Jumhur Hidayat:Tugas Kita Menjembatani Komitmen Global Menjadi Hasil Nyata

Moh. Jumhur Hidayat mengatakan ketika ruang untuk menjaga kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius semakin menyempit, tugas kita adalah menjembatani komitmen global menjadi hasil nyata

Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh. Jumhur Hidayat dalam Interactive Leaders Dialogue pada Climate Summit 2026 on Climate Action and the Just Transition yang merupakan rangkaian Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Seri (ANTARA/HO-KLH)

MajmusSunda News – Jakarta, Kamis, (25/9/2026)-Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh. Jumhur Hidayat mengatakan ketika ruang untuk menjaga kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius semakin menyempit, tugas kita adalah menjembatani komitmen global menjadi hasil nyata

Jumhur Hidayat menambahkan menegaskan Paris menjadi kompas kita. Indonesia menerjemahkan komitmen pengendalian perubahan iklim ke dalam aksi nyata lintas sektor yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Hal itu disampaikan Jumhur dalam “Interactive Leaders Dialogue pada Climate Summit 2026 on Climate Action and the Just Transition” yang merupakan rangkaian Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di Markas Besar PBB, New York, pada Rabu (23/9).

“Indonesia mengarahkan kontribusi yang ditetapkan secara nasional (Nationally Determined Contribution/NDC) menuju target emisi nol bersih (net-zero emissions) pada 2060 atau lebih cepat,” kata Jumhur dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis. .

Ia menuturkan , agenda iklim Indonesia mencakup pengurangan emisi dari sektor limbah dan metana, dekarbonisasi industri, pembangunan industri rendah karbon, penerapan Carbon Capture, Utilisation and Storage (CCUS), pengembangan energi surya skala besar, penerapan B50, serta pengembangan kendaraan listrik.

“Paradigma pembangunan Indonesia jelas, pertumbuhan dan perlindungan lingkungan harus maju bersama,” kata Jumhur

Ia menekankan transisi menuju ekonomi rendah karbon harus adil, tertib, dipimpin negara, dan berpusat pada masyarakat.

Keberhasilannya tidak hanya diukur dari teknologi dan investasi

Jumhur Hidayat menjelaskan keberhasilannya tidak hanya diukur dari teknologi dan investasi, tetapi juga keterjangkauan energi, pekerjaan layak, nilai tambah lokal, perlindungan kelompok rentan, serta manfaat lingkungan.

Selain dialog tingkat tinggi, Indonesia mengikuti tiga Solution Dialogues yang membahas pembiayaan iklim, pembiayaan adaptasi dalam era overshoot (periode ketika suhu rata-rata global melampaui 1,5 derajat Celcius), dan pengurangan metana.

“Indonesia juga mendorong pembiayaan iklim yang sesuai dengan kebutuhan implementasi NDC dan Rencana Adaptasi Nasional (National Adaptation Plan/NAP), termasuk dukungan untuk teknologi, peningkatan kapasitas, pelaksanaan program, serta sistem transparansi,” imbuh Jumhur.

Menteri LH juga menegaskan pengurangan emisi metana melalui perbaikan pengelolaan sampah dan air limbah, ekonomi sirkular, penguatan data dan pelaporan, teknologi, serta kapasitas pemerintah daerah.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, metana menyumbang 18,12 persen dari total emisi gas rumah kaca Indonesia pada tahun 2022.

Di bidang adaptasi, Indonesia mengembangkan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa (Pantura) serta melindungi dan merestorasi mangrove dan ekosistem pesisir untuk menghadapi risiko kenaikan muka air laut.

Menjelang COP31 di Antalya, Indonesia mendorong pelaksanaan dan peningkatan target pembiayaan iklim global serta kerja sama multilateral yang menghasilkan perlindungan dan peluang pembangunan bagi masyarakat dan negara yang rentan terhadap perubahan iklim.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *