MajmusSunda News, Bandung, 12/5/2026 – Tanpa kita sadari, sebenarnya, jurnal ilmiah adalah sebuah fetish akademik yaitu sikap mengkultuskan simbol akademik secara berlebihan: jurnal Q1, sitasi, indeks, gelar, metodologi rumit dll, sampai lupa tujuan utama ilmu itu sendiri yaitu memahami dan memanusiakan kehidupan. Selain fetish akademik, jurnal ilmiah juga adalah eksklusivitas ilmu, industrialisasi pengetahuan, dan terputusnya ilmu dari kehidupan. Ilmu berubah dari sarana pencerahan menjadi industri legitimasi dalam jubah kapitalisme.
Ketika ilmu lebih sibuk mengejar sitasi daripada menyelesaikan penderitaan manusia, yang gagal bukan manusianya, melainkan peradabannya. Jurnal ilmiah modern mungkin adalah puncak kecanggihan akademik, sekaligus fenomena keterasingan ilmu dari kehidupan.
Awal Kemunculan Jurnalisasi Ilmu
“Jurnalisasi ilmu” yang menghasilkan eksklusifitas ilmu adalah babakan sejarah Barat yang telah membuat Barat menjadi kering kerontang. Jurnalisasi ilmu di Barat mulai kuat sejak abad ke-17, terutama sejak lahirnya jurnal ilmiah modern seperti “Philosophical Transactions” tahun 1665 di Inggris oleh Royal Society. Itu sering dianggap jurnal ilmiah modern pertama di dunia. Di Prancis juga muncul “Journal des Sçavans” pada tahun yang sama.
Namun eksklusivitas ilmu yang benar-benar ketat dimana ilmu dipisah jadi disiplin-disiplin sempit, spesialis, dan “berbahasa teknis hanya untuk sesama ahli”, itu terutama menguat pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Saat revolusi industri, universitas modern, laboratorium, peer-review, asosiasi profesi, dan jurnal-jurnal spesifik tumbuh luar biasa cepat. Misalnya fisika dipisah dari filsafat alam, kimia dari alkimia, sosiologi dari filsafat sosial, dan seterusnya. Bahkan satu bidang pecah lagi jadi sub-sub-bidang.
Secara peradaban, Barat memang akhirnya melahirkan kemajuan teknis luar biasa, tetapi juga menghasilkan “fragmentasi ilmu”. Orang makin ahli pada bagian kecil, tapi makin kehilangan pandangan utuh tentang manusia, moral, hikmah, dan tujuan hidup. Akibatnya ilmu menjadi teknis, birokratis, kompetitif, terspesialisasi, dan kadang terputus dari amal serta kebijaksanaan. Tahu semakin banyak tentang yang semakin sedikit.
Ilmu dalam Peradaban Islam
Sementara dalam tradisi Islam klasik, ilmu tidak dipahami sekadar sebagai “produksi pengetahuan spesialis”, tapi sebagai jalan pembentukan manusia. Karena itu ulama dulu tidak aneh menguasai banyak bidang sekaligus seperti tafsir, hadis, fikih, astronomi, matematika, kedokteran, sastra, tasawuf, politik, bahkan pertanian atau perdagangan.
Tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, Ibn Khaldun, atau Al-Biruni bukan “spesialis sempit”. Mereka polymath karena paradigma ilmunya tauhidi: ilmu itu satu kesatuan yang mengarah pada ma’rifat dan kemaslahatan.
Dalam Islam, pertanyaan pokok ilmu bukan: “Ini masuk jurnal Q1 atau tidak?” Tapi “Ilmu ini membuat manusia lebih adil, lebih bijak, lebih dekat kepada kebenaran atau tidak?” Bila Einstein pernah berucap: “Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu itu buta,” dalam Islam adagiumnya adalah: Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesesatan.
Modernitas Barat sering memisahkan antara ilmu dari moral, pengetahuan dari hikmah, dan kecerdasan dari kebijaksanaan. Dan ironisnya, Indonesia sekarang justru sedang meniru fase Barat yang mulai dikritik oleh Barat sendiri. Kampus kita makin sibuk indeksasi, sibuk Scopus, sibuk sitasi, sibuk jurnal spesifik mikro, tapi kadang jauh dari problem nyata masyarakat.
Orang jadi menulis bukan untuk umat, tapi untuk reviewer. Padahal, sekarang di Barat sendiri mulai muncul kritik interdisipliner yaitu kesadaran untuk melakukan integrative science, post-disciplinary studies, systems thinking, transdisciplinary research, public scholarship. Artinya mereka sendiri mulai sadar bahwa spesialisasi ekstrem membuat ilmu kehilangan ruh kemanusiaannya.
Indonesia Sedang Mengulangi Kekeliruan Barat
Spesialisasi ilmu itu tentu saja tidak salah, jurnal ilmiah itu buruk, atau Barat sepenuhnya keliru. Karena harus diakui, spesialisasi juga menghasilkan kedokteran modern, teknologi, teknik, sains presisi, dll. Mustahil operasi jantung dilakukan oleh “ulama serba bisa” tanpa spesialis bedah.
Tapi masalahnya muncul ketika spesialisasi berubah menjadi fragmentasi cara berpikir, elitisme akademik, ilmu untuk karier, bukan untuk hikmah dan kemaslahatan. Inilah maksud tulisan ini: sebuah refleksi kritik epistemologis.
Dalam tradisi Islam klasik, spesialisasi juga ada tapi belum menjadi “penjara epistemologis”. Seorang ulama yang faqih masih nyambung dengan filsafat, akhlak, tasawuf, bahasa, bahkan realitas sosial. Jadi ilmu tetap organik dan menyatu dengan kehidupan.
Sedangkan modernitas Barat membuat disiplin ilmu seperti kamar-kamar tertutup: ahli ekonomi tak paham etika, ahli teknologi tak paham kemanusiaan, ahli agama tak paham sains, ahli politik tak paham spiritualitas. Akhirnya manusia pintar, tapi bingung arah hidup.
Jadi, kaum akademisi Indonesia, terutama kaum intelektual Muslim, bukan harus anti-jurnal atau anti-spesialisasi, tapi menolak eksklusivisme ilmu yang memutus ilmu dari hikmah, amal, dan kebutuhan manusia. Barat berhasil membangun kedalaman ilmu, tetapi sering kehilangan keluasan hikmah.
Tradisi Islam klasik berusaha menjaga kedalaman sekaligus keterpaduan ilmu.
Indonesia sekarang ini lucu, belum jadi pusat ilmu dunia, tapi sudah sibuk dengan kasta jurnal. Dosen lebih takut reviewer daripada takut ilmunya tak berguna bagi masyarakat. Kampus-kampus sekarang jadi aneh, tulisan makin banyak, istilah makin rumit, metodologi makin canggih, tapi masyarakat tetap bingung, miskin, dan tak tersentuh ilmu. Seolah ilmu hidup di jurnal, bukan di kehidupan.
Padahal dalam peradaban Islam klasik, ukuran alim itu bukan berapa sitasi, tapi berapa manfaat dan hikmah yang lahir dari ilmunya Makanya ulama dulu bisa jadi guru, penulis, pembimbing sosial, mediator konflik, penasihat politik bahkan penggerak peradaban. Ilmu itu kehidupan bukan file PDF.
Yang lucu sekarang, misalnya judul tulisan jurnal panjang sekali: “Dekonstruksi Transformatif Paradigma Multidisipliner Berbasis Neo-Interkoneksitas…” Reaksi masyarakat yang baca: “Naon tateh? Lieur Aing teu ngarti.” Apa itu, kalimat atau makhluk planet Pluto?
Kadang ilmu makin tinggi, tapi makin jauh dari manusia. Padahal para nabi mengajarkan ilmu dengan bahasa pasar, bahasa sawah, bahasa kehidupan. Makanya ulama klasik bisa masuk ke masyarakat. Sedangkan akademisi modern kadang cuma masuk repository kampus.
Khulasoh
Barat awalnya membangun ilmu untuk kehidupan, lalu terjebak dalam spesialisasi dan eksklusivitas jurnal. Ironisnya, Indonesia baru sibuk meniru fase ‘kering’ itu saat Barat sendiri sudah mengkritiknya dan menyadari kekeliruannya. Tanpa sadar, Indonesia sedang mengikuti dan mengulangi kegagalan peradaban Barat karena silau modernitas. Dalam Islam, ilmu bukan sekadar untuk ditulis, tapi untuk diamalkan dan memanusiakan seperti petuah Imam Syafi’i: “Al-‘ilmu ma’al amal.*
*****
Judul: JURNAL ILMIAH: KEGAGALAN PERADABAN YANG SEDANG KITA IKUTI (Sebuah Kritik Epistemologis)
Penulis: Moeflich H. Hart












