Indonesia Negeri Beracun

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Kamis (15/10/2026) – Artikel berjudul “Indonesia Negeri Beracun” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Entah sejak kapan Indonesia begitu akrab dengan racun. Racun tak lagi sekadar zat kimia, tetapi hadir di piring, mengepul dari hutan, mengalir dalam air, bertebaran di udara, menyala di layar ponsel, hingga bersembunyi di meja kekuasaan.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Racun makanan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulia tujuannya dapat kehilangan makna ketika perencanaan tak matang, pelaksanaan tak siap, dan pengawasan lengah. Anak-anak membutuhkan gizi, bukan risiko akibat tata kelola yang terburu-buru. Niat baik bukan pengganti persiapan yang baik.

Racun asap. Kebakaran hutan dan lahan berskala masif mengubah pepohonan menjadi abu dan langit menjadi ancaman kesehatan. Rakyat menghirup asap, meski bukan mereka yang menyalakan api. Masker dibagikan, imbauan diumumkan, tetapi akar masalah menuntut lebih dari sekadar penanganan darurat: pencegahan, perlindungan hutan, dan penegakan hukum.

Racun air dan udara. Pencemaran membuat kebutuhan paling mendasar berubah menjadi ancaman. Sungai diracuni limbah, udara dikotori emisi, sementara masyarakat kecil sering paling sulit menghindar. Alam dieksploitasi demi keuntungan, rakyat menanggung akibatnya. Apa gunanya pembangunan jika untuk hidup sehat saja manusia harus berjuang?

Racun judi online. Harapan cepat kaya berubah menjadi lingkaran utang, kebohongan, dan kehancuran keluarga. Kemiskinan dijadikan celah, kecanduan menjadi perangkap, dan kesengsaraan manusia menjadi ladang keuntungan.

Racun korupsi. Uang publik diselewengkan, pelayanan kehilangan mutu, dan kepercayaan terkikis. Mereka yang diberi amanah mengurus kepentingan rakyat justru dapat menjadi penyebab hilangnya hak rakyat. Korupsi bukan sekadar pencurian uang, melainkan perampasan kesempatan dan masa depan.

Racun pembiaran. Tragedi datang, rakyat marah, pejabat berjanji, berita berganti, lalu semuanya terlupakan. Kesalahan berulang karena tanggung jawab lebih mudah dihindari daripada ditunaikan. Inilah racun yang membuat keburukan perlahan dianggap kewajaran.

Lantas, pertanda apakah semua ini?

Barangkali bukan pertanda kehancuran yang tak terelakkan, melainkan peringatan bahwa ada yang keliru dalam cara kita mengelola kehidupan. Niat baik tanpa perencanaan, kekayaan tanpa tanggung jawab, dan kekuasaan tanpa integritas dapat berubah menjadi racun bagi bangsa sendiri.

Setiap racun membutuhkan penawar: makanan yang aman, hutan yang terlindungi, air dan udara yang bersih, masyarakat yang terbebas dari jerat perjudian, serta kekuasaan yang tunduk pada hukum.

Sebab, kebesaran bangsa bukan diukur dari megahnya slogan, melainkan dari keselamatan rakyatnya.

Dan racun paling berbahaya bukanlah yang masuk melalui mulut atau hidung, melainkan yang meracuni nurani—ketika kesalahan terus berulang, korban terus berjatuhan, tetapi tak seorang pun merasa sungguh-sungguh bertanggung jawab.

Indonesia tidak kekurangan janji tentang masa depan. Indonesia membutuhkan keberanian untuk berhenti meracuni masa depannya sendiri.

***

Judul: Indonesia Negeri Beracun
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *