MajmusSunda News, Kolom OPINI, Kamis (07/08/2025) – Artikel berjudul “Indramayu sebagai Titik Awal Kebangkitan Tropika: Andaikan Per 10.000 Hektar Koperasi Industri Berbasis Padi Sukses Dikembangkan di Indramayu” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Pini Sepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.
Di tengah stagnasi nilai tambah pertanian dan ketimpangan desa–kota yang terus membayang, Kabupaten Indramayu bisa tampil sebagai laboratorium tropikanisasi untuk membuktikan bahwa gabah bukan sekadar pangan, melainkan sumber energi, nutrisi, dan industri. Bahkan, lebih dari itu: Simbol pemerdekaan, kebangkitan berlandaskan keadilan dan demokrasi ekonomi.

Dengan luas sawah ±125.400 ha, Indramayu mampu menampung 12 unit koperasi agroindustri multiproduk, masing-masing koperasi mengelola 10.000 ha sawah secara terintegrasi.
Model ini akan bisa menunjukkan bahwa: Pendapatan petani meningkat dari ±Rp 15 juta/tahun menjadi Rp 35–40 juta/tahun; Pendapatan regional melonjak dari Rp 7,8 triliun menjadi Rp 12,672 triliun/tahun; Lapangan kerja langsung meningkat dari ±500 menjadi ±3.600 orang; Emisi karbon dari pembakaran sekam berkurang drastis melalui konversi energi biomassa, dan; Produk rice bran oil dan tepung menir berkontribusi pada penghapusan stunting dan peningkatan gizi tropis
Dampak Nasional: 740 Unit Koperasi Agroindustri Padi
Dengan total luas sawah nasional 7,4 juta hektare, model Indramayu dapat direplikasi menjadi 740 unit koperasi agroindustri tropis Indonesia, masing-masing mengelola 10.000 ha. Proyeksi dampaknya:
Peningkatan Nilai Tambah Nasional

Dengan penerapan model koperasi agroindustri padi tercipta tambahan Rp 301 triliun/tahun dari transformasi gabah menjadi multiproduk tropis.
Kontribusi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan: PDB sektor pertanian dan industri pengolahan meningkat signifikan; Lapangan kerja langsung nasional: ±266.000 orang; Efek pengganda (multiplier effect): ±500.000 tenaga kerja tambahan di logistik, retail, dan jasa; Peningkatan daya beli petani dan UMKM desa; Pengurangan ketergantungan impor minyak, energi, dan pangan fungsional
Penurunan Gini Ratio di Wilayah Perdesaan:
– Gini Ratio perdesaan Maret 2025: 0,299
– Dengan distribusi nilai tambah koperasi dan peningkatan pendapatan petani, proyeksi penurunan: Gini Ratio perdesaan dapat turun ke 0,280–0,285; Distribusi pengeluaran 40% terbawah meningkat dari 21,75% menjadi >24%.
Ini bukan sekadar statistik, tapi pemulihan struktur ekonomi desa melalui kepemilikan kolektif dan nilai tambah tropis. Pelaksanaan amanat Pasal 33 UUD ‘45.
Kesimpulan: Dari Indramayu untuk Indonesia
Indramayu bukan hanya bisa dijadikan sebagai pilot project, ia adalah titik mula restorasi tropika. Dari 12 unit koperasi agroindustri, lahir blueprint untuk 740 unit koperasi nasional yang akan:
– Menghapus stunting dari akar pangan
– Mengubah sekam menjadi cahaya
– Menjadikan petani sebagai pemilik industri
– Menurunkan ketimpangan dan membangun ekonomi berkelanjutan
Dan semua itu dimulai dari gabah, sekam, dan dedak—yang selama ini dianggap remeh, kini menjadi simbol kemerdekaan ekonomi tropis.
MERDEKA! DIRGAHAYU NKRI KE-80!
Dari lumbung yang bangkit untuk republik yang berdaulat.
***
Judul: Indramayu sebagai Titik Awal Kebangkitan Tropika: Andaikan Per 10.000 Hektar Koperasi Industri Berbasis Padi Sukses Dikembangkan di Indramayu
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi












