Gunung Padang: Dari Kadatuan Menjadi Kabuyutan (Bagian 3: Masa Kerajaan Pajajaran)

Oleh: Dendi Hadidi

MajmusSunda News, Jawa Barat, Kamis (03/09/2026) – Jika di masa Kerajaan Sunda Gunung Padang diduga berfungsi sebagai pusat pemerintahan (Kadatuan), maka babak berikutnya bercerita tentang bagaimana fungsi itu bergeser total menjadi tempat suci atau Kabuyutan. Perubahan ini terjadi ketika Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh bersatu kembali menjadi Kerajaan Pajajaran, dengan ibu kota baru di wilayah Pakuan kini Kota Bogor.

Prasasti Kebantenan sebagai Bukti Primer

Salah satu sumber kunci dalam kajian ini adalah Prasasti Kebantenan, merujuk pada lima lempeng tembaga berbahasa Sunda Kuno yang ditemukan di Desa Kabantenan, Bekasi. Meski tidak mencantumkan tahun pembuatan secara eksplisit, gaya bahasa dan penyebutan nama raja dalam prasasti ini menunjukkan bahwa prasasti ini dibuat pada masa kekuasaan Sri Baduga Maharaja di Kerajaan Sunda-Pajajaran, sekitar tahun 1482-1521. Prasasti ini kini tersimpan di Museum Nasional.

Dendi Hadidi, Budayawan. – (Sumber: MMS)

Pada salah satu lempeng, muncul frasa penting yang menyebut sebuah “devasasana” (bangunan suci) yang terletak di Gunung Samaya. Dalam pembacaan kajian ini, penyebutan Gunung Samaya inilah yang menjadi titik tolak dugaan bahwa lokasi tersebut merujuk pada Gunung Padang yang kita kenal sekarang.

Mengapa Kadatuan Diubah Menjadi Kabuyutan?

Menurut interpretasi kajian ini, di bawah pemerintahan Sri Baduga Maharaja Ratu Jaya Dewata (Prabu Siliwangi), Kadatuan lama di Sundasembawa dialihfungsikan menjadi Kabuyutan. Alasannya cukup masuk akal: setelah Kerajaan Sunda dan Galuh bersatu, ibu kota resmi kerajaan telah disepakati berlokasi di Pakuan (Bogor), sehingga fungsi pemerintahan pun berpindah ke sana.

Namun, wilayah Sundasembawa tidak lantas ditinggalkan begitu saja. Justru sebaliknya—tempat ini dipertahankan keberadaannya sebagai situs yang dihormati, mengingat sejarah perjuangan Maharaja Tarusbawa dan rakyatnya yang tetap teguh menjaga nilai-nilai kesundaan meski berada dalam tekanan Sriwijaya dan wilayah kedaulatan yang terus menyusut. Dalam kajian ini, Maharaja Tarusbawa bahkan diduga menjadi sosok inspiratif bagi Prabu Siliwangi dalam membangun tata kelola pemerintahan Pajajaran hingga menjadi kerajaan besar yang disegani.

Nama Sundasembawa sendiri diyakini berasal dari gelar Maharaja Tarusbawa yang lengkap: Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa. Gelar inilah yang kemudian diabadikan oleh Prabu Siliwangi dalam Prasasti Kebantenan sebagai nama sebuah wilayah sakral kerajaan.

Satu Tempat, Tiga Nama Berbeda

Salah satu temuan menarik dari kajian ini adalah bagaimana satu lokasi yang sama disebut dengan nama berbeda di beberapa sumber:

  • Dalam Prasasti Kebantenan, disebut sebagai “Sanggar Kami Ratu” atau “Kabuyutan Agung Gunung Samaya”.
  • Dalam naskah Pantun Carita Mundinglaya di Kusumah, tempat ini disebut “Bale Pamunjungan Kiara Hyang”.
  • Dalam Naskah Bujangga Manik, disebut sebagai “Gunung Ratu”, yang bahkan dikaitkan dengan Pelabuhan Ratu sebagai pelabuhan para raja.

Konsistensi penyebutan tempat sakral yang sama dalam tiga sumber berbeda ini memperkuat dugaan bahwa lokasi tersebut memang memiliki kedudukan penting dalam struktur kepercayaan Kerajaan Pajajaran.

Petunjuk dari Prasasti Batu Tulis

Sumber primer lain yang memperkuat hipotesis ini adalah Prasasti Batu Tulis, yang menyebut beberapa elemen penting: pembuatan “gunungan”, penyusunan bebatuan (balay), tempat upacara (samida), dan Telaga Warna yang disebut suci. Dalam kajian ini, elemen-elemen tersebut ditafsirkan sebagai berikut:

  • Gunungan dikaitkan dengan Gunung Samaya.
  • Balay (bebatuan yang disusun) dikaitkan dengan Bale Pamunjungan Kiara Hyang.
  • Samida ditafsirkan sebagai tempat suci atau tempat upacara.
  • Telaga Rena Mahawijaya ditafsirkan sebagai Telaga Warna, yang diduga menjadi bagian dari rute menuju Gunung Samaya.
  • Penyebutan “lima Pandawa” kembali muncul, yang dalam konteks ini merujuk pada lima nama Kadatuan: Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati.

Makna “Tritangtu di Buana”

Dari rangkaian bukti ini, kajian menyimpulkan bahwa keberadaan Gunung Samaya bukan sekadar situs pemujaan biasa, melainkan representasi dari sebuah janji setia—yang dalam kajian ini dirangkum dengan istilah “Tritangtu di Buana”: manifestasi dari kesetiaan rakyat Sunda kepada tatanan Prabu, Rama, dan Resi yang menjadi struktur ideal kepemimpinan Sunda.

Bersambung ke Bagian 4: Sanghyang Seri & Pusaka Kujang.

***

Judul: Gunung Padang: Dari Kadatuan Menjadi Kabuyutan (Bagian 3: Masa Kerajaan Pajajaran)
Penulis: Dendi Hadidi
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *