MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (11/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Gehgeran”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Gehgeran (sering ditulis gégéran atau gegeran) adalah kata dari bahasa Sunda dan Jawa yang berarti suasana heboh, gempar, ribut, atau gaduh karena adanya suatu peristiwa, kabar mengejutkan, atau kepanikan massal. Dalam bahasa Indonesia, kata dasarnya adalah geger (gempar/heboh). Ketika mendapat akhiran -an, maknanya berubah menjadi kondisi atau situasi yang sedang diliputi kegemparan tersebut.

Dua sisi makna gehgeran. Sama seperti istilah saur manuk, kata gehgeran juga memiliki dua konteks penggunaan dalam kehidupan sehari-hari pertama arti fisik/nyata. Suasana ribut atau panik yang terjadi secara tiba-tiba di suatu tempat. Contoh: Warga sekampung gehgeran karena ada isu macan lepas dari kebun binatang, atau ada peristiwa kebakaran.
Kedua, arti sifat/perilaku (Sifat Gehgeran). Sifat seseorang atau sekelompok masyarakat yang mudah panik, gampang kaget, atau terlalu reaktif terhadap suatu kabar (bahkan yang belum tentu benar/hoaks) tanpa mencari tahu faktanya terlebih dahulu.
Kaitan erat antara saur manuk dan gehgeran. Kedua istilah ini bagaikan sebab dan akibat dalam psikologi massa masyarakat kita. Ketika ada isu panas yang membuat masyarakat gehgeran (gempar/panik). Merespons hal tersebut, masyarakat langsung saur manuk (berbicara serentak, berkomentar massal, dan saling bersahut-sahutan tanpa kejelasan substansi)
Orang menjadi gehgeran (mudah panik, reaktif, atau gampang ikut-ikutan heboh) umumnya disebabkan oleh faktor psikologis manusia, pengaruh lingkungan sosial, serta pola penyebaran informasi yang cepat. Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi, namun bisa menjadi tidak sehat jika terjadi secara berlebihan.
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa alasan utama mengapa seseorang atau sekelompok masyarakat memiliki sifat gehgeran: Mulai dari faktor psikologis dan evolusi (Fear of Missing Out dan Insting Bertahan Hidup). Mekanisme Pertahanan Diri. Secara evolusi, otak manusia dirancang untuk cepat merespons ancaman atau hal baru. Ketika ada kabar yang mengejutkan, emosi (terutama rasa takut atau cemas) bekerja lebih cepat daripada logika. Orang langsung bereaksi (gehgeran) demi menyelamatkan diri atau keluarganya. Atau takut tertinggal (FOMO) Ada kecemasan sosial jika tidak ikut membahas atau merespons apa yang sedang ramai. Orang merasa harus ikut “heboh” agar dianggap peduli atau update dengan situasi sekitar.
Selanjutnya, pengaruh psikologi massa (Mob Mentality). Ketika berada dalam suatu kelompok atau komunitas, kesadaran individual seseorang sering kali melebur ke dalam kesadaran kelompok. Jika orang-orang di sekitarnya mulai panik atau membicarakan suatu isu dengan berapi-api, emosi tersebut akan menular dengan sangat cepat (emotional contagion). Akibatnya, seseorang yang tadinya tenang bisa ikut-ikutan gehgeran karena terbawa suasana lingkungan.
Kemudian, rendahnya literasi informasi dan saringan logika. Sifat gehgeran tumbuh subur ketika seseorang menerima sebuah informasi tetapi tidak memiliki kebiasaan atau kemampuan untuk melakukan tabayun (verifikasi). Begitu mendengar kabar yang bombastis terutama yang menyentuh urusan perut (ekonomi), kesehatan, atau keselamatan mereka langsung menelan informasi itu bulat-bulat dan menyebarkannya lagi tanpa memeriksa kebenarannya.
Lalu, dampak algoritma media sosial modern. Di era digital, media sosial dirancang untuk memancing emosi pengguna agar terus berinteraksi. Berita-berita yang sifatnya klikbait, kontroversial, atau menakut-nakuti cenderung disebarkan lebih luas oleh algoritma. Paparan informasi yang konstan dan dramatis ini membuat masyarakat berada dalam kondisi “siaga emosional”, sehingga menjadi sangat gampang gehgeran setiap kali melihat gawai mereka.
Juga, kurangnya rasa aman atau krisis kepercayaan (Distrust). Jika suatu masyarakat sering mengalami ketidakpastian (misalnya perubahan kebijakan yang mendadak, krisis ekonomi, atau sering terpapar hoax), tingkat kecemasan kolektif mereka akan meningkat. Ketika rasa aman itu rendah, sengatan isu kecil saja sudah cukup untuk memicu kegemparan masal.
Untuk “menyembuhkan” atau melatih seseorang agar tidak lagi memiliki sifat gehgeran (mudah panik dan reaktif), kita perlu melatih kesadaran emosional (emotional awareness) dan kemampuan berpikir kritis. Sifat ini bukanlah penyakit medis, melainkan kebiasaan respons psikologis yang bisa diubah secara bertahap.
Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan, baik untuk diri sendiri maupun untuk membantu orang terdekat: Pertama, Terapkan Metode “Saring Sebelum Sharing” (Literasi Digital). Orang yang gehgeran biasanya langsung merespons atau menyebarkan berita begitu membacanya. Latih kebiasaan baru dengan rumus 3S. Stop (Berhenti). Jangan langsung mengeklik tombol share, berkomentar, atau mengambil tindakan fisik saat mendengar kabar heboh. Tahan diri minimal 5–10 menit. Saring (Verifikasi), cari tahu apakah berita tersebut berasal dari sumber terpercaya atau hanya isu instan. Periksa media arus utama (mainstream) atau situs cek fakta. Sini (Tenangkan Diri), tanyakan pada diri sendiri, “Kalau saya ikut heboh, apa manfaatnya bagi saya?”
Kedua, Gunakan Aturan 5 Detik untuk Mengendalikan Emosi. Saat menerima informasi yang mengejutkan (menakutkan atau membuat marah), otak emosional (amigdala) akan membajak logika kita. Caranya, ambil napas dalam-dalam selama 5 detik, embuskan perlahan selama 5 detik. Tujuan, tindakan fisik ini mengirimkan sinyal ke otak bahwa Anda aman, sehingga ketegangan menurun dan otak logis (prefrontal korteks) bisa kembali mengambil alih keputusan.
Ketiga, Diet Informasi (Information Detox). Terlalu banyak mengonsumsi berita negatif atau grup percakapan yang penuh drama (seperti grup WhatsApp keluarga atau linimasa X/Twitter yang toksik) membuat mental seseorang selalu dalam kondisi siaga dan cemas. Caranya, batasi waktu melihat media sosial. Keluar atau senyapkan (mute) grup-grup yang sering menyebarkan rumor tidak jelas. Gantilah dengan konten yang edukatif, menghibur, atau menenangkan.
Keempat, Latih Berpikir Berbasis Data, Bukan Asumsi. Bantu orang yang gehgeran untuk melihat realitas secara objektif. Jika mereka mulai panik karena suatu isu (misalnya isu kelangkaan barang atau kenaikan harga massal). Ajukan pertanyaan reflektif: “Apakah itu sudah pasti terjadi di daerah kita?” atau “Apakah kita sudah melihat buktinya sendiri?”Membiasakan diri melihat data ilmiah atau pernyataan resmi otoritas akan mengikis kebiasaan mengandalkan “katanya” atau testimoni sepihak.
Kelima, Membangun Lingkungan yang Tenang (Circle yang Sehat). Manusia adalah makhluk peniru. Jika lingkungan pertemanan atau keluarga berisi orang-orang yang tenang dan rasional, sifat gehgeran seseorang perlahan akan terkikis karena mereka tidak mendapatkan “bensin” untuk menyalakan kepanikannya. Sebaliknya, jika lingkarannya juga hobi mengobarkan kehebohan, sifat ini akan makin parah. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: “Gehgeran”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












