MajmusSunda News, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin, (20/1/2025)-Wacana pembukaan kembali bandara Husein Sastranegara yang digagas Walikota Bandung terpilih Farhan terbelah ada yang mendukung dan ada juga yang menolak
DPRD Kota Bandung menyatakan persetujuannya soal wacana itu, sementara DPRD Jawa Barat menolak keras ide tersebut.
Ketua DPRD Kota Bandung Asep Mulyadi menganggap aktifnya Bandara Husein dapat memajukan perekonomian Kota Bandung ke depan. Bahkan dia menyebut, wacana itu jadi harapan mayoritas warga Bandung dan sekitarnya.
“Satu hal yang jadi harapan banyak warga agar ekonomi Kota Bandung semakin terbuka, terkait aktivasi kembali Bandara Husein. Saya pikir itu penting harus jadi prioritas agar (Farhan) komunikasi dengan pusat,” kata Asep, kepada awak media Jumat (10/1/2024).
“Saya mendengar suara lapisan masyarakat Kota Bandung yang berharap betul, karena memang Kertajati ini satu jam perjalanan (dari Bandung). Persepsi publik itu lumayan ya melelahkan,” kata Asep.
Hanya saja, di sisi lain, DPRD Jawa Barat memiliki pandangan berbeda. Wakil Ketua DPRD Jabar, Ono Surono menegaskan bahwa wacana reaktivasi Husein Sastranegara bertentangan dengan kebijakan Pemprov Jabar yang sedang berupaya menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat penerbangan utama di Jawa Barat.
“Saya paling tidak setuju bila Bandara Husein Sastranegara dibuka kembali. Kita ingat pemerintah punya kebijakan strategis, yang salah satunya adalah Bandara Kertajati dan merupakan proyek strategis nasional,” ujar Ono, dalam keterangan tertulis, Kamis (16/1204).
Ono menegaskan Bandara Kertajati, yang menelan biaya hingga Rp 5,4 triliun, harus menjadi prioritas. Apalagi, keberadaan Tol Cisumdawu kini mempermudah akses dari Bandung ke Kertajati dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Fasilitas yang tersedia di bandara ini juga sudah sangat memadai.
“Jadi lebih baik pemerintah memaksimalkan Bandara Kertajati yang merupakan bandaranya rakyat Jawa Barat. Apalagi kita sudah mempunyai akses Tol Cisumdawu yang hanya satu jam perjalanan dari Kota Bandung. Bandara Kertajati juga memiliki berbagai macam fasilitas yang sudah layak,” tuturnya.
Perdebatan yang muncul akibat wacana reaktivasi Bandara Husein tersebut akhirnya membuat Farhan dan Bey duduk bersama. Keduanya bertemu di Gedung Sate pada Kamis (16/1/2024).
Pada pertemuan itu, Farhan tetap kekeuh mendorong pengaktifan kembali Husein Sastranegara. Hal itu didasari tingginya minat pasar terhadap bandara tersebut, yang tercermin dari volume penerbangan dalam negeri menuju Kota Bandung.
“Hal yang menarik itu, rute Medan-Bandung ada di urutan kedua tertinggi di Bandara Husein setelah Bali. 20 persen penumpang Husein terakhir itu dari Medan, ada pebisnis dan mahasiswa,” ungkap Farhan.
Farhan mengaku bahwa warga Kota Bandung telah menanti pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara. Selama ini, dia mengatakan, warga lebih memilih terbang dari Bandara Halim Perdanakusumah dibandingkan harus menempuh perjalanan ke Kertajati.
“Warga Bandung ingin (Bandara Husein) segera diaktifkan kembali. Karena selama ini kan, saat Husein dialihkan jadwalnya ke Kertajati, ternyata lebih banyak yang milih ke Halim,” kata Farhan.
“Artinya kita saling memberikan pekerjaan rumah kepada pemerintah provinsi dan pusat, agar segera menentukan cara. Bagaimana caranya agar membuat Kertajati ramai, dan selama menunggu hal itu, bandara Husien dibuka saja,” lanjutnya.
Namun pernyataan Farhan mendapat respon negatif dari Bey Machmudin. Menurut Bey, Bandara Kertajati tetap memerlukan traffic penerbangan.
“Enggak begitu juga, itu (pembagian rute) kan keinginan bapak (Farhan). Kita jadinya debat terus ini,” ungkap Bey sembari tertawa.
Kendati begitu, Bey tidak memungkiri kemungkinan kedua bandara tersebut aktif berdampingan tetap bisa diupayakan. Salah satunya dengan tetap mengoperasikan Bandara Kertajati untuk pemberangkatan haji.
“Haji dan umroh juga kan sudah di Kertajati. Haji 2025 sudah ditetapkan dari Kertajati. Untuk kargo juga bisa, sekarang sudah ada dari Australia untuk pengiriman kargo. Kalau Husien aktif harus sudah ada solusi untuk Kertajati. Sifatnya komplementari, bukan bersaing,” pungkasnya.
Judul: Dukungan dan Penolakan Dibukanya Kembali Bandara Husein Sastranegara
Jurnalis: Agung Ilham Setiadi
Editor: AIS












