“Juragan”

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (30/08/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Juragan” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ketika sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) sekitar tahun 1970an, penulis memiliki pengalaman terkait dengan istilah “Juragan”. Saat itu, dalam kesempatan anjang sono ke beberapa petani penggarap, penulis sempat bertanya ke Mang Dedi tentang siapa sebenarnya pemilik sawah yang digarapnya. Dengan santai nya Mang Dedi menjawab: ” “kagungan Juragan Bupati”.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Dalam bahasa Sunda, kata juragan (sering disingkat menjadi agan) adalah kata hormat yang digunakan untuk menyapa atau menyebut seseorang yang memiliki kedudukan tinggi, kekayaan, atau pengaruh. Pada jamannya, masyarakat akan memberi penghormatan kepada seorang Kepala Daerah dengan sebutan “Juragan Bupati.”

Untuk lebih terang benderang lagi dii bawah ini akan dijelaskan beberapa makna dan penggunaan kata juragan berdasarkan konteksnya yaitu sebutan untuk majikan atau pemilik usaha. Digunakan oleh pekerja (seperti asisten rumah tangga, buruh tani, atau karyawan) untuk memanggil bos atau pemilik tempat mereka bekerja.Contoh: “Aya peryogi naon, Juragan?” (Ada keperluan apa, Bos/Majikan?).

de AI2
Kemudian, gelar kehormatan (Konteks Menak/Bangsawan). Pada zaman dahulu, kata ini disematkan kepada golongan menak (bangsawan), pejabat pemerintahan, atau tokoh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan atas status sosial mereka.

Lalu, sapaan sopan kepada laki-laki (Bentuk Halus). Dalam tingkatan bahasa Sunda (ragam basa hormat), kata ini divariasikan menjadi agan atau denagan (untuk laki-laki muda) untuk menyapa orang lain secara sangat sopan dan meninggikan derajat orang yang diajak bicara

Bisa juga sebuah sindiran (Sarkasme). Dalam percakapan sehari-hari, kata ini terkadang dipakai untuk menyindir seseorang yang bertingkah sok berkuasa, malas bekerja, atau hanya ingin diperintah seperti seorang majikan.Contoh: “Meni gaya siga juragan pisan.” (Gaya sekali seperti majikan/orang kaya saja). Dalam suasana kekinian, nilai dan makna kata “juragan” (bahasa Sunda) masih sangat berlaku, tetapi telah mengalami pergeseran fungsi dan nilai budaya yang drastis. Nilai feodal (atas-bawah) yang kaku dari masa lalu kini telah bertransformasi menjadi identitas bisnis yang populer, kasual, dan sarat akan nilai kewirausahaan digital.

Selanjutnya, bagaimana nilai kata “juragan” beradaptasi dalam konteks modern saat ini ?
Pertama, pergeseran dari feodal ke egaliter (Setara). Dulu kata juragan mencerminkan sekat sosial yang tebal antara kaum menak (bangsawan/pemilik tanah) dengan buruh atau rakyat jelata. Hubungan ini bersifat kepatuhan mutlak.

Kini, kata ini digunakan secara egaliter dalam dunia bisnis modern. Sapaan “Mangga, Juragan” atau “Hatur nuhun, Juragan” sering diucapkan oleh pelaku UMKM atau pedagang di media sosial kepada pembeli mereka tanpa memandang kasta. Maknanya bergeser menjadi bentuk penghormatan kepada pelanggan (karena pembeli adalah raja).

Kedua, simbol sukses ekonomi mandiri (Agripreneur & UMKM). Di kalangan generasi muda Sunda, istilah juragan tidak lagi diasosiasikan dengan tuan tanah tua berbaju adat.Kata ini diadopsi sebagai jenama (branding) kebanggaan bagi pengusaha muda kelas menengah ke bawah, seperti istilah “Juragan Empang” (pemilik kolam budidaya ikan modern) atau “Juragan Domba”.

Nilai yang berlaku saat ini adalah kemandirian finansial dan penciptaan lapangan kerja di desa, bukan lagi warisan darah bangsawan. Namun, bagi siapa pun yang mau berjuang untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga mampu menampilkan diri sebagai orang yang terpandang, maka sebutan juragan pun bisa diraihnya.

Ketiga, bahasa gaul digital (slang/sarkasme halus). Dalam percakapan anak muda kekinian, kata “juragan” atau singkatannya “Agan/Aganwati” (yang sempat populer di forum digital Kaskus) dan “Juragan Besar”, sering digunakan dalam konteks humor atau sindiran halus (guyonan).

Seseorang yang mentraktir teman-temannya saat nongkrong di kafe sambil nyeruput kapi, sering kali digoda dengan sebutan, “Wah, nuhun Juragan!”. Yang menarik untuk dijadikan pencermatsn bersama, ternyata nilai budayanya di sini, bergeser menjadi simbol kedermawanan sosial dalam pertemanan.
Akhirnya perlu disampailan, istilah atau sebutan juragan, dalam beberapa waktu belakangan ini, memang telah mengalami pergeseran. Juragan tidak lagi menjadi milik mereka yang berpangkat atau memiliki kekuasaan, tapi mereka yang tercatat sebagai warga bangsa pun sah-sah saja untuk menerimanya. Mang Maman seorang peternak ayam yang sangat dermawan, sering disebut sebagai “juragan hayam”.

Betul, dunia memang tengah berubah, termasuk tatanan sosial dzn budayanya. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: “Juragan”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *