Elfira Ayu Puspaningrum Jadi Pembicara di Islamic Creativity and Innovation Festival (ICIF), Sarawak – Malaysia

Elfira Ayu Puspaningrum
Elfira ketika presentasi di Islamic Creativity and Innovation Festival, Sarawak, Malaysia (dok. pribadi).

MajmusSunda News – Malaysia, Kamis (27/11/2025) – Elfira Ayu Puspaningrum mengaku sangat bersyukur bisa terpilih sebagai pembicara mewakili Indonesia.
“Alhamdulillah saya merasa senang dan nggak nyangka terpilih menjadi pembicara mewakili Indonesia di kegiatan ‘Islamic Creativity and Innovation Festival (ICIF) 2025’, dalam rangka perayaan 70 tahun Majlis Islam Sarawak yang diadakan Pusat Penerangan Islam / Islamic Information Center, Majelis Islam Sarawak (IIC–MIS) Malaysia, yang berlangsung 15 Agustus 2025 lalu,” kata El (sapaan akrabnya), wajahnya masih berbinar-binar ketika ditemui wartawan belum lama ini di kawasan Gegerkalong, Bandung.

El mengaku, pertama bepergian jauh sendiri memang agak takut dan risi, jangankan ke luar negeri, ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng pun baru pertama kalinya. Apalagi jadi pembicara di negeri jiran, gugup dan minder. Maklum, ia hanya seorang mahasiswa semester 7. El memang sekarang kuliah di Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD–UPI) Bandung, sementara pembicara lainnya ada seorang profesor (Prof. Madya Dr. Nor Azlin binti Hamidon, Pensyarah Fakulti Seni Lukis dan Seni Reka UiTM Puncak Alam) dan doktor (Dr. Abd Rahman bin Hamzah, Akademi Tamadun Islam, Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan UTM Skudai) yang membahas lebih ke teori dan isu-isu tentang etika dan seni Islam, lebih paham agama dan ilmunya sudah tinggi.

Elfira Ayu Puspaningrum
(Dok. Pribadi)

“Sedangkan saya membahas ‘Etika dan Seni Islam (Ethics & Purpose in Islamic Arts)’ dan memasukkan 4 karya dalam presentasi, 2 kaligrafi, drawing, dan painting. Tapi Alhamdulillah, setelah presentasi saya mendapat apresiasi dari pemandu kegiatan dan pengunjung festival. Orang-orang Sarawak pun pada senang dan menyarankan di kegiatan selanjutnya menampilkan karya-karya (memang saya agak kesulitan teknis membawa karya saya ke sana). Saya pun merasa senang, bangga, serta bersyukur,” kata Elfira Ayu Puspaningrum.

Selain itu, El juga jadi tambah wawasannya dan bisa berbagi informasi serta pengalaman, dan banyak menimba ilmu di sana. Apalagi yang dibahasnya ‘Etika dan Seni Islam’ secara luas, hingga ke budaya masing-masing yang berbeda dan beragam, tapi intinya satu:
“Kita berkarya karena Allah mencintai keindahan, makanya kita pun harus mencintai keindahan, karena itulah kewajiban seorang muslim. Kita harus lebih rapi dan indah. Jadi kita menciptakan kaligrafi juga motif-motif ornamen dipadukan dengan niat yang baik dan tulus, karena Allah mencintai keindahan,” jelas El.

Dalam presentasinya tentang seni dan etika Islam, Elfira membahas bagaimana proses berkarya yang harus dimulai dari niat dulu, tujuan seni Islam yang diperuntukkan untuk Allah dan menciptakan berbagai kebaikan dibalas kebaikan. Jadi menurutnya perbedaan antara seni Islam dan seni lainnya, seni Islam ada batasannya. Misalnya dalam Islam itu tidak boleh memasukkan unsur pornografi, SARA, dan keburukan lainnya. Itu harus dihindari. Kita menjadikan seni sebagai media, alat, untuk berbagai manfaat,” tegasnya.

Di acara ini Elfira juga menyampaikan bahwa sebagai mahasiswa yang masih belajar, dirinya akan terus menggali ilmu secara konsisten, karena ilmu itu luas dan belajar itu tak ada batasannya. Dari kecil sampai tua pun kita harus belajar terus, tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Tentu saja prestasi Elfira Ayu Puspaningrum ini sangat membanggakan keluarganya.
“Alhamdulillah, El ini beruntung. Dia masih mahasiswa tapi sudah dihargai di lintas negara. Ia berkesempatan presentasi bersama profesor dan doktor kampus di Sarawak. Jadi menurut saya ini jadi pembelajaran dan pengalaman El, dan yang lebih mengharukan sekaligus membanggakan, El di sana dipandang tidak sebagai tamu pelajar/mahasiswa, tapi sebagai perwakilan dari negara kita. Itu terbukti dari segala fasilitas yang ia dapatkan selama di sana, semuanya dilayani dengan baik, termasuk penginapan, hotelnya juga kelas the best,” demikian kata Warli Haryana, ayahanda Elfira.

Elfira Ayu Puspaningrum
Membahas etika dan seni Islam, di layar tampak kaligrafi karya Elfira (dok. pribadi).

Semua info itu Warli dapatkan dari beberapa kawannya yang asli orang sana, mantan vice rektor UiTM Malaysia bidang kemahasiswaan, dan dari salah satu cikgu (guru) asli dari Kota Kuching, Sarawak.
“Ya, bagi saya sebagai orang tuanya turut support dan ikut bangga. Tadinya saya dengan istri akan turut mendampingi, tapi nggak jadi karena pas hari Jumat ada persiapan saya mengejar sidang doktor, jadi El berangkat sendiri. Ini petualangan luar biasa untuk mahasiswa yang pertama kalinya ke luar negeri. Ke Jakarta pun ia belum pernah,” kata Warli haru.
“Prestasi El juga tentu saja membanggakan kampus UPI, jadi saya sebagai orang tua turut bangga karena putri kami diberikan kesempatan untuk bisa mencari pengalaman di mancanegara,” imbuhnya.

Riwayat Elfira bisa jadi pembicara di kancah internasional bermula dari pengumuman Islamic Information Center (IIC) Sarawak, Malaysia.
Informasi awal ini diterima Elfira dari Prof. Madya Dr. Badrul Isa, Penolong Naib Canselor (Keusahawanan) MASMED UiTM, yang menawarkan peluang jadi pemateri dengan topik Estetika dan Seni Islam di IIC Sarawak. Setelah El merespons dengan mengirim portofolio serta CV,
“Alhamdulillah, beberapa hari kemudian lewat email ada tawaran untuk jadi pemateri di forum tersebut,” kata El.

Persyaratannya agar bisa lolos seleksi tentu saja harus jago bahasa Inggris dan diminta contoh karya. Kebetulan El sebelumnya sempat beberapa kali jadi juara nasional desain poster, mungkin itu yang membuat mereka tertarik dan menawari El, kata Warli.

Elfira bakat seninya memang menonjol. Ia pandai menggambar realis, wajah/potret, dan melukis wayang. El pun bisa bermain harmonika dan gitar. Darah seninya mengalir dari ayahnya yang praktisi seni rupa sekaligus dosen di Program Studi Pendidikan Seni Rupa, FPSD–UPI Bandung, Dr. Warli Haryana.

Ketika kelas XI MIPA 3 di SMAN 19 Bandung, di masa pandemi Covid-19, ia tetap berprestasi dan berhasil memanfaatkan teknologi digital untuk kegiatan positif, dan sudah beberapa kali menjadi juara lomba poster.

Pada Maret 2021, ia berhasil meraih Juara 2 Lomba Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) kategori Poster tingkat SMA yang diadakan Gojek (Sahabat Sekolah 3.0) dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Elfira mengusung judul “Kurangi Sampah Itu Mudah.”

Elfira Ayu Puspaningrum
Elfira (kedua dari kiri) di antara para pembicara lainnya (dok. pribadi).

Di posternya, Elfira ingin menyampaikan kepada publik bahwa mengurangi sampah itu mudah, asal kita mau dan peduli terhadap kesehatan dan lingkungan hidup. Ia menggambarkan seorang laki-laki memakai busana tradisional pangsi dengan iket Sunda duduk di meja makan dengan membawa bekal nasi dalam misting dan minuman dalam kempis (tumbler), sementara di samping kirinya berdiri seorang perempuan yang membawa minuman dalam kemasan gelas. Sebuah pesan untuk teman-teman milenial dan masyarakat umum, bahwa cara mengurangi sampah bisa dimulai dari diri sendiri: ke mana-mana membawa misting, tumbler, dan tas belanja, bukan membeli air kemasan dan kantong plastik.

Sebelumnya, El juga berhasil menjadi Juara 1 Lomba Desain Poster kategori SMA/SMK sederajat bertema “Corona Effect for Industry 4.0” tingkat Kota Bandung yang diselenggarakan Forum Komunikasi Siswa Kota Bandung (2020), serta Juara 1 Lomba Desain Poster Nasional SMA/SMK sederajat bertema “Akuntansi Perpajakan di Era Industri 4.0” yang diselenggarakan Universitas Kristen Petra (31/5/2020).

Judul: Elfira Ayu Puspaningrum Jadi Pembicara di Islamic Creativity and Innovation Festival (ICIF), Sarawak – Malaysia
Jurnalis: Asep GP
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *