Jangan Tunda Mengasihi

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Rabu (29/07/2026)  Artikel berjudul “Jangan Tunda Mengasihi” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Jangan menunggu kehilangan
untuk memahami
betapa berharganya kehadiran.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Sebab waktu
tak pernah berjanji
akan selalu menyisakan esok.
Ia berjalan tanpa menoleh,
dan tak seorang pun tahu
di tikungan mana
perpisahan menunggu.

Kasih yang ditunda
ibarat cahaya yang terlambat tiba;
ketika akhirnya menyala,
yang tersisa hanyalah sesal,
sebab wajah yang hendak diteranginya
telah lebih dulu sirna.

Begitu banyak kata
yang ingin menjadi pelukan,
namun membeku di bibir,
hingga akhirnya
hanya sempat menjadi doa
yang berderai bersama air mata.

Dalam sunyi ketiadaan,
barulah kita memahami
bahwa hidup ditenun oleh hal-hal sederhana:
tawa yang tulus,
tatapan yang teduh,
diam yang saling memahami,
dan kebersamaan
yang dulu terasa biasa.

Karena itu,
jangan menunda saling mengasihi.

Peluklah
selagi hangatnya masih ada.
Maafkanlah
selagi tangan masih dapat digenggam.
Ucapkan cinta
selagi suara masih menemukan telinga,
dan tatapan masih menemukan mata.

Sebab penyesalan
selalu datang membawa pelita;
namun sering kali ia menyala
ketika orang yang ingin kita hangatkan
telah berjalan pergi,
meninggalkan kenangan
yang tak lagi dapat dipeluk.

Maka,
curahkan kasihmu hari ini juga.

Sebab cinta
bukanlah bunga
yang menunggu musim sempurna,
melainkan cahaya
yang harus dipancarkan selagi menyala.

**In loving memory of my beloved wife on the 11th anniversary of her passing—the light that forever shines within the home of my heart.

***

Judul: Jangan Tunda Mengasihi
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *