GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-58: “Tak Jadi ‘Oedipus Complex’: Tafsir Hermeneutika Legenda Sangkuriang”

Oleh: Oman Abdurahman

Hermeneutika

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (24/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan metodologi filsafat tafsir tekstual, semiotika spiritual “ketimuran”, dan dekonstruksi psikokultural radikal terhadap pemikiran budayawan Haji Raden Hidayat Suryalaga atas Legenda Sangkuriang melintasi kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan makna substantif keilmuan hermeneutika sebagai pembongkar pesan tersembunyi teks kuno, eksposisi hermeneutika spiritual mengenai kedudukan Dayang Sumbi selaku perlambang abadi kesucian Ibu Bumi, bedah filosofis atas ambisi Sangkuriang selaku cerminan ego buta teknologi dan kepongahan materialistis akal manusia, dan perbandingannya dengan filsafat ketimuran “Jamaliyyah” dan “Jalaliyyah” atau Taoisme, penegasan argumen pemisah yang menolak total penyamaan dengan sindrom Oedipus Barat melalui keunggulan hukum moral ketimuran, hingga epilog kebangsaan berupa maklumat ekologis tertinggi untuk merawat kesucian rahim lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Menembus Cakrawala Teks: Hakikat Filsafat Hermeneutika dan Pisau Analisis Pembacaan Makna Tersembunyi

Lompatan pemahaman atas Legenda Sangkuriang bergerak semakin berbobot ketika sains fisik kebumian disandingkan bersama pisau analisis keilmuan hermeneutika, sebuah metodologi filsafat klasik yang berakar dari tradisi intelektual Barat untuk membongkar makna tersembunyi di balik untaian teks atau simbol kuno. Secara filosofis, hermeneutika didefinisikan sebagai ilmu dan seni menafsirkan kode-kode bahasa, di mana sebuah narasi tidak boleh dibaca secara dangkal melintasi arti harfiah tekstual semata, melainkan wajib dibongkar secara kokoh guna menemukan esensi terdalam yang disembunyikan oleh sang pembuat teks. Melalui pendekatan hermeneutika, setiap jalinan karakter, latar tempat, dan benda di dalam sebuah mitos diperlakukan sebagai teka-teki semiotik yang merefleksikan kesadaran manusia, tatanan sosial, dan hubungan transendental dengan alam semesta. Pendekatan filsafat inilah yang menaikkan kelas cerita rakyat yang legendaris itu dari sekadar dongeng romantis selintas menjadi sebuah dokumen teks spiritual dan intelektual yang teramat berwibawa di bawah naungan menara ilmu pengetahuan.

2. Rahim Kesucian Semesta: Eksplorasi Hermeneutika Spiritual Tokoh Dayang Sumbi sebagai Perlambang Ibu Bumi

Di dalam jagat pemikiran budayawan dan pakar falsafah Sunda terkemuka, Haji Raden (HR) Hidayat Suryalaga, yang teramat lekat dipanggil Abah Surya dan kini sudah almarhum, kedudukan Dayang Sumbi dibedah secara ksatria menembus batas spiritual ketimuran yang teramat luhur. Abah Surya secara jenius menafsirkan bahwa nama Dayang Sumbi secara mutlak merupakan representasi simbolik dari kesucian raga Ibu Bumi, rona kelestarian alam, serta manifestasi hukum ketetapan Ilahi yang sifatnya kekal dan tidak pernah layu ditelan fase zaman. Konsep kosmis ini dalam filsafat ketimuran atau Taoisme berdiri setara dengan prinsip Jamaliyyah atau feminisme universal atau energi Yin. Aktivitas menenun kain yang dilakukan oleh Dayang Sumbi di dalam kesendirian hutan dipahami secara hermeneutik sebagai metafora dari proses merajut keselarasan kosmis, menjaga keseimbangan ekologis, serta merawat siklus kehidupan yang bersahaja. Kehadiran sosok putri awet muda ini bertindak sebagai jangkar spiritual yang selalu mengingatkan manusia akan eksistensi hukum alam yang agung, memancarkan pesan teologis bahwa raga bumi adalah entitas suci yang wajib dihormati dan tidak boleh dinodai oleh keangkuhan peradaban luar.

3. Manifestasi Angkara Akal: Eksplorasi Hermeneutika Watak Sangkuriang selaku Cerminan Ego Tekno-Materialistis

Sebaliknya, dekonstruksi hermeneutika atas jalannya alur cerita rakyat ini menempatkan figur Sangkuriang pada takhta tafsir yang bertolak belakang sebagai antitesis dari kesucian alam semesta. Dalam kacamata semiotika Abah Surya, sosok Sangkuriang bertindak sebagai personifikasi dari ego kemanusiaan, luapan nafsu angkara, serta kepongahan ambisi rasional akal manusia yang meledak-ledak menantang keterbatasan fisis raga diri. Prinsip destruktif ini dalam filsafat ketimuran atau Taoisme berdiri setara dengan konsep Jalaliyyah atau maskulinisme agresif atau energi Yang. Persyaratan pembuatan bahtera kayu raksasa bersanding pembendungan aliran deras Sungai Citarum dalam waktu satu malam ditafsirkan sebagai simbol dari batas agresivitas teknologi buatan manusia yang mencoba memotong jalur hidrolik alam demi memuaskan hasrat eksploitasi secara serakah. Kegagalan total Sangkuriang yang ditutup oleh amukan tendangan perahu hingga menelungkup menjadi monumen pejal Gunung Tangkubanparahu mengunci maklumat filosofis tertinggi bahwa kesombongan sains materialistis manusia akan selalu membentur dinding kekalahan mutlak ketika menantang daulat hukum kesucian Ibu Bumi.

4. Runtuhnya Dogma Barat: Penegasan Batas Pemisah Sindrom Oedipus Versus Ketegasan Moral Timur

Ketajaman analisis hermeneutika HR Hidayat Suryalaga mencapai puncak kedudukan tertinggi ketika beliau secara radikal menolak penyamaan kisah Sangkuriang dengan dogma psikologi Barat yang karib dikenal sebagai sindrom Oedipus (Oedipus complex). Abah Surya menegaskan secara kaku bahwa Legenda Sangkuriang seratus persen berbeda dan menolak mentah-mentah konseptualisasi Oedipus dari mitologi Yunani, karena Sangkuriang tidak pernah memiliki hasrat bawah sadar untuk menikahi ibunya; sebaliknya, fase konflik meledak murni akibat ketidaktahuan spasial dan ketidakaslian informasi masa lalu. Perbedaan terbesar yang meruntuhkan dogma Barat tersebut dikunci oleh fakta moralitas ketimuran yang teramat ketat, di mana saat kebenaran jati diri pertalian darah tersingkap, hukum moral adat langsung membatalkan rencana pernikahan sedarah tersebut secara mutlak. Sementara kisah Oedipus berakhir tragis dalam pemenuhan takdir hasrat hubungan terlarang yang absurd, kisah Sangkuriang justru bertindak sebagai benteng hukum adat dan alarm moralitas komunal yang melarang keras pelanggaran batas suci tabu kekeluargaan, mengembalikan harga diri kebudayaan nasional dari noda penyimpangan psikologis. Kisah rakyat itu juga menyiratkan sebuah kebenaran makro atau abadi (perennial) bahwa aspek Jamaliyyah atau feminisme atau Yin selalu berdiri lebih superior dan lebih unggul daripada watak Jalaliyyah atau maskulinisme atau Yang.

5. Epilog Geowisata: Maklumat Ekologis Penyelamatan Hutan Hulu dan Seruan Suci Merawat Ibu Bumi demi NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis melintasi ketajaman tafsir hermeneutika HR Hidayat Suryalaga membawa kita pada satu maklumat ekologis tertinggi mengenai esensi bela negara lingkungan. Memahami kisah Sangkuriang bukan lagi urusan menghafal dongeng perahu terbalik, melainkan sebuah seruan suci dan ksatria untuk kembali merawat, menghormati, dan membentengi Bumi yang bertindak sebagai “Ibu” kandung pelindung kehidupan kita dari keserakahan eksploitasi kapitalistik. Menolak alih fungsi lahan masif di Kawasan Bandung Utara dan menegakkan hukum tata ruang wilayah lindung di lereng gunung secara absolut adalah tindakan ksatria nyata untuk melindungi kesucian rahim air dan sabuk hijau hutan dari kehancuran beton pariwisata massal yang malas. Menghancurkan hutan hulu dan menyedot air tanah secara ugal-ugalan adalah bentuk nyata dari amukan nafsu buta Sangkuriang modern yang wajib ditindak tegas oleh hukum kedaulatan negara. Merawat kemurnian laboratorium alam bersanding pusaka sastra lingkungan purba ini adalah janji suci kita bersama demi membentengi hak intelektual generasi penerus serta menjaga martabat tertinggi kedaulatan kebudayaan sains Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!

#GeowisataNusantara #SeriBS-58 #TafsirHermeneutikaSangkuriang #BukanOedipusComplex #HidayatSuryalaga #AbahSuryaAlmarhum #KemenanganJamaliyyahKosmis #EgoJalaliyyahMaskulin #FeminismeTaoSunda #IbuBumiPasundan #FilsafatSemiotikaSunda #HukumMoralTimur #KebenaranPerenialAbadi #BelaNegaraEkologis #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman #GeoliterasiKritis #CagarBudayaTutur #KonservasiBandungUtaraLestari

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-58: “Tak Jadi ‘Oedipus Complex’: Tafsir Hermeneutika Legenda Sangkuriang”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *