Indonesia Tidak Hanya Bisa Berdaulat Pangan, tetapi Juga Bisa Berdaulat Sandang

Oleh: Kang Eep

Indonesia tidak hanya bisa

MajmusSunda News – Bandung, Kamis (25/06/2026) – Indonesia tidak hanya bisa berdaulat pangan, tetapi juga bisa berdaulat sandang. Beberapa tahun lalu, saya berkunjung ke Rumah Tenun Pak Tomo di Cikutra 24, Bandung. Nama lengkap beliau adalah Soetomo Kaoem. Di kalangan pegiat serat alam dan tenun, Pak Tomo bukan orang biasa. Ketekunannya mengembangkan industri tekstil dan serat alam membuat beliau menerima Penghargaan Upakarti 2020 kategori Jasa Pengabdian. Tetapi yang paling berkesan bagi saya bukan hanya penghargaannya, melainkan cara beliau membaca tumbuhan, limbah, dan material organik sebagai peluang baru untuk sandang.

Di ruang pamer sekaligus ruang kerjanya, saya melihat satu dunia kecil yang menyimpan gagasan besar. Di tangan Pak Tomo, tumbuhan tidak berhenti sebagai batang, daun, kulit, atau residu pertanian. Ia bisa memiliki kehidupan kedua. Dari rami, bambu, daun, kulit kopi, serat kelapa, akar wangi, sereh wangi, sampai jamur merang, semuanya seperti dapat menemukan fungsi baru.

Beliau pernah memperlihatkan daun yang telah diolah melalui proses biologis berbasis bakteri atau mikroba. Daun asli yang semula mudah sobek, setelah diolah menjadi lebih liat, lentur, dan tidak mudah robek. Yang tersisa adalah struktur tulang daun yang indah. Material seperti ini dapat dijadikan ornamen kain, bahkan berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari tekstil itu sendiri.

Saya juga melihat bahan menyerupai kulit yang dibuat dari jamur merang dan dipakai sebagai bahan sandal. Jamur yang selama ini lebih sering kita bayangkan sebagai pangan, di Rumah Tenun Cikutra berubah menjadi material sandang.

Pertemuan itu membuat saya melihat bahwa pangan, sandang, pertanian, teknologi, dan kreativitas sebenarnya saling berhubungan. Jamur bisa menjadi makanan, tetapi juga bisa menjadi material. Daun bisa jatuh sebagai sampah, tetapi juga bisa menjadi ornamen. Kulit kopi bisa dianggap limbah, tetapi juga bisa menjadi sumber selulosa. Persoalannya bukan pada miskinnya sumber daya, melainkan pada kemampuan kita membaca nilai baru dari sesuatu yang sudah tersedia di sekitar kita.

Salah satu eksperimen paling menarik di Rumah Tenun Pak Tomo adalah pengolahan limbah kulit kopi hasil huller. Ini bukan ampas kopi seduhan, melainkan kulit-kulit kopi kering yang terlepas setelah proses pengupasan biji. Secara material, limbah jenis ini termasuk bahan lignoselulosa, karena mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin, dan komponen organik lain. Dalam industri biasa, bahan seperti ini kerap berhenti sebagai limbah pertanian. Paling jauh dimanfaatkan sebagai kompos, bahan bakar, atau dibiarkan menumpuk. Di tangan Pak Tomo, ia dibaca sebagai sumber selulosa dan calon bahan antara untuk tekstil.

Prosesnya, menurut cerita beliau, dimulai dengan merendam kulit kopi dalam cairan berbasis mikroba atau bakteri racikannya sendiri. Secara ilmiah, proses seperti ini dapat dibaca sebagai biotreatment atau bio-retting, yaitu perlakuan biologis untuk membantu mengurai sebagian komponen non-selulosa pada bahan nabati, seperti pektin, hemiselulosa, atau lignin. Dalam pengolahan serat alam, mikroba yang berperan bisa berasal dari kelompok bakteri pektinolitik, selulolitik, atau lignoselulolitik. Pada pengembangan biomaterial modern, dikenal pula bakteri penghasil selulosa, terutama kelompok bakteri asam asetat seperti Komagataeibacter xylinus, yang mampu menghasilkan bacterial cellulose.

Dengan bahasa sederhana, proses ini adalah cara biologis untuk membuka struktur bahan tanaman agar komponen berseratnya lebih mudah dimanfaatkan. Setelah mengalami proses tersebut, kulit kopi diambil, dikeringkan, lalu digiling menjadi tepung atau serbuk. Tepung ini bukan benang jadi, melainkan bahan antara. Agar bisa masuk ke mesin pembentuk serat, ia perlu diproses lagi menjadi pasta, slurry, larutan kental, atau campuran komposit. Bahan kental inilah yang kemudian dapat masuk ke proses wet spinning atau mesin ekstrusi serat dengan komponen bernama spinneret. Dalam proses itu, bahan ditekan melewati lubang-lubang sangat kecil sehingga keluar sebagai filamen halus. Filamen tersebut kemudian ditarik, dikeringkan, dan diproses menjadi serat atau benang.

Gagasan Pak Tomo bukan sekadar romantisme bahan alam. Ia sudah menyentuh wilayah teknologi material: ada biologi, kimia bahan, mekanika proses, dan imajinasi industri. Dari satu ruang kerja kecil di Cikutra, pembicaraan tentang kedaulatan sandang menjadi terasa lebih nyata. Sandang tidak lagi sekadar urusan pakaian jadi, tetapi juga urusan bahan baku, teknologi pengolahan, rantai pasok, standardisasi mutu, dan keberpihakan negara.

Selama ini kita cukup sering berbicara tentang kedaulatan pangan. Kita bicara beras, jagung, kedelai, gandum, sorgum, singkong, sagu, dan tepung lokal. Itu penting. Tetapi manusia tidak hanya makan. Sejak Nabi Adam alaihissalam diturunkan ke bumi, kebutuhan dasar manusia tidak hanya pangan, tetapi juga sandang. Manusia makan, manusia berpakaian. Bangsa yang ingin berdaulat tidak cukup hanya bertanya: dari mana makanan kita berasal? Ia juga harus bertanya: dari mana pakaian kita berasal?

Pertanyaan itu makin mendesak karena industri tekstil nasional sedang menghadapi tekanan besar. Data BPS menunjukkan impor produk tekstil Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 2,19 juta ton dengan nilai hampir 9 miliar dolar AS. Di saat yang sama, sejumlah pabrik tekstil tutup dan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan. Kementerian Perindustrian pernah mencatat sedikitnya enam perusahaan tekstil besar tutup dengan sekitar 11.000 pekerja terdampak. Angka-angka ini menunjukkan bahwa persoalan tekstil bukan sekadar urusan mode, tetapi menyangkut industri padat karya, devisa, lapangan kerja, dan masa depan manufaktur nasional.

Tekanan itu tidak hanya datang dari impor tekstil dan pakaian jadi baru. Pakaian bekas impor ilegal juga memukul pasar domestik, terutama segmen murah yang menjadi ruang hidup penjahit, konveksi, IKM, pedagang kain, dan produsen lokal. Secara resmi, data pakaian bekas yang tercatat bisa tampak kecil, tetapi data pembanding dari negara asal menunjukkan volume yang jauh lebih besar. Ketika pakaian bekas masuk dengan harga sangat rendah, produk lokal harus bertarung dalam arena yang tidak seimbang.

Di Garut, kita pernah punya Pabrik Tenun Garut atau PTG. Pada masanya, PTG bukan sekadar pabrik. Ia adalah simbol bahwa Garut pernah memiliki denyut industri tekstil yang besar. Pabrik ini pernah menjadi kebanggaan, menyerap tenaga kerja, dan menjadi bagian dari ingatan sosial masyarakat Garut. Namun hari ini PTG tinggal cerita. Bangunannya hilang, industrinya berhenti, dan yang tersisa hanya ingatan tentang masa ketika Garut pernah menjadi salah satu simpul penting tekstil.

Nasib PTG adalah cermin. Ketika industri tekstil lokal runtuh, yang hilang bukan hanya mesin dan bangunan. Yang ikut hilang adalah ekosistem keterampilan, rantai pasok, pengetahuan produksi, kebanggaan daerah, dan kesempatan kerja.

Kedaulatan sandang tidak bisa dimaknai secara sempit sebagai menolak semua barang luar. Tidak sesederhana itu. Kedaulatan sandang adalah kemampuan bangsa untuk menguasai sumber bahan, teknologi pengolahan, keterampilan produksi, desain, pasar, dan kebijakan perlindungan. Kita tidak harus menutup diri dari dunia, tetapi kita juga tidak boleh menjadi bangsa yang hanya menjadi pasar bagi tekstil dan pakaian bangsa lain.

Masalahnya memang tidak mudah. Untuk kapas, Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Industri tekstil modern kita sudah lama bertumpu pada kapas dari luar negeri. Jika kedaulatan sandang hanya dipahami sebagai swasembada kapas, jalannya akan sangat berat. Lahan, iklim, produktivitas, varietas, harga, dan skala industri menjadi tantangan besar.

Namun sandang tidak hanya kapas.

Indonesia memiliki kapuk. Selama ini kapuk lebih sering dipandang sebagai isi kasur dan bantal. Padahal kapuk adalah serat alam tropis yang dapat dikembangkan untuk berbagai produk: tekstil tertentu, nonwoven, insulasi, komposit, dan material berbasis selulosa. Indonesia juga memiliki sutra. Tradisi sutra masih hidup di beberapa daerah, meskipun produksi benang sutra dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Kita juga memiliki rami, kenaf, abaka, pisang, nanas, bambu, serat kelapa, mendong, pandan, eceng gondok, akar wangi, dan begitu banyak sumber serat tropis lain.

Bambu menyimpan potensi menarik. Selama ini bambu lebih sering dipakai sebagai bahan bangunan, bilik, kerajinan, atau peralatan rumah tangga. Padahal serat bambu dapat dikembangkan sebagai bahan tekstil. Dalam teknologi tertentu, terutama melalui pengolahan bamboo charcoal atau arang bambu, kain berbasis bambu berpotensi memiliki kemampuan menyerap bau dan membantu mengurangi aroma tidak sedap pada pakaian. Ini menarik untuk negeri tropis seperti Indonesia, tempat pakaian sehari-hari harus berhadapan dengan panas, keringat, dan kelembapan.

Sumber lain datang dari limbah pertanian: kulit kopi, batang tembakau, ampas sereh wangi, sisa bambu, daun, batang tanaman, dan berbagai residu biomassa. Jika dibiarkan, ia menjadi limbah. Jika dibakar, ia menjadi polusi. Tetapi jika diteliti, diolah, dan dihubungkan dengan teknologi tekstil, ia bisa menjadi bahan sandang masa depan.

Jalan menuju kedaulatan sandang Indonesia tidak harus dimulai dari pabrik raksasa. Ia bisa dimulai dari ekosistem. Petani menanam bahan serat. Peneliti mengembangkan proses pengolahan. Praktisi seperti Pak Tomo bereksperimen dengan bahan dan teknik. Perajin menenun. Desainer mengubahnya menjadi produk bernilai. Industri membantu memperbesar skala produksi. Negara melindungi pasar dari impor ilegal dan pakaian bekas yang mematikan produsen lokal. Kampus dan lembaga riset memastikan prosesnya valid, aman, kuat, dan bisa distandardisasi.

Dalam bahasa teknokratis, yang perlu dibangun adalah rantai nilai serat alam nasional: dari budidaya, pascapanen, ekstraksi serat, pemurnian selulosa, pemintalan, penenunan, finishing, desain produk, sampai akses pasar. Indonesia juga perlu mengembangkan klaster fibershed di berbagai daerah, yaitu kawasan sandang lokal yang menghubungkan petani serat, pengolah bahan, pewarna alam, penenun, desainer, industri kecil, lembaga riset, dan pasar dalam satu ekosistem wilayah.

Gerakan pangan mengenal istilah locavore: makan dari bumi sendiri, dari petani sendiri, dari ekosistem lokal sendiri. Di dunia tekstil, istilah yang dekat dengan gagasan itu adalah fibershed: berpakaian dari serat lokal, pewarna lokal, perajin lokal, dan rantai produksi lokal. Untuk Indonesia, gagasan ini bisa diterjemahkan menjadi gerakan sandang lokal atau kedaulatan sandang Nusantara.

Jika locavore mengajak kita makan dari tanah tempat kita hidup, maka fibershed mengajak kita berpakaian dari serat yang tumbuh di tanah yang sama.

Pelajaran dari Rumah Tenun Pak Tomo sederhana, tetapi penting: Indonesia bukan kekurangan bahan. Kita punya daun, bambu, kopi, kapuk, sutra, rami, jamur, pisang, nanas, kelapa, dan ribuan tanaman tropis. Yang belum kuat adalah keseriusan menghubungkan kekayaan itu dengan riset, teknologi, industri, desain, pasar, dan kebijakan negara.

Maka setelah kedaulatan pangan, kita harus mulai berbicara tentang kedaulatan sandang. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya, tetapi juga bangsa yang mampu memakaikan rakyatnya dengan hasil bumi, ilmu, dan keterampilan bangsanya sendiri.

Indonesia bisa berdaulat pangan. Dengan keberanian riset, perlindungan pasar, serta penghormatan kepada para praktisi serat seperti Pak Tomo, Indonesia juga bisa berdaulat sandang.

Salam

Catatan:
Info terbaru, Pak Tomo (Soetomo Kaoem) telah meninggal dunia pada tahun 2023.

Kang Eep
Kang Eep (Penulis)

Judul: Indonesia Tidak Hanya Bisa Berdaulat Pangan, tetapi Juga Bisa Berdaulat Sandang
Penulis: Eep S. Maqdir
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *