MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (06/07/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Ketika Dirut Bulog Seorang Tentara Aktif” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Babak baru kepemimpinan Perum Bulog, kini telah dimulai. Diangkatnya Mayjen Achmad Rizal Ramdhani sebagai Direktur Utama Perum Bulog menandai pemimpin Perum Bulog ingin tampil beda dengan petinggi-petinggi sebelumnya. Sebagai Perwira Tinggi TNI AD yang masih aktif, lalu ditugaskan menjadi Dirut Perum Bulog, tentu bakal melahirkan berbagai tanggapan dari masyarakat. Hal ini tidak jauh berbeda ketika Menteri BUMN mengangkat Mayjen Novi Helmy sebagai Dirut Perum Bulog.

Saat itu, pro kontra wajar terjadi. Namanya juga hidup di alzm demokrasi. Di satu pihak ada yang sangat mendukung diangkatnya seorang Perwira Tinggi TNI AD yang berpengalaman sebagai Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI, namun di sisi yang lain, ada juga yang menyayangkan masuknya tentara aktif ke dalam dunia usaha yang dikenali sebagai perusahaan plst merah ini.
Terlepas dari hangatnya perbincangan soal regulasi yang mengatur atau memboleh-tidakkannya seorang tentara aktif memimpin sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sepertinya akan lebih baik, bila kita mengambil hikmah dari diangkatnya Bung Achmad Rizal sebagai Dirut Bulog baru sekarang. Soal regulasi, pasti ada yang lebih paham untuk menganalisisnya.
Jujur kita akui, tentara aktif yang menjadi Dirut Perum Bulog memiliki beberapa kelebihan, antara lain pertama disiplin dan struktur. Tentara memiliki latar belakang disiplin dan struktur yang kuat, sehingga dapat membantu dalam mengelola dan mengorganisir Bulog dengan lebih efektif.
Kedua, tentara memiliki pengalaman dalam mengelola logistik dan supply chain, sehingga dapat membantu dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas Bulog. Ketiga, tentara memiliki kemampuan dalam menghadapi krisis dan situasi darurat, sehingga dapat membantu dalam menghadapi situasi yang tidak terduga dalam pengelolaan Bulog.
Kelebihan lain yang perlu kita pahami, tentara memiliki integritas dan netralitas yang tinggi, sehingga dapat membantu dalam mengelola Bulog dengan tidak memihak pada kepentingan tertentu. Kemudian, tentara memiliki kemampuan dalam mengelola sumber daya, sehingga dapat membantu dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya Bulog.
Disamping itu, tentara memiliki pengalaman dalam menghadapi tekanan dan stres, sehingga dapat membantu dalam menghadapi situasi yang menekan dalam pengelolaan Bulog. Namun, perlu diingat bahwa kelebihan-kelebihan di atas tidak berarti bahwa tentara adalah satu-satunya pilihan yang tepat untuk menjadi Dirut Bulog. Pengalaman dan kemampuan lainnya juga perlu dipertimbangkan dalam proses seleksi.
Memasuki musim panen Masa Tabam April-September 2025, Perum Bulog telah ditugaskan secara khusus oleh Pemerintah untuk menyerap gabah setinggi-tingginya. Penugasan ini sangat penting, karena mulai tahun 2025, Pemerintah telah memutuskan untuk menghentikan kebijakan impor beras. Sebagai bentuk dukungan atas kebijakan ini, Perum Bulog dituntut untuk dapat menyerap gabah kering panen petani sebanyak-banyaknya.
Pengalaman Musim Panen yang baru saja kita lakoni, sangat baik untuk dijadikan bahan pembelajaran bersama. Dengan adanya pembagian tugas penyerapan gabah oleh Perpadi dan Perum Bulog, sebetulnya tugas penyerapan mandiri Perum Bulog, tidak seberat yang direncanakan sebelumnya. Perum Bulog sendiri hanya diberi tugas menyerap gabah petani sebesar 0,9 juta ton. Sedangkan Pengusaha Penggilingan diberi tugas menyerap gabah petani sejumlah 2,1 juta ton.
Dengan kekuatan sumber daya dan sumber dana yang kini dimiliki Perum Bulog, menyerap gabah petani sejumlah 900 ribu ton setara beras, saat panen raya, bukanlah hal yang sulit untuk diwujudkan. Justru yang merisaukan adalah tugas Perpadi untuk dapat menyerap gabah petani sejumlah 2,1 juta ton setara beras. Itu sebabnya, perlu ada tim khusus yang mendampingi Perpadi.
Hadirnya Bung Achmad Rizal memimpin Perum Bulog, tentu saja mengemban tugas khusus yang perlu diwujudkan dalam kurun waktu 3 – 4 bulan ke depan. Dirut Bulog baru ini, diharapkan mampu membawa angin segar bagi perkembangan Perum Bulog ke depan. Berbekal pengalaman sebagai pasukan khusus, kita percaya Bung Achmad Rizal akan memberi kinerja terbaiknya.
Rendahnya serapan gabah petani oleh Perum Bulog panen raya, bisa saja disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya, memang produksi berasnya yang belum ada, mengingat jadwal tanamnya yang mundur beberapa bulan. Artinya, biarpun Perum Bulog telah siap segala rupanya, tapi berasnya belum ada, maka apa ysng bakal diserapnya ?
Berbasis pengalaman selama 36 tahun menjadi Lembaga Otonom Pemerintah dan 22 tahun menjadi BUMN, Perum Bulog dinilai sangat piawai dan profesional dalam melaksanakan pengadaan gabah maupun beras. Kekuatannya menjadi semakin bertambah, ketika dalam Dewan Direksinya ditambah satu Direktur yang khusus menangani pengadaan.
Akhirnya, pasti kita berharap tatkala Direktur Utama Perum Bulog dipegang oleh Perwira Tinggi TNI AD, gerak langkah operator pangan ini bakal semakin kencang berlari, terutama dalam menyerap gabah petani. Kehormatan dan tanggungjawab yang melekat dalam nurani tentara aktif, akan menjadi daya dorong kuat untuk menjadikan Perum Bulog sebaga lembaga pangan yang perkasa.
Semoga jadi bahan perenungan kuta bersama. Selamat berkiprah Bung Achmad Rizal.
***
Judul: Ketika Dirut Bulog Seorang Tentara Aktif
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












