MajmusSunda News, Jawa Barat, Jum’at (04/09/2026) – Di balik narasi politik dan keagamaan seputar Gunung Padang, ada satu benang merah yang tidak kalah penting: komoditas padi. Dalam kajian ini, padi bukan sekadar bahan pangan, melainkan elemen yang membentuk identitas, konflik, bahkan simbol kedaulatan masyarakat Sunda kuno.
Padi Pandanwangi, Komoditas yang Menggerakkan Sejarah
Seperti dibahas pada bagian sebelumnya, konflik antara Tarumanagara dan Sriwijaya diduga kuat dipicu oleh terganggunya rantai pasok beras. Pertanyaannya: varietas padi apa yang menjadi rebutan dua kerajaan besar itu?

Kajian ini menduga kuat bahwa varietas tersebut adalah Pandanwangi, atau yang lebih dikenal sebagai beras Cianjur—jenis padi asli Sunda dengan sejarah panjang. Namun keberadaannya sempat timbul tenggelam sepanjang sejarah. Pada masa kolonial Belanda, banyak lahan sawah dialihfungsikan menjadi perkebunan karet, kopi, teh, dan tebu, sejalan dengan penerapan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) kebijakan yang lahir karena nasi saat itu belum menjadi makanan pokok populer di kalangan masyarakat Eropa.
Baru pada masa Orde Baru, pertanian padi kembali digalakkan lewat Program Swasembada Pangan Nasional. Namun ironisnya, varietas yang dipilih bukan Pandanwangi, melainkan Varietas Internasional Rice (IR 64), karena produktivitasnya lebih tinggi dan lebih tahan hama. Meski begitu, Pandanwangi tidak sepenuhnya punah sebagian masyarakat di dataran tinggi tetap melestarikannya hingga kini.
Dalam kajian ini, Pandanwangi diyakini sudah ditanam bahkan sebelum terbentuknya struktur masyarakat adat Salakanagara, dan terus dikembangkan sepanjang era Tarumanagara hingga Pajajaran menjadikannya salah satu warisan agraris tertua masyarakat Sunda.
Dari Arit Petani Menuju Pusaka Kujang
Bagian paling menarik dari kajian ini barangkali adalah bagaimana sebuah alat pertanian sederhana bertransformasi menjadi senjata pusaka yang sarat makna filosofis.
Jauh sebelum arit menjadi simbol suara rakyat/petani dalam gerakan Bolshevik di Uni Soviet pada abad ke-20, masyarakat Sunda pada abad ke-7 Masehi sudah lebih dulu memiliki gagasan tentang demokrasi kerakyatan. Perlu ditegaskan, kajian ini sama sekali tidak mengaitkan fenomena ini dengan ideologi komunisme dua peristiwa itu berbeda konteks dan zaman sepenuhnya. Yang ingin ditekankan adalah fakta sejarah bahwa aspirasi kolektif para petani Sunda mampu mengguncang dua kerajaan besar sekaligus: Tarumanagara dan Sriwijaya.
Seiring waktu, arit—alat kerja para petani ini—mulai dikeramatkan oleh masyarakat, hingga akhirnya bertransformasi menjadi apa yang kini dikenal sebagai Pusaka Kujang.
Batu Kujang di Situs Gunung Padang
Temuan arkeologis turut memperkuat narasi ini. Tim peneliti mandiri (TTRM) di Situs Gunung Padang pernah menemukan sebuah artefak yang dikenal sebagai “Batu Kujang”, berukuran sekitar 20 cm x 5 cm x 5 cm, dengan bentuk menyerupai helix, ditemukan di kotak gali Delta Selatan Teras 5.
Dalam kajian ini, Batu Kujang tersebut diduga kuat merupakan benda sejarah penting yang perlu dijaga dan dilestarikan sesuai nilai tradisi dan budaya setempat, sekaligus menjadi simbol kedaulatan Kerajaan Sunda pada masanya.
Alur Filosofis: Dari Padi ke Simbol Kedaulatan
Jika dirangkum, kajian ini menggambarkan sebuah alur transformasi filosofis yang berlapis:
Padi → Petani → Arit (simbol pemersatu identitas petani), yang berkembang seiring lahirnya budaya, sastra, seni, arsitektur, sistem pengolahan logam, sistem pertanian, hingga sistem pemerintahan (dirangkum dalam konsep Sambada, Sambawa, Winasa) → Sanghyang Seri (dewi padi sebagai simbol kemakmuran) → Orang Sunda → Pusaka Kujang (simbol kedaulatan).
Dengan kata lain, saat padi bertransformasi menjadi simbol kemakmuran (Sanghyang Seri), arit pun mengalami keselarasan transformasi menjadi simbol kedaulatan (Pusaka Kujang). Keduanya berjalan beriringan sebagai representasi dua sisi kehidupan masyarakat Sunda kuno: kemakmuran ekonomi dan kedaulatan politik.
Bersambung ke Bagian 5 (penutup): Analisis dan Kesimpulan.
***
Judul: Gunung Padang: Dari Kadatuan Menjadi Kabuyutan — Sebuah Hipotesis (Bagian 1: Pengantar)
Penulis: Dendi Hadidi
Editor: Raka Alvaro Triputra












