakukan aktivitas dengan lebih nyaman.
Kesemutan yang dahulu sering menarik perhatiannya terasa semakin jarang.
Rasa tidak nyaman pada bagian tubuh tertentu juga dirasakannya berkurang.
Suatu ketika ia berkata kepada keluarganya:
“Sekarang terasa jauh lebih enak.”
Keluarganya bertanya:
“Bagian sarafnya?”
Ia mengangguk.
“Rasanya berkurang jauh.”
Tidak ada perayaan.
Tidak ada sesuatu yang spektakuler.
Hanya sebuah perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi bagi orang yang sudah lama hidup dengan gangguan pada saraf tepi, perubahan kecil itu mempunyai arti besar.
Ia kembali memperhatikan tubuhnya.
Dulu ia sering memikirkan sensasi yang muncul.
Sekarang ia mulai lebih jarang memikirkannya.
Dulu ia harus menyesuaikan aktivitas.
Sekarang beberapa aktivitas dapat dilakukan dengan lebih nyaman.
Ia kemudian menyadari sesuatu.
Tubuh manusia mempunyai bahasa sendiri.
Kadang bahasa itu berupa rasa sakit.
Kadang berupa kesemutan.
Kadang berupa kebas.
Dan kadang perubahan justru diketahui ketika gangguan tersebut perlahan berkurang.
Namun Pak Arman tidak ingin buru-buru menyimpulkan.
Ia tahu bahwa gangguan saraf mempunyai banyak penyebab.
Ia juga tahu bahwa kondisi setiap orang berbeda.
Karena itu, pengalaman yang ia alami tidak otomatis berlaku bagi orang lain.
Tetapi ia merasa pengalaman tersebut layak dicatat.
Sebab dari situlah pertanyaan baru muncul.
Apakah perubahan tersebut berkaitan dengan FRB?
Apakah ada hubungan dengan perbaikan status nutrisi?
Apakah fermentasi mengubah ketersediaan zat gizi tertentu?
Apakah metabolit hasil fermentasi berperan?
Atau apakah ada faktor lain yang berlangsung bersamaan?
Belum ada jawaban.
Tetapi pengalaman sudah memberikan sebuah titik untuk diamati.
Pak Arman kemudian melanjutkan hari-harinya.
Ia tidak lagi terlalu sering memperhatikan tangan dan kakinya.
Ia lebih banyak memperhatikan apa yang bisa ia lakukan.
Dan di situlah ia menemukan sesuatu yang sederhana.
Ketika tubuh tidak terlalu sibuk memberi sinyal gangguan, seseorang mempunyai lebih banyak ruang untuk memperhatikan kehidupan.
Ruang untuk bekerja.
Ruang untuk bergerak.
Ruang untuk berbicara dengan keluarga.
Ruang untuk menikmati pagi.
Ia tersenyum.
Bukan karena merasa sudah mendapatkan jawaban.
Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tubuhnya memberinya sedikit lebih banyak ruang.
Dan mungkin itulah arti paling sederhana dari kesembuhan yang dirasakan seseorang:
bukan selalu hilangnya semua keluhan,
melainkan ketika sesuatu yang dahulu terus mengganggu mulai tidak lagi menguasai kehidupan sehari-hari.
CATATAN TESTIMONI
Cerita #6 merupakan pengembangan naratif dari pengalaman konsumen FRB 3Ikan yang melaporkan bahwa efek kerusakan saraf tepi berkurang jauh setelah mengonsumsi FRB 3Ikan.
Ini merupakan testimoni individual, bukan bukti klinis bahwa FRB 3Ikan dapat menyembuhkan kerusakan saraf tepi atau neuropati.
Gangguan saraf tepi dapat mempunyai berbagai penyebab dan tingkat keparahan. Perubahan gejala juga dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kondisi kesehatan, pengobatan, aktivitas, pola makan, dan perjalanan penyakit.
Karena itu, pengalaman Pak Arman diposisikan sebagai observasi konsumen yang menarik untuk dicatat dan diteliti lebih lanjut, bukan sebagai klaim khasiat.
Pengalaman menunjukkan adanya perubahan. Penelitian diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut benar-benar berkaitan dengan FRB, bagaimana mekanismenya, dan pada kondisi apa hal itu dapat terjadi.
***
Judul: Ketika Saraf Mulai Memberi Ruang
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra












