Kearifan Lokal Ki Sunda: Yang Membahana dan Ngajomantara

Penulis: Ernawan S. Koesoemaatmadja (Guru Toge)

Artikel baru "Kearifan Lokal Ki Sunda: Yang Membahana dan Ngajomantara". Penulis: Ernawan S. Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Bandung, 17/5/2026 – Provinsi Jawa Barat sudah lama membutuhkan leader (bukan manager) yang kompeten serta piconoheun, dengan paradigma baru yang mampu membawa masyarakat siap berubah: dari diajar menjadi belajar, dari dikekesek menjadi dijelemakeun. Hal ini diperlukan karena masih sangat banyak masyarakat yang tenggelam dalam paradigma alam pikir, hanya meniru cara berpikir karena melihat ke luar diri, bukan ke dalam diri (loba teuing nyawang nyoreang katukang, bari teu daek ngotektak diri). Padahal, ada tiga faktor yang harus dimiliki dan dikepeul sebagai kekuatan, antara lain: keahlian, keberanian, dan integritas. Ketiganya berfungsi sebagai etika, logika, maupun estetika dalam berbangsa dan bernegara, bukan hanya dengan sosorongot dan popolotot, apalagi dengan bentik curuk balas nunjuk, capetang balas miwarang.

Sesepuh Sunda maupun leluhur Ki Sunda telah mempersiapkan dan menerapkan landasan kuat kualitas diri dalam menjalankan peran kehidupan (kearifan lokal), yaitu: cageur, bageur, bener, pinter, singer, tur wanter. Ini merupakan nilai ajaran kebijaksanaan hidup dan kehidupan (hirup jeung hurip) manusia Sunda agar tahu diri, kenal diri, dan jaga diri. Dalam lingkup kapasitas nilai diri tersebut, masyarakat diharapkan terbiasa bersikap merdeka, berpikir bebas, serta bertindak bijaksana. Sikap ini akan bermuara pada falsafah mufakat, kesediaan berkorban, dan setia kawan (gotong royong), tanpa perlu memaksakan diri atau bermotif pamrih (pupujieun tur hayang kapuji), serta penuh dinamika dan semangat.

Resultan nilai tersebut membuat masyarakat berpikir sehat dan mau bekerja keras, bukan menadahkan tangan. Mereka juga bersiap kecewa apabila mendapatkan pemimpin yang tidak memenuhi harapan, tetapi tetap berprinsip tidak menganiaya rakyat atau sesama, serta tidak merusak alam sekitar.

Ringkasan kearifan lokal Ki Sunda tersebut memiliki falsafah berupa nilai-nilai yang sangat membahana dan patut serta wajib menjadi tetekon masyarakat dalam mendidik keluarga besarnya, antara lain:

a. Cageur, berarti sehat serta tidak gampang sakit karena akan melaksanakan tanggung jawab dan mengerjakan hal yang menjadi kewajibannya (responsibility: doing what is right). Selain itu, apabila manusia dalam kondisi cageur, ia akan berpikiran positif dan memberikan pertimbangan positif (common sense using good judgement).
b. Bageur (baik hati, tidak pernah curang, dan tidak berkhianat), secara umum memiliki keyakinan dan kepercayaan penuh pada diri sendiri (have full confidence and belief in himself).
c. Bener (setia, banyak pertimbangan, tidak pernah omon-omon, maupun ingkar janji), memiliki target tertentu yang harus dicapai sesuai rencana (have a firm target to reach up to when) serta ketekunan kuat untuk memulai sesuatu (perseverance in completing what you start).
d. Pinter (berpikir cepat, berpengetahuan luas, sangat kreatif, atau perceka), biasanya memiliki keinginan yang besar dan kuat serta kemampuan atau potensi yang cukup baik dibandingkan orang lain (have a big heart/capacity, more than others).
e. Singer, mampu bertindak dan bekerja cepat, tuntas, berhati kokoh, serta disiplin. Ia tidak pernah berdiam diri atau menunggu perintah, juga rancage. Secara umum, ia penuh kepercayaan diri dan menyimpan keyakinan mampu melakukan sesuatu (confidence in feeling able to do it), berusaha keras (effort and willingness to work hard), serta memiliki potensi diri yang mampu mendukung pencapaian target (have reliable resources to follow up targets). Selain itu, ia kreatif dan selalu menciptakan hal baru (creating new things all the time), berinisiatif (initiative in moving into action), mampu memecahkan masalah, memahami kondisi diri, serta mengetahui tindakan yang akan diambil.
f. Wanter, alias sonagar, penuh percaya diri, motivasi tinggi, dan memiliki keinginan kuat untuk melakukan sesuatu (motivation: wanting to do it). Ia mampu menjaga kewibawaan diri agar tetap dihormati orang lain (keeping dignity in front of everybody to be respected) serta mampu bekerja dan bekerja sama dengan orang lain (working with others).

Akan tetapi, kearifan lokal tersebut di atas sangat perlu dideudeul dengan nilai inti tradisional masyarakat Sunda yang sangat strategis dan berpandangan jauh ke depan. Nilai-nilai ini sering menjadi bahasan lisan, tetapi kurang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

1. Silih Asah, merupakan reaktualisasi dalam masyarakat modern. Silih asah mencerdaskan anggota masyarakat agar tohaga melalui peningkatan nalar (rasionalitas) dengan pelbagai pengetahuan (silih simbeuh pangarti) serta ilmu penerapannya berupa teknologi, budi pekerti, agama, dan norma-norma sosial kehidupan.
2. Silih Asih, melengkapi rasionalitas kognitif dengan nilai afektif. Nilai ini mengajarkan untuk tidak menjadikan sesama insan atau masyarakat sebagai alat mencapai tujuan atau kepentingan pribadi. Silih asih memacu kesetaraan harkat dan martabat manusia, dalam arti saling menghargai, toleransi (tenggang rasa), serta solidaritas antarsesama.
3. Silih Asuh, mengacu kepada nilai etika, yaitu saling mengingatkan untuk menjauhi yang buruk dan tetap berjalan di jalur yang baik (etis atau moral).

Jadi, cageur, bageur, bener, pinter, singer, tur wanter yang dilandasi dengan silih asah, silih asih, dan silih asuh memiliki makna penekanan pada nilai budaya (culture value) serta norma sosial, kebersamaan, dan kemandirian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kesemuanya akan menjadi kekuatan persaudaraan (ukhuwah) di antara berbagai kawargian dan komponen dalam tatanan masyarakat Sunda. Energi positif persaudaraan tersebut harus diwujudkan secara terpadu, yakni: saling mengenal (taaruf), saling memahami (tafahum), perpaduan hati (ta’liful qulub), perpaduan pemikiran (ta’liful akfār), kerja sama (ta’liful ‘amal), serta bersatu atau kompak (ta’liful afrād).

Semoga nilai-nilai luhur Sunda ini mampu meredam hiruk-pikuk dinamika kehidupan politik yang menyeret-nyeret napas kehidupan rakyat saat ini. Alangkah indahnya jika nilai luhung itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari pimpinan nu piconoheun, sehingga kedamaian, kebersatuan, kebersamaan, maupun kerukunan dapat terwujud. Semoga semua sadar terhadap eksistensi dirinya dan jangan sampai seperti pepatah yang menyatakan bahwa manusia adalah Geist in Welt (ada di dunia, tetapi sekaligus mengotori dunia).

Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya.

 

*****

 

Judul: Kearifan Lokal Ki Sunda: Yang Membahana dan Ngajomantara

Penulis: Ernawan S. Koesoemaatmadja (Guru Toge)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *