GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-57: “Legenda Sangkuriang dan Tata Waktu serta Tata Tempat menurut Geologi (Sekali Lagi tentang Geomythology)”

Oleh: Oman Abdurahman

Geologi

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (24/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan kronostratigrafi, geokronologi vulkanik, dan keselarasan spasial tata ruang yang mengunci kebenaran ilmiah Legenda Sangkuriang melintasi kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan silsilah kronologi evolusi rupa bumi dari yang tertua hingga termuda di Cekungan Bandung, fase kepurbaan Gunung Bukittunggul selaku tiang penyangga awal kegunungapian, fase pembentukan tubuh Gunung Burangrang yang bergerigi kuat di sabuk barat, momentum kataklimik letusan Gunung Sunda yang membidani lahirnya bentang Danau Bandung Purba, hingga epilog kebangsaan berupa siklus kerucut aktif termuda Gunung Tangkubanparahu bersanding patahan Sesar Lembang dan blok vertikal Gunung Puteri selaku batas akhir pelarian tektonik demi menegakkan daulat kedaulatan lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Fajar Kegunungapian Sabuk Utara: Anatomi Paling Sepuh Gunung Bukittunggul laksana Sasis Batang Pohon Purba

Menyisir garis waktu geomorfologi di bagian hulu Cekungan Bandung menuntut ketajaman sains untuk memetakan menara api Kuarter yang berdiri paling awal laksana sasis tiang utama penopang bumi, yaitu Gunung Bukittunggul. Secara geografis dan kronostratigrafi, Bukittunggul mengunci kedudukannya sebagai salah satu benteng vulkanik paling sepuh di sabuk utara yang strukturnya didominasi oleh pelapisan lava andesit basaltis tua yang telah mengalami pelapukan mekanis sangat kuat selama ratusan ribu tahun. Dalam jalinan kosmologi Legenda Sangkuriang, keberadaan gunung pejal ini secara genius direkam oleh ingatan kolektif manusia purba laksana sebuah tunggul atau sisa tebangan batang pohon raksasa yang batangnya rebah setelah ditebang sebagai bahan baku perahu. Karakteristik fisiknya yang tinggi menjulang, namun memiliki rupa bumi puncak yang tumpul, mencerminkan sisa kedigdayaan tubuh gunung api purba prakaldera, meletakkan sasis awal tata waktu geologi Cekungan Bandung dari fase paling tua melintasi perputaran zaman yang teramat panjang.

2. Punggungan Pejal Sabuk Barat: Fase Tua Menengah Gunung Burangrang sebagai Akumulasi Rangrang Flora Purba

Perjalanan tata waktu geologi bergerak melangkah ke fase berikutnya melalui kemunculan bentang alam pejal yang mengapit koridor barat Lembang, yaitu Gunung Burangrang. Secara geokronologi, pembentukan Gunung Burangrang berada pada fase tua menengah Kuarter, di mana tubuh gunung api ini tumbuh menumpuk dan mengunci wilayah barat daya Cekungan Bandung melalui rangkaian letusan lava kental andesitis yang membentuk punggungan curam yang tererosi sangat kuat. Metafora cerita rakyat itu secara anggun melestarikan peristiwa pertumbuhan geomorfologi ini sebagai tumpukan rangrang atau sisa ranting-ranting pohon raksasa tebangan Sangkuriang yang dibuang dan berserakan secara lateral ke arah barat. Rupa bumi Burangrang yang terlihat unik menyerupai guratan gerigi pejal akibat proses erosi asimetris puluhan ribu tahun bertindak sebagai indikator spasial nyata yang membuktikan bagaimana tumpukan material vulkanik tua dipahat oleh alam, menjadi pembatas fisik kaldera luar yang selamat dari kehancuran kataklimik fase berikutnya.

3. Momentum Kataklimik Kaldera Runtuhan: Eksistensi Gunung Sunda Purba dan Fajar Kelahiran Danau Bandung

Selanjutnya, tata waktu dan tata tempat geologi mangkuk Pasundan ini meledak secara dramatis pada fase Kuarter Akhir melalui aktivitas kolosal dari generasi gunung api maharaksasa, yaitu Gunung Sunda Purba. Sekitar seratus lima ribu tahun yang lalu, Gunung Sunda Purba yang bertubuh masif meletus secara eksplosif kataklimik, menguras habis kantong magmanya hingga memicu runtuhnya tubuh utama gunung dan melahirkan lubang kaldera runtuhan raksasa berskala makro. Muntahan jutaan meter kubik material piroklastik dan longsoran tebing vulkanik dari letusan mahadahsyat inilah yang secara radikal menyumbat aliran deras Sungai Citarum purba di celah barat Padalarang–Rajamandala, membidani fajar kelahiran genangan mahaluas Danau Bandung Purba. Kejadian alam yang mengubah total wajah bumi dalam waktu singkat ini terekam utuh dalam memori malam pembendungan air oleh Sangkuriang, membuktikan secara empiris bahwa keberadaan Danau Bandung Purba murni lahir dari rahim kehancuran fisik tubuh Gunung Sunda purba.[1]

4. Rahim Muda Lantai Kaldera: Kemunculan Kompleks Multikawah Tangkubanparahu, Patahan Sesar Lembang, dan Simbol Bunga Jahsi Edelweis

Fase paling muda dari tata waktu kegunungapian Cekungan Bandung diwakili oleh pertumbuhan kerucut aktif Gunung Tangkubanparahu di dasar kaldera purba, termasuk Gunung Puteri di selatannya, sejak sembilan puluh ribu hingga sepuluh ribu tahun silam melintasi transisi zaman Holosen. Kemunculan kerucut-kerucut baru yang saling tumpang tindih dan memanjang di tengah dasar danau yang mengering melahirkan ilusi optik geomorfologi yang teramat sempurna menyerupai sasis lambung perahu besar yang sedang tertelungkup atau nangkub jika ditatap dari poros selatan. Sebagai fase terakhir dari evolusi tektono-vulkanik makro ini, amblesnya kantong magma memicu retakan kerak bumi berskala besar berupa patahan Sesar Lembang bersanding kubah lava Gunung Puteri, di mana titik akhir pelarian gaib Dayang Sumbi secara empiris meninggalkan warisan bertunasnya Bunga Jahsi atau Edelweis Jawa (Anaphalis javanica). Melalui kacamata mitologi geologi (geomythology) modern, kemunculan bunga abdiguna yang mampu bertahan hidup di sela gas belerang kepundan ini bertindak sebagai penanda visual puitis dari generasi manusia purba untuk mendokumentasikan fase berakhirnya bencana aliran lava besar, yang berganti menjadi kestabilan ekologi vegetasi perintis sabuk hulu pascaamblesnya kantong magma purba.

5. Epilog Geowisata: Manifesto Kedaulatan Tata Waktu Geologi, Gerakan Sains Warga, dan Daulat Ekologi NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis menyusuri rantaian kronostratigrafi tata waktu dan tata tempat mulai dari fase tua Bukittunggul, Burangrang, Gunung Sunda, hingga kompleks aktif Tangkubanparahu dan benteng tektonik Gunung Puteri membawa kita pada satu manifesto tertinggi mengenai pentingnya merawat cagar geologi secara konsisten. Jajaran pegunungan dan cekungan patahan aktif yang memahat wajah Lembang ini bukan sekadar panggung cerita rakyat selintas, melainkan pustaka bumi purba bernilai sains tinggi yang hukum tata ruang lindungnya wajib ditegakkan tegap tanpa kompromi. Menolak alih fungsi lahan komersial kapitalistik dan membentengi cagar geologi dari kehancuran apartemen beton pariwisata massal yang malas adalah tindakan bela negara ekologis yang mutlak demi melindungi hajat hidup jutaan jiwa dari ancaman bencana alam. Mengintegrasikan rute geowisata edukasi berbasis sains warga secara digital merupakan langkah taktis untuk membumikan literasi kebencanaan kepada masyarakat agar patuh pada parameter teknis Badan Geologi. Merawat kemurnian sejarah kronologi bumi Pasundan ini adalah janji suci kita bersama demi membentengi hak intelektual bangsa serta menjaga martabat tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!

Ket:

[1] Di luar Danau Bandung Purba bagian Timur dan Bandung Purba bagian Barat yang merupakan temuan baru dalam geologi oleh van Dam, 2004.

#GeowisataNusantara #SeriBS-57 #TataWaktuGeologi #SilsilahBumiPasundan #GunungBukittunggulTua #GunungBurangrangBarat #LetusanGunungSunda #DanauBandungPurba #GunungTangkubanparahu #SesarLembangAktif #GunungPuteriLembang #HilangnyaDayangSumbi #AmblesanKantongMagma #GeomythologySunda #BelaNegaraEkologis #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-57: “Legenda Sangkuriang dan Tata Waktu serta Tata Tempat menurut Geologi (Sekali Lagi tentang Geomythology)”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *