MajmusSunda News, Rabu (20/05/2026) – Artikel berjudul “Keheningan Kreatif” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, kota-kota ketidakbahagiaan bersitumbuh di tengah gebyar lahir kemajuan. Kehidupan metropolitan dirasuki kelimpahan kesepian (loneliness), namun paceklik keheningan (solitude). Kesepian menandakan kerapuhan, sedang keheningan memancarkan keteguhan.

Jalan spiritual sejatinya bukan jalan pelarian dari kesepian yang melahirkan ekspresi keagamaan yang eksesif, melainkan jalan kreatif keheningan dalam menjinakkan keriuhan dan ketidakpastian.
Bahwa untuk penjernihan dan penguatan, kita harus menghikmati keheningan. Jalaluddin Rumi berkata, “Hening adalah lautan. Ucapan adalah sungai. Saat lautan mencarimu, jangan melangkah memasuki sungai. Dengarkanlah lautan.”
Keheningan adalah relung pemurnian dan pemulihan jiwa. Dalam hening, rohani menyuling inspirasi, memulihkan daya cipta. Tanpa keheningan agung tak mungkin dilahirkan karya agung.
Hanya dalam hening, Tuhan sebagai bahasa kebenaran punya ruang untuk hadir di relung hati, menemani kita dalam sunyi. Bunda Teresa berkata, “Tuhan adalah karib kesunyian. Pepohonan, bunga, dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Tengok juga bintang, bulan, dan matahari, semua bergerak dalam sunyi.”
Saat kata-kata tak membuat orang saling memahami, lebih baik berpaling pada keheningan. Keheningan mengendapkan buih kata-kata menjadi inti makna; mengurai benang kusut jadi tali ikatan. Keheningan mendekatkan manusia pada kebenaran ketimbang kebisingan verbalisme yang menjauhkan orang dari kesejatian, bahkan dari kejujuran nuraninya sendiri.
Dalam hening, menghikmati kesunyian, manusia modern punya harapan untuk keluar dari kemiskinan spiritual. Dalam hening kesunyatan, kebatinan mikrokosmos menyatu dalam kebatinan makrokosmos; tak ada oposisi, kesenjangan, dan perbedaan antara ego dan kosmos: bahasa jiwa merupakan vibrasi semesta.
Dalam hening ada bening. Dalam bening ada eling.
***
Judul: Keheningan Kreatif
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












