Inti Bumi, Inti Diri, Inti Negeri

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Kamis (07/09/2026)  Artikel berjudul “Inti Bumi, Inti Diri, Inti Negeri” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Kita berpijak di atas kerak bumi.
Kita menyebutnya kokoh.
Padahal, yang kita pijak
hanyalah kulit terluar
dari dunia yang jauh lebih dalam.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di bawahnya,
mantel berupa batuan padat yang sangat panas
bergerak perlahan
dalam rentang jutaan tahun.

Lebih dalam,
inti luar berupa material logam cair
terus bergolak.

Dan di pusat bumi,
inti dalam tetap padat,
meski bersuhu ribuan derajat.
Ia bertahan
di bawah tekanan yang luar biasa.

Bumi yang tampak tenang
ternyata menyimpan
gerak, panas, dan tekanan
di kedalamannya.

Manusia pun demikian.

Di permukaan,
kita menyandang nama,
pekerjaan,
status,
dan berbagai peran.

Di bawahnya,
bergerak pengalaman:
cinta,
kehilangan,
luka,
harapan.

Juga gejolak:
hasrat,
takut,
dan rindu.

Namun semakin dalam
kita mengenal diri,
semakin kita mencari inti:

kesadaran,
nurani,
nilai,
cinta,
dan makna.

Seperti inti bumi,
keteguhan bukan berarti
bebas dari panas dan tekanan.

Keteguhan adalah
mampu mempertahankan jatidiri
di tengah keduanya.

Dan mungkin,
pengalaman itu menemukan
cermin paling nyata
di Indonesia.

Negeri yang berdiri
di salah satu kawasan tektonik
dan vulkanik paling aktif di dunia.

Tempat aneka lempeng bertemu.
Gunung api berkobar.
Bumi berguncang.

Tanah air ini mengajarkan:

kehidupan bukan
menunggu dunia menjadi tenang.

Kehidupan adalah
belajar hidup bersama perubahan.
Menghormati kekuatan alam.
Membangun ketangguhan.

Indonesia juga negeri pertemuan.

Ribuan pulau.
Bahasa.
Suku.
Agama.
Kebudayaan.

Berbeda lapisan,
namun satu tanah air.

Seperti lapisan bumi
yang berbeda
namun membentuk satu planet,
keberagaman tidak harus dihapus
untuk menciptakan kesatuan.

Persatuan adalah
menemukan inti bersama
yang mampu menaungi perbedaan.

Maka bumi,
manusia,
dan Indonesia
seakan menyampaikan pesan yang sama:

Jangan mencari kehidupan
tanpa guncangan.

Carilah kedalaman
yang membuat kita
tidak kehilangan pusat
ketika guncangan datang.

Bergerak tanpa kehilangan arah.
Berubah tanpa kehilangan nilai.
Berbeda tanpa kehilangan persatuan.

Dan di tengah
panas serta tekanan kehidupan,

tetaplah mempertahankan
esensi kemanusiaan.

***

Judul: Inti Bumi, Inti Diri, Inti Negeri
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *