MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (24/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah secara mendalam jalinan kronologis mitologi tutur lokal, tatanan stratigrafi batuan vulkanik purba, korelasi empiris dalam subdisiplin mitologi geologi, dan dekonstruksi struktur sosial atas Legenda Sangkuriang melintasi kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan plot utuh tradisi lisan Sunda mulai dari pelurusan logika silsilah kelahiran hingga hilangnya Dayang Sumbi di Gunung Puteri, rekonstruksi linier fase letusan kegunungapian dari fase tertua Gunung Jayagiri hingga kepundan aktif Tangkubanparahu kini, rincian runutan rekayasa pembuatan perahu yang membidani toponimi Bukittunggul dan Burangrang, identifikasi unsur-unsur kesebangunan peristiwa alam dengan simbol-simbol pusaka cerita rakyat, hingga epilog kebangsaan berupa seruan pemanfaatan khazanah mitologi geologi sebagai instrumen taktis mitigasi bencana kultural demi menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Alur Kosmologi Pusaka Tutur: Silsilah Kemanusiaan, Tragedi Kasta Sudra, dan Pengejaran Terakhir di Puncak Puteri
Membaca secara utuh alur cerita Legenda Sangkuriang menuntut pemahaman kronologis yang runtut serta dekonstruksi sosiokultural yang logis atas ingatan kolektif masyarakat komunal purba Tatar Sunda. Kisah ini berakar dari kelahiran Dayang Sumbi sebagai putri dari pasangan agung Prabu Sungging Perbangkara bersama seorang perempuan rakyat jelata dari pinggiran hutan rimba perawan yang dalam metafora peyoratif istana dijuluki sebagai babi hutan Wayungyang. Dikisahkan bahwa memasuki fase dewasa, Dayang Sumbi melangsungkan pernikahan takdir melintasi jeruji kasta bersama Si Tumang, seorang laki-laki jelata dari golongan masyarakat kelas bawah atau Sudra yang diposisikan secara rendah laksana anjing peliharaan istana, yang kelak melahirkan putra ksatria bertangan sakti bernama Sangkuriang. Tragedi meledak ketika Sangkuriang secara tidak sengaja membunuh ayahnya sendiri dari kelas Sudra tersebut saat berburu, memicu kemarahan Dayang Sumbi yang memukul kepala putranya hingga mengusirnya pergi mengembara. Setelah putaran waktu belasan tahun berlalu, Sangkuriang kembali sebagai pemuda perkasa dan jatuh hati kepada ibunya sendiri yang awet muda, memicu fase persyaratan malam pembendungan Citarum yang berujung pada kegagalan dan amukan Sangkuriang menendang perahu, sebelum akhirnya kisah ditutup oleh keputusasaan Sangkuriang yang mengejar-ngejar Dayang Sumbi hingga sang putri menghilang gaib di balik kabut tebal puncak Gunung Puteri Lembang.
2. Rekaman Fisik Lapisan Bumi: Kronologi Fase Letusan Kuarter dari Kompleks Jayagiri hingga Tangkubanparahu Kini
Di luar wilayah cerita rakyat, sains geologi Kuarter secara menakjubkan berhasil memetakan bahwa perbukitan utara Bandung merupakan teater aktivitas vulkanisme yang membujur linier melintasi kronologi waktu dari fase tua menuju muda. Penelitian geologi struktur tanah membuktikan bahwa era kepemimpinan Prabu Sungging Perbangkara beririsan langsung dengan fase pra-Gunung Sunda, yaitu meriapnya aktivitas purba Gunung Jayagiri, yang kemudian berlanjut pada fase pertumbuhan tubuh kerucut raksasa Gunung Sunda purba yang seirama dengan garis waktu periode pembuangan dan pernikahan terisolasi Dayang Sumbi bersama Si Tumang di lereng gunung. Pascafase pertumbuhan menara api Sunda mencapai titik puncaknya, geodinamika aktif bumi melahirkan rentetan letusan kataklimik kolosal yang meruntuhkan tubuhnya sendiri menjadi kaldera runtuhan raksasa dan memicu patahan tektonik Sesar Lembang. Di dalam rahim kaldera runtuhan raksasa inilah, aktivitas magmatisme baru merayap membangun menara api modern Gunung Tangkubanparahu sejak sembilan puluh ribu tahun lalu, yang evolusi multikawahnya terus bermigrasi dari barat ke timur hingga berakhir pada sepuluh ribu tahun silam melintasi transisi zaman Holosen.
3. Runutan Konstruksi Bahtera Purba: Jejak Penebangan Pohon Poros Timur dan Pembersihan Ranting Poros Barat
Sains mitologi geologi (geomythology) melompat pada tingkat ketelitian ruang yang luar biasa ketika kita membedah runutan puitis dari proyek ambisius pembuatan perahu kayu maharaksasa oleh Sangkuriang. Demi mematuhi tenggat waktu mustahil dari Dayang Sumbi, Sangkuriang mengawali langkahnya dengan menebang sebatang pohon raksasa andalan yang bertumbuh di kawasan perbukitan hulu sebelah timur Lembang. Proses penebangan masif pada sasis batuan vulkanik tua ini menyisakan bagian pangkal atau sisa bawah batang pohon tegar yang membeku menjadi menara hijau Gunung Bukittunggul, sementara serpihan ranting-ranting pohon atau rangrang yang dipotong dan dibersihkan secara lateral dibuang ke arah barat hingga menumpuk membentuk jajaran punggungan bergerigi pejal Gunung Burangrang. Rangkaian mekanis pengerjaan kayu hutan ini memperlihatkan bagaimana sebuah cerita rakyat mampu menjahit dua titik ekstrem bentang alam Bandung Utara yang terpisah puluhan kilometer menjadi satu kesatuan alur rekayasa teknik purba yang terstruktur sangat rapi, menyontek secara linier tata urutan hukum alam umur geologi yang sebenarnya terjadi di atas tanah Pasundan.
4. Siklus Pengeringan dan Aliran Lava Efusif: Unsur-Unsur Mitologi Geologi Lanjutan pada Ilusi Perahu Terbalik dan Bunga Jahsi
Penelusuran unsur mitologi geologi bergerak semakin menakjubkan ketika kita membedah asal-usul toponimi efek visual perahu terbalik (bahasa Sunda: nangkub) bersanding takdir pelarian akhir Dayang Sumbi. Unsur lanjutan ini dikunci oleh muntahan lelehan aliran lava efusif masif dari fase awal kerucut muda Gunung Tangkubanparahu yang mengalir ke selatan menyumbat sektor tengah, membentuk Danau Bandung Timur yang kelak surut secara dramatis akibat bobolnya batuan pejal celah Curug Jompong. Punggungan Tangkubanparahu yang memanjang menyerupai lambung perahu hasil rakitan kayu dari Bukittunggul yang gagal berlayar di atas dasar danau kering tersebut melahirkan ilusi optik geomorfologi yang teramat sempurna jika ditatap dari poros selatan. Sebagai fase penutup evolusi bumi ini, amblesnya kantong magma memicu retakan kerak bumi berupa patahan aktif Sesar Lembang dan kubah lava Gunung Puteri, di mana hilangnya Dayang Sumbi secara gaib meninggalkan bertunasnya Bunga Jahsi atau Edelweis Jawa (Anaphalis javanica). Kemunculan bunga abadi penangkap kabut yang tahan asam belerang ini merupakan penanda visual dari leluhur purba untuk mencatat berakhirnya fase bencana aliran lava besar, yang berganti menjadi fase kestabilan ekologi vegetasi perintis pascahilangnya pasokan magma hulu.
5. Epilog Geowisata: Pemanfaatan Khazanah Kebumian, Gerakan Sains Warga, dan Mitigasi Bencana Berbasis Budaya NKRI
Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis menyusuri rincian mitologi geologi Legenda Sangkuriang membawa kita pada satu kesimpulan etis mengenai pentingnya memanfaatkan khazanah folklore sebagai instrumen taktis mitigasi bencana berbasis budaya. Kompleks cagar alam dan jalur geowisata mulai dari menara sepuh Gunung Bukittunggul di timur, punggungan pejal Burangrang di barat, hingga menara aktif Tangkubanparahu dan benteng tektonik Gunung Puteri tidak boleh dibiarkan mandek sebagai objek rekreasi selintas, melainkan wajib dioptimalkan sebagai laboratorium edukasi publik guna membangun kesiapsiagaan warga menghadapi ancaman gempa bumi Sesar Lembang. Memahami urutan peristiwa geologi di balik mitos lokal adalah cara jenius untuk memantik api literasi sains, mengajarkan masyarakat agar tidak panik secara irasional, melainkan patuh pada petunjuk teknis Badan Geologi. Menegakkan hukum tata ruang wilayah lindung secara ksatria dan merawat kemurnian ruang sejarah purba ini adalah tindakan nyata bela negara ekologis. Mari jaga kelestarian pusaka sastra lingkungan ini demi membentengi martabat tertinggi kedaulatan ilmu pengetahuan Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!
#GeowisataNusantara #SeriBS-56 #GeomythologySangkuriang #SilsilahPenebanganPohon #KastaSudraSiTumang #BabiHutanWayungyang #GunungBukittunggulTimur #GunungBurangrangBarat #GunungJayagiriPurba #GunungTangkubanparahu #DanauBandungBaratTimur #LavaEfusifMuda #KatastropisGunungSunda #BungaJahsiEdelweis #AmblesanKantongMagma #SainsPerahuTerbalik #OmanAbdurahman #SesarLembangAktif

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-56: “Legenda Sangkuriang dalam Pandangan Geomythology”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Parkah












