Kata Siapa Harta Tidak Bisa Dibawa Mati?

Oleh : Kang Eep

MajmusSunda News, Jawa Barat, Sabtu (22/08/2026) – Kita sering mendengar kalimat, “Harta tidak akan dibawa mati.” Biasanya kalimat ini dipakai untuk mengingatkan agar orang tidak terlalu mengejar dunia. Dan memang benar, ketika seseorang meninggal, rumahnya tetap berdiri, mobilnya tetap terparkir, tanahnya tetap di tempat, tabungannya tetap tercatat, sementara ia masuk ke liang kubur hanya dengan beberapa helai kain kafan.

Tetapi kalau yang dimaksud adalah bahwa harta sama sekali tidak bisa menjadi bekal setelah kematian, rasanya tidak sesederhana itu.

Harta memang tidak bisa kita bawa dalam bentuk benda. Tetapi selama masih hidup, kita bisa menitipkannya. Kita titipkan sebagian kepada panti asuhan agar anak-anak yatim tetap bisa makan dan bersekolah. Kita titipkan untuk membangun masjid, pesantren, sekolah, sumur, rumah sakit, jalan, atau fasilitas umum yang akan terus digunakan orang. Kita bisa menitipkannya untuk membiayai pendidikan anak dari keluarga miskin, bahkan sampai ia memiliki kemampuan untuk mengubah kehidupan keluarganya.

Harta juga tidak harus selalu dititipkan dalam bentuk bangunan atau bantuan konsumtif. Ia bisa diubah menjadi modal usaha, pelatihan keterampilan, alat kerja, lapangan pekerjaan, atau program pemberdayaan yang membuat seseorang tidak lagi bergantung kepada bantuan. Uangnya mungkin sudah lama habis, tetapi manfaat yang lahir darinya masih berjalan.

Di situlah harta berubah bentuk. Dari angka dalam rekening menjadi pendidikan. Dari sebidang tanah menjadi tempat ibadah. Dari keuntungan usaha menjadi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga lain. Dari kekayaan yang tadinya hanya kita miliki sendiri menjadi manfaat yang dinikmati banyak orang.

Dalam Islam kita mengenal konsep sedekah jariyah. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya sedekah jariyah. Artinya, seseorang bisa saja sudah tidak lagi hidup, tetapi manfaat dari apa yang pernah ia keluarkan masih terus menghasilkan pahala.

Karena itu, mungkin yang lebih penting bukan hanya menghitung berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan selama hidup. Ada pertanyaan lain yang jauh lebih panjang urusannya:

Berapa banyak dari harta kita yang sudah kita ubah menjadi bekal?

Sebab harta yang kita simpan pada akhirnya menjadi warisan. Kita tidak tahu siapa yang kelak akan menikmatinya, untuk apa digunakan, bahkan apakah akan membawa kebaikan atau tidak. Tetapi harta yang sudah kita titipkan untuk kebaikan mempunyai jejak yang lebih jelas. Kita sudah mengubahnya menjadi sesuatu yang manfaatnya dapat terus hidup setelah kita tidak ada.

Jadi, jangan terlalu cepat mengatakan harta tidak bisa dibawa mati.

Ketika kita masuk ke liang kubur, mungkin memang tidak ada satu rupiah pun di tangan kita. Tetapi boleh jadi, sebagian dari harta yang pernah kita miliki sudah menunggu di sana dalam bentuk yang berbeda: amal.

Wallahu alam bishawab

Kang Eep

***

Judul: Kata Siapa Harta Tidak Bisa Dibawa Mati?
Penulis: Kang Eep
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *